Dengan hati yang telah runtuh, aku menuliskan kesedihanku. Sembari memunguti satu per satu puing-puingnya, aku mencoba merangkum kisah kita. Kisah yang begitu indah, namun tak terlalu indah untuk bisa bertahan selamanya.

Kita berpisah. Bukan karena aku belutut di depan altar setiap hari Minggu, sementara kamu bersujud di atas sajadah setiap lima waktu. Keyakinan kita akan hubungan ini yang tak lagi sama. Aku yakin hubungan ini semestinya bisa diperjuangkan, sedangkan kamu tidak.

1. Dipersatukan dalam kesederhanaan, tak membuatku berpikir semuanya akan berubah menjadi rumit.

Kita pertama kali dipertemukan dalam sebuah kepanitiaan bakti sosial. Aku menyukai pembawaanmu yang bersahaja. Kharismamu selalu berhasil mengajak teman-teman untuk dengan senang hati bekerjasama. Aku membayangkan betapa bahagianya hidupku jika dibimbing oleh sosok pemimpin seperti kamu.

Tak kusangka pertemuan itu juga menyisakan kesan untukmu. Katamu kamu terpesona ketika melihat perhatianku pada orang-orang di sekitarku. Kamu kagum pada naluri keibuanku saat mengajari anak-anak di sana menyanyi dan menari.

Saat itu, yang kita pikirkan hanyalah keinginan untuk saling mengenal lebih dekat.

2. Aku yakin yang kita jalani ini “tidak apa-apa”.

Advertisement

Aku menikmati kebersamaan kita. via http://www.cw.com.tw

Walau tak satu kelas, hampir setiap hari kita menghabiskan waktu bersama. Jika adzan berkumandang, aku tak pernah ragu mengingatkanmu untuk segera mengambil air wudu. Ketika kamu menjalankan ibadah di hari Jumat, aku tanpa mengeluh menunggumu sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Kamu pun tak segan menghentikan serunya obrolan kita di telepon genggam, jika sudah waktunya untukku berdoa malam. Kamu tak pernah mengantarku pulang terlalu larut jika bepergian di malam Minggu. Karena kamu tak mau esok hari aku kesiangan dan tak bisa menjalankan ibadahku. Aku sudah terbiasa membangunkanmu sahur untuk puasa sunah Senin-Kamis. Walau tidak sama, aku merasa hubungan kita lebih daripada baik-baik saja.

Yang aku rasakan, sejauh ini kita bahagia.

3. Sampailah kita pada usia di mana timbul banyak pertanyaan yang sulit dijawab.

Jangan suruh aku menjawab. via http://www.jenningswire.com

Aku tak menyangka aku akan merindukan masa-masaku menuntut ilmu. Di mana pilihan yang kita ambil melulu untuk menentukan apakah kita bisa lulus tepat waktu. Sayangnya kita tidak lagi berada pada usia di mana pertanyaan bisa dijawab dengan membuka buku. Karena ujian yang kita hadapi saat ini harus kita jalani dengan penuh konsekuensi.

Ketika pasangan lain sibuk merangkai masa depan, kita hanya mampu membicarakan hari ini. Sering kita berangan-angan tentang kelanjutan hubungan kita. Namun selalu ada titik di mana kita buntu dan tak tahu harus berlari ke mana. Sesering itu pula mau tak mau kita harus mengganti topik sebelum suasana menjadi lebih canggung. Ah, harusnya aku bisa membaca semuanya itu. Bahwa itu artinya kamu sama-sekali tak punya keberanian untuk berjuang. Jahat! Jika memang kamu tidak ada niatan untuk tetap bertahan, seharusnya sejak awal hatimu jangan kau biarkan memberi sambutan hangat pada rasa keingintahuanku. Sememabukkan itukah pesonaku hingga kamu dibutakan akan hal yang berlawanan dengan hati nuranimu? Mungkin aku yang terlalu senang membohongi diriku sendiri. Berandai-andai kamu nanti akan mengalah, berjuang bersamaku, dan tidak akan menyerah.

Ketika kamu saja sudah memilih untuk mundur, aku bisa apa jika hanya berjuang sendiri?

4. Sahabat-sahabatku tidak membencimu, mereka hanya ingin kamu juga sekedar jadi sahabatku.

Mereka bukannya memusuhimu. via http://nuce.edu.vn

Mereka awalnya meledek senang jika melihatku tersipu karenamu. Namun lama-lama tampaknya mereka khawatir kalau-kalau aku terlalu serius dalam mendampingimu.

Aku bisa merasakan dukungan mereka bukan lahir dari kesamaan perasaan, melainkan berdasarkan prinsip bahwa bersahabat berarti saling menghormati keputusan.

Bersama denganmu tidak menutupi kerinduanku mengikuti kegiatan rohani bersama teman-teman seiman. Dan selalu dua hal yang berlawanan terjadi padaku. Di sana aku bisa sejenak melupakan kamu. Tapi di sanalah juga aku berharap bisa menemukan kamu.

Aku pun kerap mendengar betapa aktif dan populernya kamu di kalangan remaja masjid. Dari sekian banyaknya, apakah tidak ada manusia lain yang menarik hatimu? Coba kita menghitung berapa banyak hati yang sudah kita lewatkan. Bagaimana seandainya salah satu di antara mereka adalah yang sebenarnya digariskan?

5. Aku pun setuju bahwa dalam sebuah hubungan, restu orangtua adalah syarat yang tak terbantahkan.

Kecantikan seperti ini yang tidak bisa orangtuamu temukan padaku. via http://2.bp.blogspot.com

Katamu aku cantik apa adanya. Tapi keluargamu mempunyai definisi kecantikan yang berbeda dengan apa yang ada padaku. Ayahmu sangat ramah, dan ibumu juga selalu menyapaku dengan penuh kasih. Karena pada dasarnya kedua orangtuamu adalah orang yang baik, yang menyambut siapa saja dengan penuh kehangatan. Aku hanya tersenyum setiap ada anggota keluarga yang menanyakan tentang keseriusan kita. Keluargamu percaya aku wanita yang baik, dan berasal dari keluarga baik-baik.

Namun baik saja tidak akan cukup bagiku untuk menjadi yang terbaik untuk kamu, apalagi untuk orangtuamu.

Orangtuaku menyerahkan semuanya padaku, tapi aku tahu ada tangis ketidak-ikhlasan dibaliknya. Ada ketakutan anak semata wayang yang mereka besarkan akan meninggalkan iman yang sudah mereka wariskan. Lagipula, cinta kita tak sekuat cinta Romeo dan Juliet yang rela menentang kehendak keluarga demi tetap bersatu.

6. Cinta itu hakikatnya mempersatukan.

Berdoa bersisian. via https://c1.staticflickr.com

Aku tak biasanya merasa emosional ketika berdoa. Setiap ibadah hari Minggu, yang tak pernah lupa aku bawa adalah rasa syukur. Salah satunya atas kebahagiaan yang ada selama kita bersama. Berada jauh dari orangtua di perantauan, aku tiba-tiba merindukan kebersamaan kami. Kebersamaan yang sepertinya tak bisa aku jalani apabila aku menua bersamamu nanti.

Dan hari ini aku menangis. Aku begitu iri melihat banyaknya pasangan yang datang bersama. Mereka berisisian menangkupkan tangan di depan altar, saling membawa nama dalam doa kepada Tuhan dengan sebutan yang sama. Aku menyadari, tidak ada kencan yang lebih indah daripada beribadah berdampingan dengan orang yang kamu cintai.

Setelah terucap kata pisah darimu, kamu bercerita mungkin inilah jawaban atas kegundahan di setiap sembahyangmu. Tidak ada yang terlalu keras kepala ataupun egois hanya karena tidak mau mengalah. Hanya mungkin kamu merasa perasaan ini tidak cukup berharga untuk tetap ditumbuhkan.

Kini aku menyadari bukanlah iman yang memisahkan kita. Aku percaya Tuhan Sang Maha Cinta tak akan pernah tega memutuskan ikatan dua insan manusia. Entahlah, mungkin ini bukan cinta, melainkan hanya kekaguman yang berlarut-larut.

Satu yang aku tahu, pernah mengenalmu dan menyayangimu sejauh ini, sedalam ini, aku tidak menyesal.