Well, tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan kepada khalayak ramai bahwa menjadi seorang saintis di Indonesia merupakan perjuangan dan tidak kalah serunya dengan para pekerja yang berebut naik commuter line atau seperti ibu-ibu (atau calon ibu-ibu) yang rebutan barang diskonan. Terlebih ketika kromosom lo hanya terdiri dari 1 konsonan: xx (baca: perempuan).

Ya, saintis itu juga galau, dimana lo harus memilih antara impian lo dan kenyataan yang ada. You know what I mean, lo tinggal di Indonesia dan lo mau ga mau harus ikut aturan dan norma yang ada di sini. Seperti kata pepatah “dimana langit dipijak, disitu langit dijunjung”. Galau seorang saintis mempunyai derajat kebebasan yang berbeda, derajat ini yang akan menentukan berapa energi kinetik lo. Haha, yaudah skip, kita anggap semua mengerti :p

Kalau gw bikin diagram venn nih ya, yang gw ungkapain disini hanyalah himpunan bagian dari kegaulan saintis yang gw rasain. Ini bener-bener bersifat sangat objektif sekali. Dan tulisan ini juga tidak berusaha membahas masalah ilmiah, diksi, dan analogi yang gw gunain di bawah (Kalau mau ilmiah mah gw nulis paper sekalian.

Iya, saya tahu. Saintis lainnya lagi heboh ngurus Misi Kepler buat nyari eksoplanet, Artificial intelligence, bikin android versi Onde-onde, atau bahkan bikin game tandingan Pokemon Go, tapi gw malah bikin tulisan ini. Harap wajar ya, ini adalah salah satu bentuk procrastination gw, setidaknya ada manfaatnya buat mengeluarkan uneg-uneg, hihihi.

Nanti kalau ada waktu yang bisa diluangkan dan ada yang tertarik untuk membacanya, akan dilanjutkan ke Part II. Nungguin series Sherlock BBC aja sabar kan? Sesungguhnya Tuhan berserta orang-orang sabar dan ikhlas.

 

Nah, kalau udah ada yang baca phd-comic atau bahkan nonton phd-movie, lo setidaknya punya gambaran seperti apa mahasiswa pascasarjana itu (master, doktor atau PhD). Dan disana juga dibahas beberapa masalah yang dihadapi serta hipotesis penyebab kegalauan yang diderita.

Mau tau alasannya penyebabnya ? Yuks, kita tanya Galileo (mungkin generasi 90an tau tagline ini. Iya, tagline kuis)

1. Pilihan antara menikah dan lanjut kuliah

Menikah atau kuliah? via https://web.facebook.com

Hellooo, sekarang bahkan iklan kosmetik di TV aja udah ada yang mengangkat hal ini. Hal yang udah dari beberapa tahun yang lalu bergema di gendang telinga gw dan kemudian stuck di otak. OMG, finally ada yang menggaungkan hal ini. Gw juga heran kenapa kalau tingkat pendidikan wanita “tinggi” akan membuat para lelaki mundur untuk menikahinya? Bukankah mestinya bersyukur karena nanti anak kalian akan mempunyai “guru” 24/7?. Sama halnya dengan yang gw rasain. Semua mendukung ketika gw mau lanjut program master, tapi dukungan itu meluruh ibarat radioaktif ketika gw berbicara tentang program doktor.

Huh! Bye-bye program doktor, jodoh cepatlah pulang dari kantor.

Mari kita berdoa bersama bagi yang belum menemukan jodoh, berdoa dimulai …. Aamiin.

2. Tetap setia atau selingkuh?

Setia: Selingkuh tiada akhir via http://www.vemale.com

Advertisement

Fenomena ini bukan hanya berasal dari kalangan saintis aja sih, tapi juga berlaku pada kalangan lainnya. Kuliah jurusan A tapi kerja dibidang B. Penyebabnya adalah, jumlah lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada. Contohnya nih: seorang mahasiswa jurusan sains baru saja lulus. Karena dibidang yang dia tekuni tidak membuka lowongan, akhirnya dia memilih untuk bekerja tetapi bukan pada bidangnya. Ya inilah salah satu contoh real yang tadi gw sebutin di atas: lo mau milih mimpi atau kenyataan. Ada juga sih orang yang beruntung yang bisa terus berada pada bidang yang ia sukai, jadi tentu masih ada harapan. Tapi bener kata 21 pilots di lagunya yang berjudul Stressed Out:

We would build a rocket ship and then we'd fly it far away,

Used to dream of outer space but now they're laughing at our face,

Saying, "Wake up, you need to make money." Yo.

Terlebih ketika lo sudah bergelar “master”. Semakin banyak yang berkicau “wah, ko kerjanya itu sih, kan ga ada hubungannya?”. Hahaha, rasanya pengen lari-lari kecil disamping Monas.

3. Pioneer atau Followers

Perenungan mendalam via https://web.facebook.com

Waktu lo mau memulai riset, lo akan memilih topiknya kan. Disinilah lo mulai menemukan kegalauan lainnya. Lo mau cepet kelar dan gampang dengan topik yang ala kadarnya dan mengikuti orang lain atau dengan topik yang belum pernah diterapin di Indonesia yang otomatis lebih sulit karena ga ada patokan referensi? Bukan berarti kalau lo itu pioneer pasti bakalan lebih susah sih, tapi tetep aja butuh waktu yang relatif lebih banyak untuk mengerjakannya.

Untuk menjadi pioneer juga harus memiliki kepercayaan diri dan rela mengabdi, uhuk :3

4. Uang, Money, dan Fulus

UUD: ujung-ujungnya duit via http://www.phdcomics.com

Yuhuu. “lagi lagi uang”.

Dana riset di Indonesia itu terbatas, terutama untuk sains yang tidak berdampak langsung terhadap kehidupan manusia. Sebetulnya bukan hanya hasil sih yang bisa dikembangkan dari riset yang saintis kerjakan, tapi juga transfer teknologinya. Duh kalau dibahas bisa 1 subbab sendiri ini, haha.

Jadi selain lo galau mikirin topik buat riset seperti yang dipaparkan di poin sebelumnya, lo juga akan galau apakah riset lo akan dibiayai atau tidak, nanti pas mau di-publish juga galau lagi, ada anggarannya ga, dsb. Gw rasa botanis juga harus mikirin bagaimana cara menumbuhkan pohon uang biar masalah ini cepet kelar, eh tapi nanti malah timbul masalah baru ya: inflasi, haha yaudah ga jadi :v

5. “Dimensi” berbeda

Saintis = Nerd via http://comicbook.com

Oh Tuhan! Bukan. Gw tidak akan membahas kenapa dimensi waktu berbeda ketika lo ada di Bumi dan di planet dekat blackhole. Apalagi membahas dimensi lain, ih sereem.

Pernah nonton Big bang theory? Series tentang para saintis yang digambarkan sebagai para nerd. Gw juga ga tau sejarahnya gimana sehingga stereotype yang berlaku adalah saintis = nerd, padahal ga semuanya kaya gitu. Gw rasa pencetus awal ide ini adalah penganut statistik garis keras yang mempercayai bahwa gambaran suatu populasi adalah berdasarkan modus (baca: data yang sering muncul, bukan modal-dusta). Yang sering dilupakan adalah keberadaan data pencilan, dimana data ini sangat kecil pengaruhnya terhadap populasi sehingga diabaikan. Sedih ga jadi pencilan? Ada tapi ga dianggap, hiks. Jadi ga semua saintis itu nerd ya, ada juga yang gahol, eksis, dan kece ko. Kami (atau gw) berbicara juga menggunakan bahasa, pola kalimat, dan diksi yang sama. Jadi tolong dibantu yaa -simsalabim jadi apa prok prok prok- agar para saintis dapat bergabung dalam masyarakat dan berada dalam “dimensi” yang sama :3

6. Pintar, Cantik, dan Waras

Ga selalu harus interger via https://www3.ntu.edu.sg

Pernah denger ga lawakan Raditya Dika yang ngebahas topik ini? Duh, gw lupa pas dia stand up dimana gitu, haha. Anyway, ikhtisarnya adalah: Cewek itu hanya bisa memilih 2 dari 3 pilihan: Pintar, Cantik, dan Waras. Artinya, kalau lo pintar dan cantik, otomatis lo ga waras. Kalau lo cantik dan waras, berarti lo ga pintar, dst. Nah inilah, gw ga setuju. Kenapa kita hanya membahas menggunakan bilangan interger? Kenapa ga pake float? Dimana lo ga mesti menggunakan bilangan bulat.

Sekarang, mari kita buat 3 variable berikut: Pintar (S), Cantik (B), dan Waras (N). Apabila hasil operasi matematika, kita sepakati saja menggunakan perkalian, dari ketiga variable adalah konstanta bukan nol (C). Maka dapat ditulis:

S x B x N = C

Kan.. mana mungkin salah satu nilai S, B, dan N bernilai nol? Ya kan ya kan? *evilsmirk :3