Menikah bukan hanya urusan akad dan resepsi saja. Bukan pula keindahan dan kemewahan menjadi raja dan ratu sehari. Apalagi urusan lama tidaknya waktu untuk pacaran. Menikah itu urusan yang kompleks dan rumit. Susah dan membebani. Mayoritas pasti meyakini hal itu.

Kalian yang begitu kikuk dan tiarap menyaksikan Alvin menikah dengan Larissa Chou lebih baik ketimbang memuja, tapi tak ada progres hubungan. Memang layak bagi para jones untuk kikuk dan tiarap. Mungkin mereka lebih tahu bahwa urusan menikah jauh lebih susah. Mereka tahu si Alvin sudah lebih pantas untuk menikah. Ketimbang si pengidola yang berangkali hanya tahu sisi indah dari menikah.

Ada sederet kesusahan yang akan ditemui bagi para pengantin yang baru menikah. Tahu kan pengantin yang baru menikah? Maksudnya di sini ketika usia pernikahan baru seumur jagung. Lah, jangan berpikir kalau usia segitu kan baru panas-panasnya bulan madu. Iya itu benar di satu sisi. Di sisi lain, ada bulan tidak madu yang akan dihadapi. Tergantung kalian yang mau menyikapinya.

Cara menyikapi sederet kesusahan menjadi tanda dewasa tidaknya pasangan setelah menikah. Biasanya kesusahan itu muncul di awal-awal masa pernikahan. Sederet masalah tiba-tiba muncul dihadapan pasangan. Eh..artikel ini gak disarankan buat yang takut menikah. Justru artikel ini buat yang berani nikah berapapun usia, waktu, atau caranya. Agar pada tahu bahwa menikah itu perjuangan. Nah, khusus untuk tiga bulan pertama usia pernikahan, ini lho yang akan ditemui:

1. Ternyata pasangan tak sehebat ekspektasi.

Siapa yang tidak mengharapkan pasangannya menjadi pasangan terhebat, terbaik, terganteng, tercantik, dan ter-ter yang lain? Hampir mayoritas pasti menginginkan kesempurnaan pada pasangannya. Bagi yang memulainya dengan berpacaran pasti akan berusaha meyakinkan diri bahwa pasangannya itu merupakan yang sempurna untuknya. Cocok untuknya. Pas untuknya. Namun itu hanya akan bertahan maksimal seminggu pertama pasca menikah bahkan bisa juga kurang dari itu. Mungkin hitungan hari atau malah jam. Kehebatan dan kesempurnaan yang dibanggakan dan diharapkan seolah sirna begitu saja. Yang dulunya baik selama pacaran berubah jadi jahat. Yang dulunya pinter, eh setelah nikah kelihatan bodonya. Intinya karakter asli pasangan akan terlihat saat itu.

Ngeri gak? Ngeri lah..masih berani ngebet nikah?

Jadi gini bro, sis, kagak ada pasangan sempurna di dunia ini. Kesempurnaan pasangan itu karena saling melengkapinya antar pasangan. Prinsipnya itu. Jadi setelah kalian terbelalak kaget menemukan kenyataan bahwa pasangan kalian bukan Superman atau wonder women, maka kalian harus menyesuaikan satu sama lain. Tidak saling menonjolkan ego dan emosi. Memang butuh waktu bisa bulanan bahkan tahunan. Mulailah mengalah dengan hal-hal sepele. Sempurnakanlah pasanganmu dengan menyempurnakan dirimu sendiri.

2. Ikut campurnya mertua.

Advertisement

Sisi manis mertua yang dirasakan sebelum menikah lambat laun akan berkurang. Tiga minggu pertama akan akan mulai terasa mertua ikut campur dengan keluarga baru. Mungkin di awal rasa toleransi cukup besar terhadap mertua yang ikut campur terhadap keluarga. Namun itu tak akan berlangsung lama. Setidaknya setelah sebulan menikah akan terasa gerah juga dengan campur tangan mertua.

Campur tangan mertua ada banyak bentuknya. Bisa kritikan, saran, nasehat, atau semacamnya. Yang paling menjengkelkan tentu jika mertua bertanya, "Sudah bunting belum?" Nah loh, gampang kalau sudah bunting, lha kalau belum. Bisa underpressure tuh.

Sejatinya memang tak semua mertua ingin mencampuri urusan keluarga anak dan menantunya. Biasanya golongan mertua macam itu ingin melihat anaknya mandiri. Namun ya, sejauh-jauhnya, sediam-diamnya mertua tetap saja akan membantu dan menasehati anaknya. Nah disitulah kadang bagi pasangan pengantin baru bisa bikin gagap. Seolah-olah mertua sedang mengintervensi mereka, padahal hanya nasehat dan bantuan.

Pasangan harus hati-hati menyikapi mertua macam itu. Tetap saja meski hanya nasehat akan berdampak signifikan karena masih keluarga baru. Ibarat angin, nasehat mertua bisa menjadi angin yang menyejukkan, tapi bisa juga menjadi angin badai.

Saat terjadi kondisi macam itu, segera bangun komunikasi dengan pasangan. Yang paling penting ialah jangan sampai terlalu memihak mertua. Bagaimanapun kondisinya, pasangan kalian lebih prioritas untuk dibela. Namun jangan gunakan emosi kepada mertua. Bangun komunikasi dengan lebih persuasif. Ingat, lebih membela pasangan bukan berarti tidak berbakti, tapi lebih karena keluarga yang baru dibangun beberapa minggu memang masih labih sehingga butuh saling support untuk penguatan internal keluarga.

3. Ternyata penghasilan suami…

Berapa penghasilan suami untuk bisa menanggung nafkah keluarga? Ini akan menjadi persoalan yang cukup pelik. Di bulan pertama, pasangan akan mulai belajar menghitung APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga). Di bulan kedua sudah mulai punya gambaran dan prediksi pengeluaran bulanan. Istri terutama akan bingung jika penghasilan suami pas-pasan. Persoalan penghasilan suami ini memang menjadi persoalan yang selalu muncul dalam keluarga. Sebenarnya tidak melulu soal besar kecilnya penghasilan. Kadang malah ada yang penghasilannya besar, tapi sangat pelit atau bisa juga pengeluaran lebih besar. Kalau memang pas-pasan bahkan cenderung kurang biasanya ada opsi untuk istri ikut bekerja.

Sekali lagi persoalan ini bukan berasal dari besar kecilnya penghasilan, tapi lebih ke sikap. Kalau penghasilan besar, tapi selalu menuruti gaya hidup ya bakalan habis tuh. Atau ketika semua suami istri kerja, jelas akan mengurangi waktu keintiman pasangan. Lha satu aja yang kerja sudah mengurangi interaksi apalagi dua-duanya. Masalah "uang" ini akan terus bertambah seiring dengan meroketnya kebutuhan keluarga. Maka dibutuhkan sikap yang bijak dalam mengelolanya.

4. Masalah memunculkan keraguan.

gelas pecah via http://www.dream.co.id

Dengan meningkatnya masalah, secara tidak langsung akan mengurangi keraguan hubungan suami istri. Tiga bulan sudah cukup untuk memunculkan berbagai masalah. Keyakinan dan ekspektasi sebelum menikah seolah-olah mulai terkikis hingga roboh. Kalau sudah seperti ini sudah saatnya pasangan jujur satu sama lain. Bagi yang pacaran mungkin selama ini karakter yang ditampilkan merupakan kamuflase semata. Tapi benar, ujian keyakinan itu akan muncul.

Saat itu terjadi berarti sudah saatnya keluarga dibangun dari nol. Membangun bukan hanya dalam arti materi tapi juga membangun nilai dalam keluarga. So, sudah siapkah kalian nilah, Mblo?

5. Sadar bahwa menikah itu tak mudah.

Larissa Chou via http://www.sidomi.com

Bukan berarti menakut-nakuti, tapi hanya ingin memberi pengertian bahwa menikah itu tidak mudah. Jika sudah ada yang menikah dalam usia relatif muda dan keluarganya adem ayem bisa dipastikan pasangan tadi sudah selangkah lebih pantas. Misal seperti pernikahan Alvin dan Larissa Chou dalam usia relatif muda. Mereka sudah memantaskan diri lebih cepat dari kebanyakan anak usia mereka pada umumnya. Jelas mereka sudah melalui tahap pemantasan diri yang tak mudah. Kalau dibilang semacam akselerasi "pendewasaan".

Nah, jika ingin segera menikah maka segera pantaskan diri kalian. Kalian merupakan cermin dari pasangan kalian. Romantisme selama pacaran itu hanya sementara. Kelak kalian akan memahami bahwa hubungan yang hakiki tidak dibentuk dari sekedar romantisme, melainkan dibentuk dengan ikatan janji.