Ini suratku yang kesekian semenjak kepergianmu. Kamu apa kabar? Sehat?

1. Sudah sampai manakah kamu?

Aku sudah sampai di sini via https://suarakaki.blogspot.com

Malam ini, kita bersulang untuk kebahagiaan yang tak terkira. Genap satu tahun kita menjalani kesendirian. Menemui destinasi bagi kebahagiaan kita masing-masing: Kamu menemui duniamu, aku menemui duniaku. Rasanya aneh, ketika seluruh tangisku yang semula dibendung oleh pelukanmu, kini harus kuseka sendiri. Rasanya aneh, ketika kita tak lagi saling menitipkan rasa pada sentuhan-sentuhan manis di pipi sehabis senja. Belum lagi soal seluruh bahagia yang kita tuangkan pada gelas di meja makan.

Aku sudah sampai di sini. Cukup jauh dari tempatmu berdiri. Satu tahun hidup sendiri tanpamu, membuatku bercermin kembali, sudah sejauh apa aku dua tahun belakangan ini?

2. Masihkah kau ingat, sudah sejauh apa langkah kita melangkah saat bersama dahulu?

Lebih jauh daripada jejak pelarianmu saat ini via http://instagram.com

Advertisement

Mungkin kamu lupa, bahwa aku adalah satu-satunya orang yang kau izinkan mengusap air mata tanda kelelahan. Kali ini, harus aku akui. Aku cukup bahagia kala mengusap kepalamu yang tertandas di pelukan. Lalu, kita berbaring di atas rerumputan. Mengayuh senja dengan telapak tangan yang bersentuhan. Sungguh indah. Aku tahu, kebaikanmu tak akan mudah dilupakan.

Rasa-rasanya, setiap jengkal tanah Nusantara terasa kosong tanpa langkah kakimu. Langkah yang dulu bersamaku membekas di beberapa tempat. Mungkin bagimu biasa saja. Tapi tidak denganku, yang sampai saat ini diam-diam menitipkan salam untukmu, pada Pemilik Hatiku: Tuhan.

Aku dengar beberapa mimpimu telah dikabulkan oleh-Nya. Tentang gundam, tentang keinginan larut dalam permainan tanpa ocehanku, tentang kariermu di badan pers yang kauperjuangkan saban hari, tentang kisah cintamu yang tak terdeteksi olehku. Ya, tentang semua.

3. Aku bahkan belum ikhlas melepaskan bayangmu yang berontak, ingin pergi jauh.

Meski aku tahu, hal semacam itu masih berat bagi dirimu sendiri via http://suarakaki.blogspot.com

Kamu terlalu berharga untuk dilarung bersama masa laluku yang kelam. Meski pada pelukan terakhirmu kau diam-diam membisikkan,“kejarlah mimpimu! Selama ini kita mendzalimi diri sendiri, kau tahu?”

Ya, kau benar. Terlalu banyak aturan selama kita bersama. Aku sering marah ketika melihatmu mengabaikan kuliah. Dimana kamu lebih memilih menggarap semua pekerjaan dari staf-stafmu di meja redaksi. Ya, aku sering naik pitam, kala melihatmu kelelahan, tertidur di atas pulau kapuk milikku, sesudah melahap habis semangkuk mie dokdok kesukaanmu, yang kubuat dengan penuh cinta dan kasih sayang. Lalu, jam delapan malam hingga subuh pamit lagi pergi ke sekre badan pers kampus. Dengan keikhlasan setengah hati, kulepas punggungmu yang kian menjauh ditelan gelapnya malam.

4. Punggungmu yang menjauh adalah sebaik-baiknya pengetuk pintu hatiku

dan kenangan kita adalah kunci pembukanya via http://instagram.com

Aku selalu benci melihatmu kelelahan. Aku selalu benci melihatmu sakit karena pekerjaanmu yang menyita waktu. Aku benci melihat diriku yang terlalu mudah cemburu. Dan kini aku semakin benci pada diriku, yang belum mampu melepaskanmu.

Tahukah kamu, Sayang? Rasa sesak di dadaku makin terasa kala melihat kondisi perkuliahanmu yang makin terpuruk. Aku memang sudah jarang ke kampus, karena beban kuliahku sudah berkurang. Tapi mengapa? Mengapa aku harus sulit menemuimu di sana. Padahal aku hafal betul bahwa beban kuliahmu harus kau tanggung tiap hari. Harusnya kau pergi ke kampus. Harusnya! Tapi tidak dengan apa yang kunikmati belakangan ini. Kamu makin susah ditemui.

Selagi bisa ditemui, pun aku harus meredam segala kesal: lingkaran hitam di wajahmu makin lama makin kentara. Kamu tahu? Ini kesedihan nomor sekian yang kurasakan kala mencintaimu sebagai bagian dari hidupku!

5. Kali ini, aku tak punya alasan untuk menuntutmu mengerti akan mauku. Menjadi mantan adalah beban paling berat seorang manusia. Terlebih, rasa cinta itu masih ada. Masih dan selalu menghantui segala langkah dalam hidup.

Sepertimu, aku akan memperbaiki diri, untuk diriku sendiri via http://instagram.com

Kini aku tak lagi peduli akan segala bisikan dan cemoohan orang lain tentang aku yang gagal move on. Aku tak peduli lagi. Aku tak mau peduli biarpun dicap gagal bersembunyi. Siapa yang hendak disalahkan? Siapa? Keadaan? Atau garis takdir kita yang tak menyatu?

Kamu lihat sekarang. Aku sudah perlahan membangun mimpiku. Aku sudah mengabdikan sebagian hatiku untuk anak-anak dan perempuan desa. Aku sudah jadi mahasiswa berprestasi, sekalipun bagimu dan orang-orang kampus sangat biasa saja. Aku membangun rasa percayaku pada perubahan dunia lewat riset-riset kecil, lewat kompetisi, yang pada saat aku bersamamu dulu, rasanya sulit untuk kunikmati. Lihatlah, aku sudah bangkit menemui mimpiku kembali. Aku sudah mulai membenahi diriku. Tak ada lagi pacaran. Tak ada lagi segala umbar rasa sayang pada laki-laki. Dan tak ada lagi rasa takut untuk sendiri.

Mereka mengobatiku selama kamu pergi

6. Semua orang berkata, aku bisa bahagia tanpamu. Tapi tidak semua tahu, bahwa kamu punya andil besar dalam membuatku bangkit lagi dari keterpurukan.

Kita pernah berbahagia dalam ruang dan waktu yang sama, dan aku menghargai itu via http://suarakaki.blogspot.com

Mungkin, satu-satunya pihak yang harus kutumpahi rasa terimakasih adalah perpisahan kita. Karena tanpanya, kamu tak akan jadi dirimu yang sekarang. Dan aku tak akan jadi diriku yang sekarang. Kita sama-sama berbenah. Kita sama-sama menjemput mimpi.

Aku berhenti mencintai sebagai perempuan murahan yang mudah mengobral cinta. Aku berhenti berjuang mati-matian untuk laki-laki yang tak tepat. Aku berjanji, tak akan ada lagi air mata kesedihan setelah ini. Asal kau juga berjanji, bahwa akan jadi sebaik-baiknya lelaki.

Biarpun jadi mantan, bagiku kamu tetap belahan jiwa yang mengisi. Selalu bisa jadi apapun. Dan selalu mampu mengiringi langkahku diam-diam. Biarpun tak ada rasa lagi di hatimu. Izinkanlah, do’aku sebagai sahabatmu mengiringi segenap langkah kita.

Kamu tetap jadi sahabat terbaik yang pernah kumiliki

Ingat kembali tujuan pertamamu ke Jogja. Dan ingat kembali bahwa kau selalu punya pintu untuk diketuk pelan-pelan. Pulanglah bila kamu kelelahan. Semua orang mengasihimu. Semua orang mendo’akanmu. Begitu pula diriku, yang diam-diam menjalani cinta gagal sembunyi padamu 🙂

Kutunggu kamu di puncak kesuksesan. Mari bersulang untuk cinta kita yang belum bisa dipersatukan :’)

Dari aku,

Gadis yang pernah kautumpahi rindu