Jika kamu suka dengan dinamika sastra Indonesia, nama Remy Sylado tentu menjadi salah satu sastrawan yang wajib kita baca karyanya. Ya, bleliau adalah salah satu sastrawan Indonesia serba bisa yang unik, nyentrik, suka menyentil hal-hal tabu dan lainnya yang karyanya sangat digemari pembaca.

Nama Remy Sylado –atau 23761, hanyalah salah satu nama samaran selain Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Dova Zila. Lantas, siapa nama asli dari Om Remy ini? Well, nama asli beliau adalah Yapi Tambayong, seorang pemenang Sastra Khatulistiwa tahun 2002 atas novelnya yang berjudul Kerudung Merah Kirmizi.

Berbincang tentang karya dari Om Remy, kita akan menemukan buanyak sekali karya bermutu, yang mencengangkan dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Untuk novel, setidaknya Om Remy pernah menulis berbagai novel diantaranya dengan judul Ca Bau Kan, Kembang Jepun, Kerudung Merah Kirmizi, Hotel Prodeo, dan Novel Pangeran Diponegoro. Beliau juga memiliki karya lain dalam bidang yang berbeda, yakni teater, seni musik hingga membuat kamus.

Namun, salah satu karya yang paling fenomenal dari Om 23761 –menurut saya, adalah buku puisi dengan judul: Puisi Mbeling –yang dulu konon dibuat oleh Om Remy untuk mengorganisasi penulis pemula yang nggak punya mental untuk show up dengan puisi mereka, karena takut dengan nama besar, seperti W.S Rendra dan Chairil Anwar.

Salah satu Puisi Mbeling yang ngawur tapi menggelitik adalah puisi dengan judul, Makian Anak Kepada Anak Tetangga. Begini puisinya,

Makian Anak Kepada Anak Tetangga

tahu

makanan kami

tahi

makanan kamu

Bagaimana? Apakah kamu terbayang puisi-wan macam Mas Chairil Anwar bakal menulis puisi semacam itu? Atau si romantis Sitok Srengenge –yang menulis puisi keren dengan judul Kereta dan Menulis Cinta, bakal menulis puisi semacam itu?

Nah, melalui Puisi Mbeling, Om Remy pengen mengejawantahkan bahwa menulis puisi itu “mudah” dan setiap orang bebas mengekspresikan ekspresi diri mereka sendiri.

Wah jadi melebar kemana-mana! Hehe

Berikut tadi sekelumit wacana yang jadi alasan kenapa saya memilih Om Remy sebagai aktor inspirator untuk belajar menulis. Oke, balik ke tema awal yang sesuai judul.

Untuk membangun kesadaran kaum muda –dan sebenarnya juga kaum tua, agar terangsang untuk menulis, Om Remy menerbitkan buku dengan judul: Jadi Penulis? Siapa Takut! (Diterbitkan oleh penerbit Kaifa, Maret 2012 dengan nama Alif Danya Munsyi). Nah, pada kesempatan ini, saya akan berbagi tips bagi kamu yang pengen menjadi seorang penulis terkenal nan nyentrik seperti Om 23761. Tips ini saya rangkum dari beberapa poin yang termaktub dalam buku tadi. Selamat membaca!

1. Modal awal itu bernama bakat

Modal awal itu bernama bakat

Modal awal itu bernama bakat via http://www.unsplash.com

Pernahkah kamu iseng bertanya dari mana Mpu Tantular belajar untuk bisa mengarang kitab Sutasoma? Atau, dari mana Mpu Prapanca belajar sehingga beliau bisa mengarang kitab Negarakertagama yang sangat terkenal hingga kini?

Tentu pikiran kita tidak akan mampu menerka sejauh itu untuk mengulik kehidupan pada Mpu tadi. Dalam hal ini, Om Remy menyatakan bahwa rasa percaya tersebut berurusan dengan bakat.

Advertisement

Nah, apakah bakat itu?

Bakat adalah sesuatu hal yang misterius di dalam diri seseorang terkait kemampuan yang ia miliki untuk mengubah pikiran, rasa, indera dan lainnya menjadi sebuah wujud baru yaitu tulisan. Berarti tidak semua orang memiliki bakat menulis?

Jawabannya adalah: benar atau iya.

Advertisement

Bakat memang bukan wilayah kita tetapi wilayah Ilahi yang memberikan. Meskipun kita tidak punya bakat –misalnya, namun kita masih punya jurus andalan, yakni kemauan.

2. Membaca adalah belajar

Membaca adalah belajar

Membaca adalah belajar via http://www.gratisography.com

Solusi dari Om Remy bagi segenap insan yang ingin menjadi penulis terkenal namun zero di bakat adalah dengan membaca. Ia berkata, “membaca adalah belajar”. Dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut!, Om Remy menulis, “dari bacaan-bacaan yang tersedia, kita terdorong untuk melakukan pekerjaan yang sama. Bacaan yang tersedia juga menjadi cara belajar secara tidak langsung”.

Dari kutipan tersebut kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa membaca akan memberikan inspirasi untuk menulis. Om Remy adalah contoh seorang pembaca yang ulung. Untuk membuat karya yang hendak ia tulis, maka ia akan menghabiskan banyak waktu terlebih dahulu untuk membaca beragam hal dan materi terkait tulisan yang mau ia buat.

Hasilnya? Tentu saja keren nan tidak disangka-sangka.

Salah satu yang menurut saya agak menggelikan adalah ketika Om Remy membahas sejarah kutang dalam novel-nya.

Dalam novel berjudul Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil (Diterbitkan oleh Tiga Serangkai, 2007), Om Remy punya imajinasinya sendiri tentang bagaimana orang Indonesia mengenal kutang tersebut – yang memang pada saat itu, ngligo atau bertelanjang dada adalah hal lumrah di masyarakat Indonesia. Begini cuplikan dalam novel,

Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan jalan pos di kota ini – yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong dan kini pemuda, Don Lopez memotong-motong kain putih dan member kepada salah seorang budak perempuan yang tergolong cantik dan belia.

Sambil memberikan potongan kain putih itu kepada budak perempuan tersebut, ia berkata, “tutup bagian berharga itu.”

Dia menggunakan bahasa Perancis untuk kata ‘berharga’ tersebut. Dalam bahasa Perancis, coutant berarti ‘berharga’.

Sambil menerima kain putih yang diberi oleh Don Lopez, budak perempuan itu memandang bingung.

“Kangge nopo niki, ndoro Tuan?” tanya budak cantik itu.

Sambil menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu, Don Lopez berkata, “Coutant! Coutant!”

Budak perempuan itu makin bingung. Ia melihat payudaranya, apakah ada yang salah dari payudaranya itu.

“Kulo boten ngertos, ndoro Tuan,” katanya.

Lagi Don Lopez berkata, “Coutant!”.

Orang-orang melihat adegan itu sertamerta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya coutant.

Seorang budak yang berdiri di dekat budak perempuan itu lantas berkata kepadanya, “O, kuwi jenenge kutang” (Remy Sylado, Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil, hal 277-278)

Masih dalam novel yang sama, Om Remy –karena aktivitas membacanya, menemukan fakta bahwa ibu dari Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan. Bukan seorang selir yang banyak dibahas di buku sejarah kita.

Nah, begitulah manfaat membaca. Dengan membaca, maka kita akan mendapatkan banyak inspirasi untuk sesuatu yang hendak kita tulis. Semakin banyak membaca, maka semakin bervariasi pula tulisan yang akan kita hasilkan!

3. Kuasai bahasa, miliki kata-kata

Kuasai bahasa, miliki kata-kata

Kuasai bahasa, miliki kata-kata via http://www.littlevisuals.com

Bagi seorang penulis, bahasa dan kata-kata adalah senjata. Untuk membuat sebuah karya yang bagus, yang akan membawa kamu menjadi penulis terkenal, maka kamu harus memiliki kemampuan bahasa yang baik dan penguasaan kata-kata yang istimewa.

Salah satu hal yang membuat saya pribadi ngefans sama Om Remy adalah perhatian beliau tentang kata dalam bahasa Indonesia yang boleh dikatakan hampir punah karena tidak pernah digunakan oleh masyarakatnya. Dalam setiap tulisannya, Om Remy sering menggunakan kata-kata yang jarang kita jumpai, seperti susuan waktu ini: besok, lusa, tulat, tubin.

Menurut hemat saya, Om Remy sengaja menggunakan kata-kata tersebut untuk menjaga khazanah berbahasa Indonesia di kalangan lintas generasi, terlebih sekarang ini ada fenomena kids zaman now yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia menjadi hampa makna.

Begitulah. Jadi, untuk membuat karya yang baik dan untuk menjadi penulis terkenal –menurut buku Om Remy, maka kita harus memiliki perbendaharaan kata dan kualitas berbahasa yang baik. Dengan kedua senjata tersebut, kita akan bisa mengekspresikan sesuatu dengan lebih jelas, menarik, dan berciri khas.

4. Hindari plagiarisme

Hindari plagiarisme

Hindari plagiarisme via http://www.superfamous.com

Tidak di pungkiri bahwa seorang penulis dalam pemikirannya akan dipengaruhi oleh tokoh yang ia kagumi dan apa yang ia baca. Misalnya, ketika kamu baca buku-buku Om Remy, mungkin kamu juga akan terpengaruh dengan gaya penulisan blio yang nyentrik.

Hal semacam itu adalah biasa dan boleh-boleh saja. Namun, yang tidak boleh adalah jika meniru dan menjiplak sebuah karya yang dalam bahasa intelektual disebut dengan plagiarisme. Plagiarisme adalah kejahatan dalam dunia penulisan dimana kita membajak hasil karya orang lain hanya untuk mendapatkan pengakuan dan eksistensi semata. Oleh karena itu, jadilah diri sendiri dan jangan malu dengan identitas yang terbangun dari tulisan yang kamu buat. Tugas seorang penulis adalah menelurkan karya berdasar daya imajinasi dan apa yang menjadi hasrat di dalam dirinya untuk ditulis, bukan menulis karena keinginan untuk dipuji yang berdampak pada dihalalkan-nya segala cara, termasuk menjiplak. Plagiat. Kok jadi serius ya?

5. Pantang untuk tumbang

Pantang untuk tumbang

Pantang untuk tumbang via http://www.pexel.com

Sebagai tambahan, untuk menjadi seorang penulis terkenal, maka berusahalah dengan keras, pantang tumbang dan terus belajar. Ingat dan yakini bahwa hasil tidak akan berkhianat pada proses. Tidak ada satu hal pun yang bisa dilalui tanpa usaha. Lha wong kita ingin tidur saja harus berusaha memejamkan mata, kan?

Nah, demikian sodara sekelumit opini dari saya terkait tips menjadi penulis terkenal ala Remy Sylado yang saya kutip dari buku beliau. Jadi kesimpulannya, menjadi penulis awalnya adalah bakat. Namun, jika kamu tidak berbakat, maka kamu bisa belajar –dengan cara membaca banyak hal. Selain itu, untuk menghasilkan karya yang bagus, maka kamu harus menguasai kata dan bahasa serta membuang jauh keinginan untuk menjiplak karya orang lain.

–semoga Om 23761 tetap senantiasa sehat dan tidak berhenti berkarya. Aamiin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya