Bisakah seseorang berubah? Atau kita hanya bertambah tua, terjebak dalam jalan hidup yang kita lalui setiap tahunnya.

Jika seseorang dapat berubah, apakah berarti mereka selalu memiliki kesempatan untuk berubah? Bisakah kamu mengubah seseorang?

Jika kamu pernah berada di dalam hubungan yang gak sehat, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu jelas pernah menghampirimu..

1. Satu-satunya hal yang lebih buruk dari hubungan yang gak sehat adalah berada di dalam hubungan yang setengah-setengah. Dimana ketika semua hal-hal indah mulai berjatuhan

Seperti yang kita tahu, ketika sesuatu mulai berubah tak baik, dan kamu jelas tahu bahwa itu buruk, rasanya lebih mudah bagimu untuk pergi berlalu.

Bagaimanapun, jika hubungan itu tak sehat tapi kamu masih cinta, rasanya makin rumit saja masalah ini. Kamu merasa bahwa ia gak baik bagimu, namun kamu juga merasa bahwa ia tak sepenuhnya buruk bagimu. Dan yang lebih parah, kamu merasa bahwa ia bisa menjadi pasangan yang baik untukmu jika ia berubah menjadi sosok yang lebih baik.

Dan itu salah..

2. Faktanya, perubahan terjadi seiring berjalannya waktu

Advertisement

Salah satu hal yang menyebalkan soal cinta adalah, cinta memberimu cara pandang tak hanya tentang seseorang, namun juga tentang apakah seseorang bisa berubah.

Kamu tak hanya melihatnya saat ini saja, namun kamu juga melihat semua potensial dan kelebihan yang selama ini terpendam. Dan potensi inilah yang membuatmu cinta mati padanya.

Kita begitu mencintai potensi mereka sehingga secara tak sadar kita percaya bahwa semua pasti akan baik-baik saja jika orang ini mau untuk berubah. Hubungan kita akan baik-baik saja. Cinta yang selama ini kamu bagi akan tetap terpatri, dan masa depan kalian tetap terjamin.

Kuharap seperti itu cara kerjanya… namun sayangnya semua tak seindah bayangan.

Setiap orang berubah seiring berjalannya waktu. Selama ini, kita bahkan tak menyadari bahwa kita sendiri juga sudah berubah karena rasanya sulit untuk melihat diri kita sendiri secara objektif. Bagian terjeleknya adalah, kita merasa bahwa kita telah tumbuh dewasa, berubah, menjadi sosok yang lebih baik, ketika faktanya kita malah semakin memburuk.

3. Seseorang berubah ketika mereka tak memiliki pilihan lain kecuali berubah

Faktanya, kita malah tak mungkin untuk mengubah orang lain. Satu-satunya cara adalah kita membantu mereka untuk melakukan perubahan. Perubahan adalah bagian dalam hidup yang memaksa segala hal di dalam kehidupan untuk tetap bersama-sama. Perubahan bukanlah sesuatu yang bisa diciptakan atau dimusnahkan.

4. Jadi pertanyaan yang sebenarnya adalah, bisakah kamu membantu pasanganmu untuk menjadi versi terbaik dirinya sendiri?

Mungkin bisa. Mungkin juga tidak.

Tergantung pada pasanganmu sendiri. Tergantung pada bagaimana caranya memandang setiap permasalahan. Tapi, kamu mengubahnya dengan caramu memandang setiap kenyataan. Padahal cara pandang kalian berdua mungkin saja berbeda. Memang sih niatmu untuk mengubahnya menjadi lebih baik itu bagus karena kamu mencintainya. Tapi lebih baik kamu jawab satu pertanyaan ini dulu.

Apakah pasanganmu bisa berubah menjadi seperti yang kamu mau?

Niatmu memang mulia karena menginginkan sebuah perubahan yang lebih baik, namun sadar gak sih kalau kamu melakukan dengan cara yang salah, hubunganmu bisa berantakan? Dan pada akhirnya, satu-satunya orang yang bisa kamu ubah hanyalah dirimu sendiri.

5. Bukan berarti kamu gak bisa membantunya berubah, tapi kamu hanya gak bisa mengubahnya

Kamu bisa membantu dengan memberikan setiap alasan tepat untuknya agar menjadi sosok yang lebih baik. Kamu bisa selalu memotivasinya agar tak pernah menyerah. Kamu bisa memberikan semangat agar ia tak putus asa. Kamu bisa memberikan pendampingan dengan selalu ada ketika ia ditimpa masalah.

Selain hal-hal itu, semua tergantung padanya, apakah ia mau berubah menjadi versi terbaik dirinya sendiri atau tetap ada di posisi yang tak pernah berkembang. Itu adalah hal yang harus ia lakukan sendiri. Kamu gak bisa meyakinkan seseorang bahwa ia perlu berubah, karena itu adalah keputusan yang harus dibuat sendiri.

“Percayalah, karena setiap pertemuan itu ditakdirkan, bukan hanya sekedar kebetulan.”