Upaya kudeta yang dilakukan oleh militer Turki harus menemui jalan buntu dan berakhir dengan penangkapan sejumlah besar tentara dan petinggi militer. Terlebih lagi ini adalah kegagalan kudeta militer pertama sejak tahun 1960, dimana pada beberapa kesempatan sebelumnya, kudeta militer di Turki selalu berhasil. Hal ini menjadi cukup mengejutkan karena di dunia modern dimana militer memiliki kekuatan yang sangat signifkan pada kesempatan ini harus tunduk kepada pemerintahan sipil. Bertolak belakang dengan kudeta militer yang terjadi di Mesir maupun Thailand, dimana militer berhasil mengambil alih pemerintahan. Menarik mengetahui apa yang menjadi sebab gagalnya kudeta militer di negara yang terbentang dari benua Asia hingga Eropa ini.

1. Kuatnya Supremasi Sipil di Turki

Supremasi Sipil di Turki via http://ndtv.com

Diakui atau tidak, berkaca dari hasil percobaan kudeta yang dilakukan oleh militer di Turki, menunjukan bahwa Erdogan telah berhasil menciptakan suatu kondisi masyarakat sipil yang kuat di dalam negerinya. Hal ini ditunjukan dengan berhasilnya kontra kudeta yang dilakukan oleh masyarakat sipil kepada kelompok militer yang mencoba mengambil alih pemerintahan.

Hal ini menjadi sebuah pencapaian yang sangat luar biasa bagi pemerintahan Erdogan, karena di tengah perlombaan senjata dan isu keamanan di negara-negara maju, yang artinya militer memiliki peranan yang sangat besar di dalamnya, Erdogan justru berhasil membawa Turki menjadi negara yang benar-benar menghayati maksud dari demokrasi itu sendiri. Tidak banyak negara yang berhasil membangun masyarakat sipilnya benar-benar menyadari hak dan kewajibannya dalam kehidupan bernegara. Pada kesempatan lain yang terjadi di Mesir misalnya, militer berhasil melakukan kudeta, Thailand, hampir setiap kudeta militer yang dilakukan di Thailand pasti berhasil.

Pada banyak negara lain, banyak pemerintahan justru gagal membentuk dan mendidik masyarakatnya untuk memahami makna demokrasi secara utuh. Pada negara berkembang, pada umumnya pemerintah malah meletakan demokrasi dengan perwujudan pemilu yang dilakukan sekali dalam 4, 5 atau 6 tahun. Berbeda dengan Turki, masyarakatnya menyadari betul makna dari demokrasi itu sendiri, sehingga jutaan rakyat yang tidak bersenjata turun ke jalan untuk berhadapan dengan tank-tank militer. Mereka menyadari bahwa Turki adalah milik mereka, bukan milik pemerintahan semata, apalagi milik sekelompok milliter.

Advertisement

Selain itu keberhasilan Erdogan dalam meningkatkan perekonomian Turki menjadi salah satu alasan rakyat jelas menolak untuk merusak suatu keadaan yang sudah cukup baik. Berhasilnya Turki menjadi anggota G20, secara tidak langsung telah menunjukan Turki sebagai sebuah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, setelah sebelumnya dianggap sebagai negara sakit. Maysrakat sipil jelas menolak sebuah keadaan yang sudah sangat settle untuk diambil alih secara paksa oleh sekelompok militer yang belum jelas apa visi dan misinya terhadap Turki secara keseluruhan.

2. Posisi Turki di Dunia Internasional

Antalya G20 via http://horseedmedia.net

Sebagai negara dengan kekuatan militer ketiga di NATO, posisi Turki secara kemiliteran dan pengamanan kawasan jelas tidak bisa dipandang remeh. Bahkan negara adidaya sebesar AS pun juga kerap menggantungkan harapannya kepada Turki terkait keamanan kawasan di perbatasan Eropa. Hal ini juga tidak terlepas dari keberhasilan Turki meningkatkan perekonomian mereka yang kemudian berujung kepada kemampuan mereka dalam meningkatkan Alutsista kemiliteran mereka.

Tidak hanya dalam hal kemiliteran, fakta yang memperlihatkan bahwa Turki adalah satu dari 20 negara dengan tingkat perekonomian tertinggi di dunia yang tergabung dalam negara G20 juga merupakan sebuah sinyalemen Turki yang ada saat ini bukanlah the sick man in Europe lagi melainkan sudah bertransformasi menjadi The Big Man in Europe. Tingkat perekonomian yang meningkat setiap tahun sudah tentu mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit bagi Turki. Selain itu, Turki akhirnya bergabung dengan negara-negara besar seperti Rusia, AS, China, Inggris dan negara besar lainnya. Keanggotaan di organisasi-organisasi internasional tersebut menjadikan Turki memiliki hubungan bilateral yang khusus terhadap negara-negara besar dan berpengaruh di dunia tersebut. Hampir seluruh pemimpin negara maju menyatakan mengutuk aksi percobaan kudeta yang dilakukan oleh sekelompok milter dan menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan Erdogan (termasuk Indonesia).

Dengan kondisi tersebut, pihak pro kudeta telah mengambil langkah yang salah dan akhirnya terpaksa menyerah. Setiap percobaan kudeta, dukungan pihak internasional sangatlah penting. Hal ini ditunjukan dengan percobaan kudeta terhadap Bung Karno, kudeta terhadap Morsi di Mesir dan juga Thailand. Dengan adanya dukungan internasional, maka kudeta yang dilakukan akan sesegeranya mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Dalam kasus percobaan kudeta di Turki, pihak pro kudeta gagal mendapatkan ini.

3. Kedewasaan Politik Dalam Negeri Turki

Pemilu Turki via http://pikiran-rakyat.com

Seharusnya partai oposisi di Turki bisa memandang percobaan kudeta terhadap pemerintahan saat ini adalah sebuah peluang yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Jika memilih bersatu dan mendukung kudeta militer ini, bukan tidak mungkin pihak oposisi akan mendapatkan beberapa keuntungan tertentu (dengan catatan kudeta berhasil), namun sebaliknya, pihak oposisi pun yang jelas-jelas berseberangan dengan pihak pemerintah turut mengutuk aksi kudeta tersebut. Hal ini membuat saya memberikan pandangan bahwa negara ini sudah sangat dewasa dalam berpolitik, dimana partai politik tidak lagi hanya memandang keuntungan yang akan mereka peroleh, namun memang memandang kepentingan bangsa di atas kepentingan partai dan golongan.

Tidak adanya dukungan termasuk dari pihak oposisi sekalipun telah menjadikan kudeta yang dilakukan oleh sekelompok kecil militer menjadi pincang, karena mereka berjalan sendiri dan menjadi sangat rawan untuk ditumpas (kenyataannya kudeta berhasil digagalkan dalam 5 jam).

Pernyataan yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh partai oposisi yang mengecam kudeta, menunjukan bahwa walaupun mereka bukanlah pihak yang memerintah saat ini, dan bisa saja mendapatkan porsi pemerintahan jika mendukung kudeta militer, kudeta militer bukanlah cara-cara yang patut untuk dipakai di negara Turki saat ini. Mereka memutuskan untuk berusaha meraih kursi pemerintahan melalui pesta demokrasi yang digelar sesuai dengan kontitusi mereka.

4. Kepercayaan Diri Erdogan

Reccep Tayib Erdogan via http://turkishspirit.org

Sebagai seorang Presiden yang tengah menghadapi upaya kudeta, Erdogan bersikap cukup tenang dan tidak kehilangan akal. Keberhasilan sekelompok militer yang menduduki pos-pos penting dan vital dalam negeri Turki, seperti kantor berita, radio dan bandara, membuat pemerintah harus memutar otak untuk mengumumkan adanya percobaan kudeta oleh militer. Erdogan terlihat tidak kehilangan akal dengan membuat panggilan video yang kemudian disebarkan kepada rakyat Turki. Hasil dari video call tersebut tidak disangkat berhasil mengerahkan rakyat Turki untuk turun ke jalan-jalan dan menghentikan tank-tank melaju lebih jauh. Mereka jauh lebih berani lagi karena mereka melakukan itu tanpa membawa senjata apapun. Erdogan berhasil memperlihatkan sikap yang tegas dan perintah yang jelas kepada rakyatnya.

Menarik untuk disaksikan bagaimana Erdogan cukup percaya diri untuk meyakini bahwa rakyat Turki akan mematuhi seruannya untuk turun ke jalan-jalan guna melawan militer yang akan melakukan kudeta. Karena di banyak negara lain, biasanya rakyat akan engga untuk mengikuti seruan Presiden, apalagi seruan untuk menghadapi tentara. Hal ini menunjukan bahwa Erdogan berhasil memenangkan hati rakyat Turki melalui kinerja pemerintahannya. Selain itu bagi rakyat yang mungkin tidak menyukai Erdogan, tetap memandang bahwa Turki jauh lebih penting siapapun Presidennya.

Erdogan berhasil menyatukan seluruh perbedaan untuk bersama-sama menghadapi permasalahan yang mengancam eksistensi Turki ke depan. Didukung oleh dunia internasional, didukung oleh sebagian besar kekuatan militer, didukung oleh partai oposisi, didukung oleh mayoritas rakyat Turki, Erdogan memiliki semua yang dibutuhkan untuk menumpas gerakan kudeta tersebut.

5. Daya Tawar Erdogan dalam Militer Turki

Erdogan & Military Generals via http://turkeynews.ankaraningundemi.com

Tidak dapat dipungkiri, kudeta yang coba dilakukan oleh sekelompok tentara di Turki berkemungkinan berhasil jika saja Erdogan tidak memiliki daya tawar yang baik di mata militer. Karena sejak tahun 1960, baru kali ini kudeta yang dilakukan oleh militer Turki menemui kegagalan. Hal ini menunjukan bahwa walaupun Erdogan memiliki latar belakang sipil, namun berhasil menancapkan pengaruhnya dengan besar di kalangan militer. Sehingga militer yang melakukan kudeta tidak memiliki cukup dukungan dari perwira tinggi ataupun dukungan dari kesatuan militer lainnya. Terakhir mereka malah harus menghadapi satuan militer yang lebih besar dalam menumpas percobaan kudeta mereka.

Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan Erdogan membangun Turki secara umum. Sehingga pihak militer pun secara umum mendapatkan peningkatan taraf kehidupan dan peningkatan sarana-prasarana mereka dalam berlatih dan bertempur. Tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun sebuah angkatan perang yang berkualifikasi bagus, namun Erdogan berhasil mewujudkan itu. Hal semacam ini jelas menjadi salah satu pertimbangan penting bagi militer untuk melindungi pemerintahan Erdogan. Sekaligus membuktikan bahwa kudeta yang dilakukan oleh sekelompok kecil militer ini hanya didasari oleh kepentingan seklumit petinggi militer yang mungkin tidak sejalan dengan pemerintahan Erdogan. Hingga kenyataan mereka harus menghadapi militer yang lebih besar yang lebih memilih untuk tetap taat dan patuh kepada konstitusi (dalam hal ini pemerintahan yang sah).