Indonesia memang sudah merdeka, tapi bukan berarti semua hal bisa digeneralisasikan merdeka. Masih banyak hal yang belum merdeka di kalangan masyarakat kita. Salah satunya berkaitan dengan belum merdekanya persepsi masyarakat tentang gender.

Tidak hanya kajian tentang feminisme yang menjadi persoalan. Kajian tentang maskulinitas pun mulai mengemuka. Kini, perkara tampang ganteng itu baru pendahuluan, masih banyak ekspektasi segepok yang ada di hadapan.

Sadar atau tidak sadar, cowok-cowok “dipaksa” untuk menjadi sosok “cowok” yang sesuai dengan persepsi masyarakat. Tentunya, persepsi itu berhubungan dengan mindset masyarakat tentang maskulinitas. Gender pria atau cowok harus kuat, berani dan tangguh, misalnya.

Atau persepsi tentang kemampuan-kemampuan tertentu yang terkesan manly dan identik dengan gender cowok. Walhasil, keluarga yang jadi agen sosialisasi pertama kita juga mengamini hal itu.

Jadi cowok ternyata tidak semerdeka kelihatannya. Mungkin dari segi tampang merdeka, tapi dari segi lainnya? Belum tentu! Ibarat kata, cowok-cowok masih “terjajah” dengan persepsi masyarakat, khususnya anggota keluarga sendiri tentang gender seorang pria. Padahal tidak semua cowok itu memiliki gender laki-laki dan mampu memiliki skill-skill yang sangat diidentikkan dengan cowok.

1. Jadi Cowok itu Dituntut Harus Kuat, Ya Paling Tidak Bisa Angkat Barang yang Berat-berat

Jadi Cowok Dituntut Kuat

Jadi Cowok Dituntut Kuat via https://www.google.com

Buat kalian yang cowok-cowok, pastinya sudah tidak asing dengan persepsi ini di kalangan keluarga atau masyarakat. Cowok memang identik dengan fisik yang kuat.

Advertisement

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kalau jenis kelamin kita cowok, otomatis label "kuat" langsung tertempel di jidat kita. Urusan-urusan rumah yang hubungannya sama angkat-angkat pun jadi tanggung jawab kita.

Mamah: Roy, tolong pindahin lemari mamah dong ke kamar adik.

Roy: Apa mah? Pindahin lemari? Hm, iya mah nanti.

Mamah: Sekalian rak sepatunya juga ya.

Roy: Iya mah.

Mamah: Oh iya, sekalian mejanya juga Roy

Roy: Sekalian kamarnya dipindahin juga nggak nih? ( Kok berasa jadi tukang angkut ya :" )

2. Nggak Cuma Kuat, Jadi Cowok juga Dituntut Jago Manjat

Juga Mesti Jago Manjat

Juga Mesti Jago Manjat via http://google.com

Alasan berikutnya kenapa jadi cowok itu nggak gampang, ya karena cowok dituntut juga buat jago manjat. Urusan "pergentengan" serasa jadi jobdesc utama anak cowok di keluarga. Kalian pasti pernah mengalaminya deh, tiba-tiba diminta buat benerin genteng yang rusak, merosot atau pecah.

Advertisement

Padahal tidak semua cowok itu bisa manjat, bahkan ada juga lho cowok yang sebenarnya takut ketinggian. Gimana? Masih mau jadi cowok? #eh

Papah: Rak, genteng di ruangan tamu kayaknya ada yang pecah deh.

Raka: Eh, iya? (Jawab seadanya biar nggak disuruh benerin)

Papah: Benerin gih Rak!

Raka: Yaelah Pah, minta tolong orang aja entar.

Papah: Cuma benerin genteng doang, kamu aja. Kamu berani buat manjat kan?

Raka: Gimana ya? Yaaa, nggak berani lah..

3. Nggak Cuma Jago Manjat, Cowok juga Mesti Paham Soal Perkakas dan Alat-alat

Cowok Mesti Paham Perkakas dan Alat-alat

Cowok Mesti Paham Perkakas dan Alat-alat via http://www.google.com

Jadi cowok itu dilematis, guys. Meskipun kita belum tentu paham tentang alat-alat bangunan, listrik dan segala macamnya, kita seolah-olah diarahkan untuk memahami dan tahu cara menggunakannya. Ya memang tidak semua masyarakat masih sekaku ini, namun di tengah modernitas saat ini cowok masih diindentikkan dengan orang yang bertanggung jawab dengan perkakas dan alat-alat lainnya.

Pasang paku, benerin kabel, benerin alat elektronik dan pasang lampu jalan (eh yang ini nggak ding) otomatis jadi tanggung jawab anak cowok.

4. Cowok itu Mesti Tegas dan Berani Ambil Keputusan, Bukan Lemas dan Hobi Cengengesan

Tegas dan Berani Ambil Keputusan

Tegas dan Berani Ambil Keputusan via https://google.com

Persepsi masyarakat lainnya tentang gender cowok adalah sikap tegasnya dalam mengungkapkan sesuatu dan mengambil keputusan. Cowok dituntut untuk tegas, bukan yang lemas dan hobi cengengesan. Faktanya, tidak semua cowok itu bisa tegas ketika mengungkapkan sesuatu.

Banyak juga cowok yang lemah lembut kayak lelembut dan cowok yang kalem kayak pohon palem. Wah, gimana nih, bro? Masih kuat jadi cowok? Haha

5. Cowok Nggak Boleh Gampang Baper, Nanti Ujung-ujungnya di Kira Caper

Jangan Baper, Bro! Ntar Dikira Caper

Jangan Baper, Bro! Ntar Dikira Caper via https://google.com

Susah-susah gampang ya buat pura-pura tegar setiap hari, padahal tubuh roman-romannya sudah nggak kuat buat berdiri. Kedengaran alay mungkin bagi sebagian orang, tapi percaya atau tidak bahwa anak cowokmu ini juga bisa baper kali, my lovely fams.

Cowok juga punya hati yang ada bukan buat disakiti (waduh, kalau ini kelewat baper kayaknya). Ada masanya cowok juga sensitif sama perkataan orang lain, kebawa perasaan saat mendengarkan musik atau menangis saat sudah tidak kuatnya untuk menahan air mata.

Cowok kok baper! Dasar caper!

Wah, ternyata jadi anak cowok itu nggak semudah kelihatannya. Sekarang jadi cowok bukan cuma soal tampang, tapi banyak ekspektasi yang kian terpampang. Mungkin dari luar kelihatan #MerdekaTapi sebenarnya cowok-cowok itu masih "terjajah" dengan anggapan dan persepsi masyarakat bahkan anggota keluarga sendiri tentang gender seorang cowok.

Tidak ada salahnya jika cowok itu kuat, bisa melakukan banyak hal yang sifatnya manly, tegas dan nggak baper, tapi perlu diingat kalau sikap dan karakter itu nggak wajib dimiliki oleh semua cowok, bray and sis.

Seperti yang diungkapkan oleh Hilary M. Lips, seorang penulis buku "Gender: The Basics," bahwa gender adalah harapan-harapan atau ekspektasi budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Jadi, jangan memaksakan diri untuk memenuhi ekspektasi budaya, jika kamu memang tidak mampu.

Zaman sudah merdeka, bro. Saatnya lo merdeka juga dengan sikap dan karakteristikmu sendiri. Yuk Merdeka tanpa tapi-tapian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya