Kalau ditanya soal mimpi, kamu selalu menggebu dan tak henti bercerita. Pun dengan renjana yang selama ini buat hidupmu lebih berwarna daripada biasanya. Dua hari dua malam rasanya tak akan cukup untuk menyelesaikan cerita soal renjanamu itu. Namun hidup selalu penuh dengan kejutan. Sejak kecil hingga sebesar ini, mimpi dan renjana yang sudah kamu pupuk dan tata untuk masa depan, dengan enaknya di-tweak semesta begitu saja. Ada saja hal-hal yang menghalangimu untuk meraih mimpi dan rejanamu.

Dari sekian banyak hal-hal yang menghadang jalannya mimpi dan renjana itu, kamu paling tidak bisa menolak satu hal ini: keinginan ayah dan ibu. Memang sih zaman sudah berkembang, dan kedua orangtua kini tak bisa lagi banyak mengekang. Namun dari lubuk hatimu yang paling dalam, keinginan orangtua ini rasanya harus segera diwujudkan sebagai tanda kebaktian.  Untukmu yang terpaksa menunda meraih mimpi dan sejenak menghentikan renjana, hal-hal ini pasti khatam kamu rasa. 

1. Sama seperti kebanyakan orangtua, mereka bersikukuh agar kamu bisa menjadi sesuatu sesuai keinginan mereka

Sama seperti kebanyakan orangtua~

Sama seperti kebanyakan orangtua~ via http://www.crosswalk.com

Kak, udah daftar CPNS? Coba dulu kak, siapa tahu nasib baik kakak memang di sana.

Nggak hanya abdi negara, tapi segelintir pekerjaan dengan gaji (beserta tunjangan di hari tua) lainnya seringkali ayah dan ibumu sebut-sebut dalam obrolan. Memang sih sekarang umurmu sudah kepala dua, hidup harusnya sudah kamu kendalikan sepenuhnya. Kekangan atau aturan yang buatmu tak leluasa bergerak dari ayah dan ibu harusnya juga sudah tak lagi menjerat seperti saat kecil dulu.

2. Awalnya egomu menolak. Namun lama-lama hati kecil dan logikamulah yang akhirnya tergerak

Akhirnya hati dan logikamu tergerak

Akhirnya hati dan logikamu tergerak via http://www.unsplash.com

Advertisement

Namun lagi-lagi semesta bekerja sesuai kehendaknya. Kamu yang dulu antipati dengan pekerjaan yang sering disebut-sebut ayah dan ibu itu, kini jadi ragu-ragu.

Mau meninggalkan mimpi tapi kok rasanya kamu cemen sekali. Namun kalau tak dijalani, kamu takut jadi anak yang tak tahu diri?!

Akhirnya setelah dipikirkan matang-matang, bahkan sampai kamu terbangun di tengah malam, sebuah keputusan besar pun diambil. Mohon maaf ego dan sederet mimpi yang telah dipupuk lama, kalian sepertinya harus sejenak ditunda. Sebab pada akhirnya hati kecil dan logikamulah yang bergerak dan mengambil kendalinya. Dengan (sedikit) berat hati, kamu memutuskan untuk mewujudkan mimpi ayah dan ibu terlebih dahulu. Walaupun pekerjaan yang tengah kamu usahakan ini terlihat ngehe dan yang jelas sangat jauh dari passion-mu.

3. Bukan, semua ini kamu lakukan bukan untuk gaji yang lumayan atau sederet tunjangan. Namun semua kamu lakukan untuk memenuhi keinginan dua orang yang kamu cinta mati-matian

Semata-mata demi orangtua

Semata-mata demi orangtua via http://www.unsplash.com

Advertisement

Halah, ngaku aja kalau gaji jadi XXXX itu lebih menjanjikan. Daripada jadi penulis kan cuman bisa buat jajan doang~

Nggak hanya satu dua, tapi banyak cibiran dan omongan meremehkan datang saat keputusan untuk memenuhi keinginan orangtuamu ini kamu lakukan. Padahal jauh dari lubuk hatimu yang paling dalam, kamu hanya ingin membalas segala kebaikan yang telah ayah dan ibumu berikan. Sebab prinsipmu hanya satu: selagi masih ada kesempatan, apapun akan kamu lakukan untuk memenuhi apa yang ayah dan ibumu inginkan. Toh umur seseorang nggak ada yang tahu. Jadi sebelum waktu mereka berdua habis di dunia, sekuat dan se-ngehe apapun tantangannya akan kamu terjang.

4. Meski ada aja yang sempat menyurutkan langkahmu, tapi ketika melihat raut muka ayah dan ibu, semangatmu kembali menggebu

Ayah dan ibulah yang kembali membulatkan semangatmu

Ayah dan ibulah yang kembali membulatkan semangatmu via http://www.unsplash.com

Nggak hanya pandangan meremehkan serta omongan orang, tapi dirimu sendiri pun sempat meragukan. Pertanyaan "Yakin nih mau gabung seperti mereka? Yakin nih passion-mu mau ditinggalin gitu aja?" memenuhi kepala tiap kali kamu berkaca. Sempat beberapa kali kamu hampir mundur karena semangatmu pelan-pelan mulai kendur. Namun saat kembali melihat raut optimis dari ayah dan ibu, kamu seperti ditampar dan diperlihatkan tujuan utamamu selama ini: mewujudkan paling tidak datu dari sekian banyak impian ayah dan ibu.

5. Urusan mimpi dan renjanamu bisa menunggu. Sekarang yang terpenting adalah bisa mewujudkan keinginan ayah dan ibu. Apapun itu…

Yang penting ayah dan ibu lebih dulu :)

Yang penting ayah dan ibu lebih dulu 🙂 via http://www.google.com

Sebagai anak, kamu sepenuhnya percaya bahw ayah dan ibumu hanya ingin yang terbaik untukmu. Meski ya…keinginan mereka sedikit kurang sesuai denganmu. Pun dengan mata dan kepalamu sendiri, kamu menyaksikan betapa gigihnya kedua orangtuamu berjuang agar kamu dan adik-adikmu terpenuhi keinginannya. Hal itulah yang semakin membulatkan tekatmu untuk segera mewujudkan apa yang mereka inginkan, meski mimpi yang selama ini kamu tata, harus sedikit dinomorduakan.

Kamu sadar bahwa memilih untuk tetap menjalani mimpi dan sedikit egois pun tak apa dilakoni. Namun inilah pilihan yang sekarang sedang kamu seriusi. Untukmu yang dengan lapang dada mendahulukan keinginan kedua orangtua, tak apa sejenak menunda mimpi dan menomorduakan renjana. Toh demi dua orang tercinta yang entah sampai kapan bisa memelukmu di dunia, pengorbanan kecil ini rasanya tak ada apa-apanya~

Tetap semangat ya! Mimpi-mimpimu itu, pasti akan menemukan jalan kalau memang sudah waktunya. Kamu hanya perlu percaya 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya