Mulai dari tahun 2010, setiap dokter yang baru lulus harus mengikuti Program Internsip Dokter Indonsia (PIDI), yang lebih dikenal sebagai internsip. Iya, ‘internsip’, bukan ‘internship’. Jika dalam kamus bahasa inggris kata internship bisa diartikan sebagai magang, makna internsip tidak bisa ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun secara garis besar, internsip bisa diartikan sebagai program pemahiran dan pemandirian bagi dokter baru dalam menjalankan praktik kedokteran.

Sebelum bisa praktek secara mandiri, mereka yang baru lulus pendidikan kedokteran harus melalui tahap ini selama setahun. Program internsip dijalani di rumah sakit dan puskesmas yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan di kota/kabupaten seluruh Indonesia. Selama proses tersebut, idealnya, dokter baru bekerja dalam supervisi dokter-dokter senior di tempat bekerja. Setelah selesai, barulah para dokter fresh graduate ini bisa bekerja sesuai dengan pilihan masing-masing. Jadi jika dijumlahkan, waktu yang harus ditempuh seseorang agar bisa menjadi dokter secara penuh ialah 5-6 tahun pendidikan ditambah 1 tahun internsip. Cukup lama, bukan?

Berikut adalah beberapa pengalaman dan hal yang tidak akan terlupakan ketika menjalani internsip.

 

1. Internsip jadi pengalaman pertama memegang pasien. Bertanggung jawab sepenuhnya pada keselamatan nyawa manusia

Dokter Internsip Bekerja di UGD via http://sayyidhakam.com

Mungkin ini adalah satu pengalaman yang paling mendebarkan. Ketika masih kuliah, praktis calon dokter tidak memegang atau bertanggung jawab terhadap pasien sama sekali. Memang biasanya beberapa dokter, sebelum internsip, sudah bekerja di klinik-klinik dan mengobati pasien secara mandiri. Tapi biasanya kasus yang ditangani hanya penyakit ringan.

Di saat internsip inilah pertama kalinya menangani, memeriksa, dan mengobati berbagai pasien dengan bermacam-macam penyakit. Juga tidak seperti mahasiswa yang masih belajar, dokter internsip bertanggung jawab penuh terhadap kondisi pasien yang ditanganinya. Pasien pun tidak akan peduli apakah mereka merupakan internsip atau bukan, yang pasien tahu hanyalah mereka itu dokter. Di saat seperti inilah lulusan baru benar-benar belajar bagaimana berkomunikasi, menerangkan, dan memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya.

2. Ilmu klinis praktis juga dipelajari di sini. Di lapangan bisa 180 derajat bedanya dari text book!

Dokter Internsip di UGD via http://sayyidhakam.com

Advertisement

Di bangku kuliah, yang paling banyak dipelajari ialah ilmu teori. Saat masih mahasiswa, ilmu-ilmu kedokteran dasar seperti anatomi dan fisiologi memiliki porsi paling besar dibanding ilmu klinis. Baru saat tahap koas ilmu kilnis banyak dipelajari, tapi itu pun tidak seberapa karena tidak memegang pasien.

Nah, di masa internsip inilah waktu paling pertama mendalami ilmu klinis praktis. Banyak hal yang baru diketahui setelah bekerja sebagai dokter. Contohnya, orang yang datang kesakitan perutnya cukup dengan obat-obatan injeksi sekali pemberian lalu boleh pulang. Pasien yang sesak hebat karena gangguan jantung bisa menjadi lega setelah diberi obat pembuat banyak kencing. Jika ada yang datang tidak sadarkan diri, hal yang paling pertama diperiksa adalah gula darah. Dan masih banyak lagi.

Memang banyak yang kurang suka dengan program internsip karena memperpanjang proses untuk menjadi dokter. Tapi manfaat besar yang diperoleh dari pemahiran ini tentu tak bisa disangkal.

3. Di Internsip akhirnya dipanggil “Dok”, bukan lagi “Dek”

Dokter Internsip di Sesi Ilmiah via http://sayyidhakam.com

“Dek koas! Tolong pasien yang baru datang itu ditensi, ya!”

“Dek koas! Pasien yang itu kenapa belum di-EKG?”

Panggilan yang sangat lumrah didengar saat menjalani tahap koas. Yahh, rasanya seperti orang yang rendah sekali ketika dipanggil seperti itu.

Tapi saat internsip akhirnya julukan menyebalkan itu tidak lagi melekat. Bahkan naik kasta. Hal yang paling sering terdengar di telinga sekarang adalah “Pak dok” atau “Bu dok”. Pasien, perawat, hingga satpam pun akan menyapa, “Pagi, pak dokter.”

Rasanya membanggakan sekali, bukan? Enggak sih, lama-lama juga biasa saja.

“Pak dok, pasien ini perlu diberi obat apa?” tanya perawat.

“Errr…sebentar ya saya tanyakan dulu ke dokter yang senior”

Untunglah, walau mendapat jawaban semacam itu, perawat tidak akan membalas, “Iya, dek koas.”

4. FK Undip harus bekerjasama dengan FK USU. Yep, pergaulan di Internsip memang ‘sekaya’ itu

Dokter Internsip via http://sayyidhakam.com

Yah, karena program ini ditujukan untuk seluruh dokter dari Sabang sampai Merauke, terjadilah interaksi dengan dokter-dokter internsip dari macam-macam daerah. Dalam satu kelompok internsip, bisa terdapat dokter dari kota, propinsi, hingga pulau yang berbeda. Orang yang berasal dari Yogyakarta yang lembut dapat bertemu dengan sejawat dari Medan yang bicaranya keras. Dokter gaul asal Jekardah akan bekerja sama dengan dokter kalem dari pulau Lombok. Dan seterusnya. Karena akan menjadi rekan kerja selama setahun, tentu masing-masing harus menyesuaikan diri.

Tiap orang dari kampus FK yang berbeda akan membawa ilmu yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, juga pola pikir yang tidak sama. Hal ini tentu membuat wawasan lebih luas. Proses saling bertukar pengetahuan dan pengalaman pun mungkin salah satu yang diharapkan dari program ini.

Bukan hal yang tidak lazim kalau perbedaan yang banyak seperti ini memunculkan sedikit friksi. Ah, tapi itu hanya sedikit saja. Percaya deh, aktivitas dengan sesama sejawat internsip lebih banyak diisi jalan-jalan dan makan-makan bareng.

5. Jalan-Jalan dan Makan-Makan disponsori pemerintah. Ya cuma di Internsip

Jalan-Jalan Dokter Internsip via http://sayyidhakam.com

Jika diingat apa yang paling berkesan saat menjalani internsip, jawabannya takkan jauh-jauh dari jalan-jalan dan makan-makan. Apalagi bagi yang menjalani internsip di dearah yang baru pertama kali dikunjungi, plus banyak tempat menarik. Seolah saja internsip seperti “kegiatan jalan-jalan yang dibiayai pemerintah.” Heheheh.

Yang cukup unik, dokter internsip bisa lebih banyak mengunjungi objek wisata ketimbang dokter yang merupakan orang asli daerah tersebut. Hmmm, mungkin sudah dorongan pendatang untuk lebih banyak explore tempat ketimbang penduduk asli. Terlebih, hari-hari internsip sebenarnya cukup banyak waktu kosongnya. Daripada jenuh di kostan, lebih baik jalan-jalan dan wisata kuliner bersama teman-teman baru, bukan? 🙂

6. Bagi beberapa orang yang beruntung dan Internsip juga bisa jadi ajang bertemu jodoh

Bertemu Jodoh di Tempat Internsip via http://sayyidhakam.com

Siapa yang ketemu jodohnya di tempat internsip? Saya adalah salah satunya. Yak, foto di atas adalah gambar pernikahan penulis dengan sejawat internsip, heheheh.

Jangan salah, saya bukanlah satu-satunya. Tidak sedikit mereka yang akhirnya bertemu belahan jiwa saat menjalani internsip. Ceritanya pun bermacam-macam. Ada yang sebenarnya teman satu kampus, tapi baru menjalani kisah cinta di wahana internsip. Juga yang satu dari FK di Bandung dan satu lagi dari FK di Jogja, bertemu di Lombok (itu cerita saya, hahahah). Bahkan ada pula yang menikah dengan bukan sejawatnya, melainkan dengan orang asli daerah tempatnya internsip.

Jika sudah jodoh memang tidak ke mana. Yang perlu dilakukan tinggal lah berusaha menjemputnya dengan cara yang diridoi olehNya 🙂

7. Belajar bahasa daerah dan budaya baru adalah keharusan. Biar melayani pasien lebih nyaman

Dokter Internsip Melayani Pasien di Acara Baksos via http://sayyidhakam.com

Ini terutama yang memilih wahana internsip yang bukan merupakan kota asalnya atau bukan tempat FKnya berdiri. Bagi dokter, berbicara bahasa daerah secara praktis adalah kemampuan yang diperlukan. Orang yang sudah berusia sepuh, berasal dari kampung, umumnya tidak lancar bahasa Indonesia dan hanya berbicara bahasa daerah. Akibatnya, dokter jika berhadapan dengan pasien seperti itu harus menggunakan bahasa daerah.

Biasanya saat masih mahasiswa, calon dokter sudah mempelajari beberapa bahasa daerah praktis, sesuai dengan kota tempat FKnya berada. Sebagai contoh, saya yang kuliah di Unpad, sudah pasti belajar bahasa sunda. Tapi bagaimana jika bertemu pasien orang asli Lombok, tempat saya internsip?

Ku naon, ibu?” Kadang-kadang suka keceplosan seperti itu.

Akhirnya, mau tidak mau, mesti belajar lagi bahasa baru. Yah, walaupun praktisnya saja untuk keperluan pekerjaan.

8. BHD yang belum seberapa membuat dokter Internsip ada yang ngamen ke mana-mana~

Dokter Internsip Penyuluhan di Sekolah via http://sayyidhakam.com

Ya, ini adalah poin yang paling banyak diprotes perihal program ini. Yup, masalah gaji. Ups, salah. Istilah yang digunakan bukanlah gaji, melainkan bantuan hidup dasar (BHD).

Besaran BHD bagi dokter internsip sangatlah minim. Kira-kira, dengan penghasilan 2.5 juta per bulan, bisa untuk beli apa? Itu pun besaran BHD seperti itu belum termasuk dipotong pajak.

Kondisi semakin diperumit dengan banyak wahana yang tidak menyediakan tempat tinggal. Para dokter internsip harus mencari kostan sendiri, dan tentu saja, biaya ditanggung masing-masing. Berapa banyakkah RS yang menyediakan makan/konsumsi untuk dokter internsip? Sepertinya juga tidak banyak.

Jadi, bagaimana cara dokter internsip memenuhi kebutuhan hidup? Ada yang bercerita bahwa seorang dokter internsip bekerja sambilan dengan "mengamen" atau naik turun panggung sebagai penyanyi. Beberapa yang beruntung bisa menyambi dengan jaga klinik swasta, jika ada lowongan. Sisanya?

“Pak dok, jadi pak dok masih dikirimi uang oleh orang tua?” tanya seorang pegawai puskesmas. Saya hanya tersenyum simpul, terlalu malu untuk menjawab.

9. Penasaran kenapa tulisan dokter jelek? Karena harus isi borang di detik-detik terakhir :))

Borang, alias log book, sering kali terlupakan. Waktu terlalu asyik diisi dengan jalan-jalan, jadi deh buku hijau itu tersisihkan.

Walhasil, beberapa hari menjelang selesai program, barulah borang diisi. Log book tersebut seharusnya diisi dengan daftar pasien yang ditangani sendiri selama internsip, berikut diagnosis dan terapi yang diberikan. Minimal harus ada 400 pasien yang ditangani.

Yahh, 400 sih cuman sedikit. Sudah pasti selama setahun internsip jumlah pasien yang dipegang jauh lebih dari itu. Tapi masalahnya, nama dan jenis penyakit mereka sudah pasti dilupakan, wong sudah berbulan-bulan lalu. Tapi tetap harus disii. Jadi bagaimana?

“Eh, pinjam buku borangmu, dong.” Beruntung, ada teman satu kelompok yang rajin isi borang, heheheh.

Menulis empat ratus daftar dalam waktu kurang dari seminggu? Gampang, toh sudah terlatih menulis cepat. Makanya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa baca tulisan dokter 🙂

10. Internsip sudah selesai. Move on sampai sekarang belum juga usai

Dokter Internsip via http://sayyidhakam.com

Sebuah pertemanan telah terbentuk selama setahun. Bekerja bersama-sama, jalan-jalan bareng, makan juga bareng, ke mana-mana selalu bareng. Terlalu berat jika harus diakhiri, bukan?

Memang sih biasanya waktu awal-awal internsip, ingin rasanya segera mengakhirinya. Mau pulang, kangen rumah, ingin cari kerja dengan penghasilan layak, dan lain-lain. Tapi cerita selama setahun sudah terlanjur terbentuk. Diawali dengan interaksi yang serba canggung, hingga saling menjahili lalu tertawa lepas bersama; rasanya sulit dilepas begitu saja.

Tapi hidup terus berjalan, dan satu tahun internsip hanyalah bagian kecil darinya. Wajah baru, pengetahuan baru, pengalaman baru; semua tidak akan dilupakan. Itu adalah bekal yang sangat berharga, yang akan terus digenggam kuat, untuk memulai sebuah perjalanan baru yang panjang.

Ya, perjalanan hidup sebagai dokter.