Hal-hal berikut membuatmu berpikir tugas kelompok adalah jenis tugas paling susah diantara tugas lainnya. Bukan hanya menyangkut penilaian dosen, melainkan karena tugas tersebut juga menjadi ujian kesabaran yang disuguhkan Tuhan kepadamu.

 

1. Biar pun kamu mengaku nggak suka pilih-pilih teman kelompok, sebenarnya kamu punya daftar teman yang nggak pernah kamu harapkan untuk jadi teman sekelompokmu.

Sejujurnya kamu nggak suka jika temanmu suka pilih-pilih teman kelompok. Namun, jauh di dalam lubuk hatimu, kamu pun sebenarnya punya daftar nama yang nggak kamu inginkan untuk sekelompok. Hayo ngaku, kamu pasti sering berpikir nggak mau sekelompok dengan temanmu yang suka tidur di kelas. Malas ngerjain tugas, atau yang kebiasaannya hutang kalau dimintai iuran. Jika kamu sekelompok dengan teman ‘tak diinginkan’ ini, kamu akan berpikir, “betapa buntungnya nasibku hari ini?”

2. Bagimu tidak ada kata adil dalam pembagian tugas kelompok. Ada yang bagian observasi ke lapangan selama berhari-hari, tapi ada yang cuma kebagian ngetik selama dua jam

kampus Holic

kampus Holic via http://1.bp.blogspot.com

Kamu juga sering bingung bagaimana cara membagi tugas kelompok secara adil. Karena penilaian berdasar pada teamwork, mau nggak mau kamu pun membagi tugas ke semua nggota kelompok. Asalkan semua dapat tugas, beres! Begitulah pikiranmu. Namun, tanpa disadari tugas yang kamu bagi ternyata tidak seimbang: ada yang berhari-hari observasi, eh ada juga yang cuma kebagian ngetik selama dua jam. Alhasil, kamu pun mulai membenci tugas kelompok.

3. Belum lagi, kalau ada teman sekelompok yang sukanya bayar iuran tanpa nyumbang kerja. Dikiranya semua dapat dibeli dengan uang!

Kebiasaan buruk teman kelompok yang malas kerja adalah ngandelin uang mama-papanya. Begitu tugas mau dikumpulkan, dengan entengnya dia tanya: Iuran berapa? Nih, aku bayar semua deh, kembaliannya ambil aja. Makasih ya! Awalnya kamu ambil aja uang itu—saking butuhnya buat beli makan. Eh dia malah keterusan. Ini tidak bisa dibiarkan! Kerja keras temanmu buat menyelesaiakn tugas bukan perkara lima ribu atau sepuluh ribu. Waktu, tenaga, dan pikiran dikurasnya habis untuk merampungkan tugas tersebut. Jadi, hargailah mereka. Ikutlah bekerja, oke?

4. Tapi, kalau kamu sekelompok dengan mereka yang bertipe perfeksionis , siap-siap hasil kerjamu dituntut perfect sesuai keinginannya. Kalau nggak gitu hasil kerjamu akan dibuang sia-sia. Alhasil, kamu cuma dijadikan kacung yang dikasih tugas remeh temeh: kalau nggak disuruh nge-print ya fotokopi.

Kamu sudah berusaha rajin, ngumpulkan tugas sesuai yang dibagi ketua kelompok, eh malah dibuang gitu aja. Bagaimana nggak jengkel? Hello, buat kamu yang hobi ngerjain sesuatu secara total dan perfect, hal yang perlu kamu sadari adalah: kemampuan setiap orang berbeda-beda, hargailah kerja mereka. Kalau pun kurang memuaskan, berilah penjelasan yang baik hingga dia mengerti. Esensi tugas kelompok adalah belajar bareng, bukan membuktikan siapa paling pintar lalu berhak menyuruh ini dan itu

5. Cobaan paling menyebalkan adalah ketika sekelompok dengan tukang PHP. Dia udah janji mau ngerjain, eh waktunya pengumpulan malah nggak bisa dihubungi

Pemberi harapan palsu (PHP) nggak cuma ada dalam hubungan percintaan. Dalam kasus tugas kelompok, tukang PHP lebih menyebalkan lagi. Semestinya kamu menyadari, tugas kelompok bukan hanya kepentinganmu saja, tapi juga menyangkut nasib teman sekelompokmu. Kamu boleh saja malas bekerja, akui saja, tak perlu membual atau mengobral janji. Kalau kamu jujur dari awal, tidak ada yang akan menggantungkan harapan padamu. Urusan nilai toh akan jadi urusanmu sendiri. 

6. Sistem penilaian kerja kelompok pun mulai kamu ragukan. Dia yang nggak ikut kerja, kenapa nilainya lebih bagus?

Mempertanyaakan hak dosen terkait penilaian tugas memang kurang etis. Namun, naluri manusia yang tidak pernah puas tentu akan menganggap hal ini wajar. Apalagi kalau ada perbedaan nilai antar-angggota kelompok yang sama. Memang sih, nilai yang didapat adalah rata-rata dari total nilai penugasan yang lain, tapi bagaimana jika ternyata dia yang nggak pernah ikut kerja kelompok malah dapat nilai lebih bagus? Wahai Bapak/Ibu dosen, kami butuh transparansi penilaian tugas kelompok. Maaf kalau lancang mengucapkan hal ini. Hanya saja kami bingung mengurus teman sekelompok yang enggan bekerja, namun tetap beruntung mendapat nilai bagus.

7. Memang sih, kuliah nggak melulu cari nilai, tapi kalau tiap hari menghadapi teman sekelompok yang tidak tahu diri, kesabaran pun seperti ada batasnya.

Kadang kami menghibur diri, toh kuliah bukanlah urusan mencari nilai. Percuma nilai mereka bagus, tapi ketika ditanya nggak bisa menjelaskan. Namun, terus-terusan menghibur diri semacam itu membuat kami bosan. Kami mulai menyadari, tugas kelompok bukan sekadar menguji teamwork, namun yang terpenting bagaimana kita mengontrol ego, cara memperlakukan orang lain, dan yang pasti pelajaran berharga untuk melatih kesabaran.

8. Bukannya ambisius, tapi hanya mengingatkan bahwa tugas kelompok adalah tanggung jawab bersama

Zainurhanif.com

Zainurhanif.com via http://1.bp.blogspot.com

Tulisan ini sekaan-akan menentang sikap malas yang notabene seringkali menyerang para pelajar dan mahasiswa. Bukannya sok rajin, ambisius, atau merasa paling benar, hanya saja saling mengingatkan: bahwa tugas kelompok adalah tugas bersama. Kamu memang berhak bersikap malas, tapi temanmu juga punya hak mendapati tugas kelompoknya rampung tanpa beban. Kamu berkewajiban tidak boleh menyepelekan tugas kelompok, sebab tugas tersebut adalah tanggung jawab bersama. 

Apapun suka duka kerja kelompok, tidak bisa dipungkiri justru dari tugas inilah kamu belajar arti kesabaran dan menghargai teman. Plus, kamu dapat bonus pelajaran tentang teamwork yang akan membantumu memasuki dunia kerja. So, hadapilah tugas kelompok dengan semangat dan tanpa penyesalan apapun. Siapa pun kelompoknya, asal berada di tanganmu, tugas apapun pasti rampung dengan baik. Setidaknya mulailah berpikir demikian!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya