Curahan Hati Seorang Freelancer yang Tak Punya Jam Kerja Tetap dan Kerap Dikira Pengangguran

curahan hati freelancer

Pernah bertandang ke rumah kekasih, lalu bertemu ayahnya. Saat ditanya pekerjaan. Dengan bangga aku mengatakan sebagai seorang Desainer Grafis. Bapaknya diam. Berpikir. Tanpa diminta aku menjelaskan tentang pekerjaanku. Lalu bapaknya bersuara, “Oh tukang gambar”  dengan muka  yang menjengkelkan. Aku membatin, profesi saya nggak semudah itu om! 

Bukan sekali aku mengalami hal yang serupa. Dan pengalaman ini nyatanya juga pernah dialami oleh “hampir” semua teman freelancer yang dianggap pengganguran karena nggak punya kantor. Padahal untuk menjadi seorang freelancer dengan jam terbang yang padat itu harus ditempuh dengan  usaha keras  pantang mengeluh dan mental baja.

Advertisement

1. Menjadi seorang freelancer kami dituntut untuk punya komitmen, konsisten dan persisten

Photo on Pixabay by FirmBee

Photo on Pixabay by FirmBee via https://pixabay.com

Kami diharuskan bertanggungjawab atas apa yang ‘ditawarkan’ , tidak mudah goyah tetap teguh pada target yang akan dicapai  dan  ‘tahan banting’ dalam mewujudkan target tersebut.

2. Seorang freelancer harus punya ‘skill’ dan menguasai bidang keahliannya . Sebab gaji akan menyesuaikan dengan skill yang dipunya

Photo on Pixabay by FirmBee

Photo on Pixabay by FirmBee via https://pixabay.com

Yupz. Semakin seseorang tersebut pro dalam bidangnya. Makin besar pula minat pasar pada jasa yang ditawarkan. Semakin bagus hasil kerjanya makin besar pula fee yang didapatkan. Bukan semata untuk mendapat pengakuan orang lain, yang bikin hidup nggak bahagia ya.

Advertisement

Bertahan dalam ‘dunia lepas’ kami dituntut untuk selalu meng-upgrade kemampuan yang dimiliki.

3. Harus proaktif alias nggak malas

Photo on Pixabay by Ovan

Photo on Pixabay by Ovan via https://www.pexels.com

Rasa malas adalah pembunuh berdarah dingin bagi pekerja lepas. Sederhananya. Jika freelancer ngga proaktif, nggak rajin, malas-malasan. Kamu nggak ada pendapatan. Simple bukan?

4. Siap untuk menghadapi segala risiko

Advertisement
Photo on Pexel by rawpixel.com

Photo on Pexel by rawpixel.com via https://www.pexels.com

Menurut Kurniawan Gunadi, “ketidakpastian” penghasilan adalah alasan kebanyakan orang nggak berani atau ragu-ragu memilih menjadi freelancer. Karena memang begitulah risikonya, kalau kamu nggak berani pilih saja pekerjaan yang menawarkan gaji tetap.

Nggak semua orang suka tantangan, jika kamu nggak punya nyali, nggak cukup amunisi untuk terjun dalam’ ketidakpastian’. Lebih baik pilih jalan yang sesuai dengan kemampuanmu. Tak perlu memaksa diri.

5. Menjadi freelancer yang telah memiliki nama, bukan didapat secara instan

Photo on Pexel by rawpixel.com

Photo on Pexel by rawpixel.com via https://www.pexels.com

Menjadi freelancer itu tidak mudah. Bukan karena jam kerja kami yang suka-suka lantas kami berleha-leha.

OH BIG NO! Jangan meremehkan pekerjaan kami. Menjadi freelancer yang sukses kami tidak hanya bermodal skill atau keahlian namun juga dituntut untuk memperluas jaringan dan komunikasi. Membangun hubungan dengan banyak orang dan siap dengan risiko penolakan.

Menjadi seorang freelancer ditujukan pada mereka yang mau menghargai proses . Siap menerima kegagalan dan mau bangkit untuk memulai kembali. Tidak semua orang harus jadi freelancer kok.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penyuka Arunika - Penikmat Swastamita

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE