1. Marah seorang ibu adalah wujud cintanya

Marahmu adalah Cintamu

Marahmu adalah Cintamu via https://www.google.co.id

Ibu memarahiku pulang terlambat karena semenjak aku keluar rumah ia sudah sangat khawatir dengan keadaanku. Apalagi melewati jam yang telah disepakati, ibuku bukan main khawatirnya. Ibu takut ada orang yang berniat buruk mengajakku bermain yang tidak-tidak, ibu takut aku bergaul dengan orang yang salah. Selama aku tak ada dirumah, maka selama itu pula ibu mencemaskanku. Sehingga ketika aku pulang terlambat, rasa cintanya tercermin melalui kemarahannya. Ibu tak ingin aku pulang terlambat lagi, itu adalah makna dari kemarahannya malam itu.

2. Pengorbanan ibu adalah semata-mata demi masa depanku

Tangisanmu adalah lukaku

Tangisanmu adalah lukaku via https://www.google.co.id

Ibuku membangunkanku pagi-pagi karena ia sebenarnya sedang mengajariku arti kedisiplinan. Hanya orang disiplin dan yang bagun pagilah yang akan menjadi orang yang sukses di masa depan. Ibu tak ingin anaknya menjadi orang yang tidak sukses dan menjadi orang yang pemalas, itulah sebabnya mengapa ibu sampai rela membalutiku dengan air dingin agar akus segera terbangun. Ternyata kemarahannya pagi itu demi masa depannku. Namun sayang, aku sudah terlanjut menyumpahinya pagi itu. Tuhanpun sudah mencatat dosa besar ku pagi itu.

3. Ibu adalah lambang kasih sayang tak terhingga

Terimakasih ibu.

Terimakasih ibu. via https://www.google.co.id

Siang itu ibu marah karena aku terlambat makan siang. Hal yang paling dibenci oleh ibu adalah melihatku sakit. Ibu akan merasa sakit apabila aku sakit. Ibu tak ingin melihatku sakit. Hatinya akan tercabik-cabik apabila melihatku tergolek lemas diatas ranjang.

Ibu adalah orang yang pertama yang paling terluka melihat anaknya jatuh sakit. Terlambat makan adalah salah satu penyebab utama sakitku. Oleh karena itu, ibu tak pernah ingin aku melewatkan makan. Ibu rela menunggui semua anaknya makan, asalakan anaknya segera makan. Ibuku itu aneh, bayangkan saja, ia tak akan pernah bisa menyentuh nasi sebelum perut anaknya penuh. Makan sisa pun tak masalah, bahkan tanpa lauk. Ibu sudah sangat merasa kenyang ketika anak-anaknya tertidur pulas kerena kekenyangan. Sesusah apapun keluarga kami, ibu tak akan pernah membiarkan perut kami kosong. Kemarahan siang itu adalah bentuk kesayangan tak terhingga ibu kepadaku.

4. Apa rahasia cintamu, Ibu?

Cintamu seluas lautan biru.

Cintamu seluas lautan biru. via https://www.google.co.id

Dan malam itu. Aku benar-benar salah paham kepadanya. Ibuku benar-benar menghawatirkan kesehatanku. Ibu ingin aku segera tidur karena ia tak ingin aku kekurangan tidur lantas terserang penyakit. Tahukah kalian, ketika jam 12 malam itu aku belum tidur, ibuku pun belum tertidur,  ia dikamarnya sengaja menunggu lampu kamarku padam, memastikan aku telah tertidur. Apabila sampai pukul 4 dini hari aku belum tidur, maka sudah pasti ibu juga tidak akan tidur. Ibu bahkan mengaharamkan dirinya untuk tidur sebelum semua anak-anaknya tertidur dengan pulas. Lagi-lagi, fitnah kejam telah aku tusukkan  pada dada ibuku malam itu. Ibu, ternyata kasih sayangmu tak terhingga sepanjang masa. 

5. Tak bisa aku rupiahkan jasa ibu selama hidupku

Jasa yang tak akan pernah aku lupakan.

Jasa yang tak akan pernah aku lupakan. via https://www.google.co.id

Kawan, tahukah kalian jasa-jasa apa saja yang pernah ibu kita masing-masing pernah goreskan dalam lukisan kehidupan kita? Ada milyaran jasa bahkan tak terhitung yang telah diberikannya kepada kita semua. Tahukan kalian siapa orang yang pertama kali bangun pagi-pagi ketika mentari pagi saja masih tertidur pulas? Tahukan kalian siapa orang pertama yang ada di meja makan, namun terakhir kali mendapatkan bagian makanan? Tahukah kalian siapa orang senantiasa bangun paling akhir namun sekaligus bangun paling awal?

Jawabannya adalah ibu. Ia adalah malaikat Surga yang tak akan pernah tergantikan. Lantas meskipun ibu sering kali memarahiku, beranikah aku membencinya? Aku justru malu.

Berapa jasa ibuku, suatu hari aku bertanya kepada tuhan, tuhan menjawab, “Pernahkah aku melihat bintang di langit?” Aku jawab pernah, dan jumlahnya tak terhingga. Maka Tuhan pun menjawab, jasa ibumu jauh, jauh dan jauh lebih luas dan besar dari jumlah bintang itu. Lantas saat itu bibirku ternganga, darahku berhenti mengalir karena membaku, tulangku seperti remuk dihantam batu. Ibu, beranikah aku membencimu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya