Harapan-harapan tentang masa depan bersamamu (hampir bisa) terhapuskan. Terdengar seperti keputusasaan bukan? 

Ketika aku pernah begitu mendamba menjadi separuh dari jiwa yang kau cari-cari tapi ternyata ketika bersama pun kau tak lantas berhenti mencari. Lalu aku menjadi begitu naif terhadap diriku sendiri, percaya akan ada masa dimana kau akan berhenti, karena ku. Tapi yang datang justru keputusasaan, ketika aku menghadapi kenyataan bahwa kau masih enggan menepi, untukku. Aku remuk, hampir redam kala itu.

 

1. Bijaknya, ku anggap kita bukan ‘sepasang’ yang Tuhan ciptakan

kita bukan ‘sepasang’ via https://www.google.co.id

Terkadang masih sempat aku ingin berada pada saat di mana kau menjadi sekeras dahulu untuk tetap bertahan denganku, menolak berpisah dan meluluhkan keputusanku yang semacam ini. Kali ini kau pun begitu, tapi rasanya memang tak sekeras dulu, apa memang rasamu tak sekuat dahulu? Selepas berhenti mendambamu, kekuatan untuk bangkit adalah menerima bahwa mungkin kita memang bukan sejoli yang diciptakan Tuhan untuk menjadi sejiwa. Maka sekuat hati aku harus menerimanya, semoga kau pun juga.

2. Kau memang bersalah, tapi aku pun juga

mari saling memaafkan via https://www.google.co.id

Aku sudah sangat terbiasa dengan sakit semacam ini, lalu sembuh sendiri. Kali ini aku hanya ingin berhenti, bukannya aku tak sanggup lagi, tapi enggan membuat hatiku mati. Maka aku mencoba menerima semua, sebagai obat penenang jiwa.

Advertisement

Kau memang bersalah mempersilahkan tamu yang datang ke 'rumah' kita untuk tinggal dan rebah di bilik yang harusnya hanya untuk kau dan aku, tapi aku bukan kah aku juga sama bersalahnya?

Aku bersalah ketika membiarkanmu menjamu tamumu begitu mesra, membiarkanmu meramu candu untuk mereka juga. Membiarkanmu menikmati setiap masa yang kau habiskan tanpa aku sebagai wanitamu, dan membiarkan dia menggantikan posisiku saat aku jauh dari pandangmu. Tapi aku membiarkanmu karena aku tak tahu, bukankah memang aku bersalah ?

Maka terimalah maafku sebagai dasar pengampunan untuk ku dari Tuhanku

3. Aku tidak meminta keburukan untukmu, tapi maaf, rasanya mendoakan kebahagiaanmu aku belum mampu

Aku hanya berhenti menyebutmu sebagai bagian penting dalam setiap doaku kepada Sang Maha sekarang, bukan tidak sama sekali, tapi mungkin tidak akan sesering dulu, tidak akan seintim dulu. Aku lebur dalam kesedihan, maka maklum lah sejenak saja. Tidak ada perasaan membenci, hanya saja terkadang perasaan ingin berontak terhadap keputusan menjadi sebaik mungkin terdadapmu datang begitu saja. Jadi mohon maklumlah.

Aku tidak akan memohon hal buruk terjadi padamu, tapi maafkan aku yang masih belum mampu memohon untuk kebahagiaanmu. Untuk semua yang terjadi, setelah dialog panjangku (tentangmu) bersama Tuhan, terserah Dia akan melakukan apa kepadamu.

4. Aku (mencoba) sepenuh hati memaafkanmu, jadi maafkanlah aku

Untuk semua yang terjadi, pada akhirnya memang kita hanya harus menerima, menjalani semua sebagai bagian dari takdir yang Tuhan berikan, dan menjadi pemain terbaik atas semua yang telah tertulis. Membenci pun hanya akan menjadi akar yang menumbuhkan penyakit menjalar pada hati. Dan aku tidak akan jadi salah satu raga yang hatinya dijalari penyakit semacam itu. Aku memaafkanmu. Untuk semua yang telah aku lakukan selama menjadi wanitamu, aku meminta maafmu

5. Terimakasih telah mendewasakan

terimakasih… via https://www.google.co.id

Aku berhenti memohon dirimu kepada Sang Maha, aku berhenti merangkai khayalan masa depan bersama.

Terimakasih, kau akan sangat terkenang dihatiku sebagai seseorang yang memberi banyak hal termasuk kedewasaan. Berjalan mengiringimu membuatku menjadi sangat bijak melihat masalah dan menjadi sangat dewasa untuk bisa mengalah. Berjalan bersamamu membuatku lebih dewasa melihat realita, bahwa hidup begitu lengkap dengan segala problematikanya.

Terimakasih, karenamu aku menjadi semakin dewasa.