Menelisik 7 Perubahan Baik yang Terjadi Sejak Kemunculan Pandemi Virus Corona

Melihat COVID-19 Dari Kacamata yang Berbeda.

Memang benar tidak ada dari kita yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Termasuk hadirnya COVID-19 di beberapa waktu belakang ini, kita tidak mampu memprediksikan sebelumnya. Wabah penyakit ini hadir begitu saja dan membuat seluruh penduduk bumi cukup terguncang. Di awal masa kehadirannya di bumi atau bahkan hingga saat ini, beberapa pemimpin sebuah negara atau kota secara tegas mengambil keputusan untuk mengkarantina wilayahnya agar penyebaran virus ini tidak semakin merajalela (bahkan beberapa wilayah sempat memilih untuk lockdown).

Kehadirannya tidak bisa disepelekan, karena dia telah merenggut banyak nyawa. Mulai dari pejabat tinggi, orang-orang penting-tokoh penting, artis, rakyat jelata, bahkan para tenaga medis yang berusaha untuk mengendalikannya, telah menderita karenanya, bahkan beberapa harus kembali kepada Sang Pencipta. Sampai sekarang ini, belum ada obat dan vaksin yang dipatenkan untuk mengendalikan bahkan mencegahnya. Informasi yang beredar hanya menyebutkan bahwa ini adalah jenis penyakit baru (virus baru) yang menyerang imunitas tubuh dengan gejala hampir mirip dengan flu.

Sehingga, yang penduduk bumi perlu lakukan saat ini hanya taat kepada setiap aturan yang dikeluarkan di masing-masing wilayah tempat tinggal, yaitu, dengan melakukan karantina #dirumahaja, dan berusaha tetap menjaga bahkan meningkatkan imunitas tubuh. Sungguh, banyak hal menjadi tidak pasti karena keberadaannya. Banyak pihak dirugikan karena keberadaannya. Banyak usaha-industri terancam bangkrut karena keberadaannya. Kegiatan belajar-mengajar pun terpaksa dilakukan secara online di rumah masing-masing karenanya.

Dan kini setelah hampir satu tahun penuh, kira-kira perubahan baik apa saja sih yang telah terjadi karena keberadaannya? Yuk segera simak penjelasan tentang Menelisik 7 Perubahan Baik yang Terjadi Sejak Kemunculan Pandemi Virus Corona di bawah ini.

Advertisement

1. Hubungan keluarga mulai dipulihkan

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Disaat seperti ini saya baru sadar, ternyata nomor satu itu keluarga. Jam empat pagi biasanya saya sudah pergi ke pasar untuk masak buat kantor. Sore baru bisa ketemu anak-anak. Tapi setelah itu, selepas maghrib, saya sudah pergi lagi ke warung untuk jualan. Malam lagi baru bisa ketemu, kadang yang kecil-kecil sudah tidur ketika saya pulang, sisa si sulung yang bisa ketemu saya waktu pulang.

Tapi sejak korona datang, mereka merdeka dan senang. Karena saya bisa kasih waktu saya lebih banyak sama mereka, ngajak main, cerita-cerita, nyuapin mereka. Ya, meskipun lauknya seadanya, tapi mereka bahagia mendapat haknya. Hak untuk selalu saya temani.

Advertisement

Seperti itulah pesan seorang ibu yang mengalami PHK sejak kehadiran pandemi ini. Jujur saya sangat merasa terharu mendengar kisahnya ini. Ternyata ada juga pihak yang merasa bahagia karena banyaknya akibat buruk yang disebabkan oleh wabah penyakit yang cepat sekali penyebarannya ini. Yaps! Mereka itu adalah anak-anak, iya, mungkin bagi anak-anak yang salah satu orang tuanya tidak bekerja dan menemani di rumah, mereka akan merasa terbiasa dengan keberadaan orang tua.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang kedua orang tuanya adalah pekerja? Mereka kehilangan hak mereka, (terkadang) mereka dituntut menjadi dewasa-mandiri sebelum waktunya. Mungkin waktu-waktu ini adalah waktu-waktu yang telah lama mereka doakan, untuk akhirnya mereka bisa ditemani oleh (ya, setidaknya) ibu mereka. :”)

Advertisement

~~

“Dek, gimana kabarmu, mau abang kirim ikan teri kah buatmu?”
“Nggak usah bang, di sini kita masih bisa belanja, masih banyak warung, pasar yang buka.”

Percakapan singkat itu datangnya dari seorang teman kantor saya dengan abang kandungnya yang tinggal di kota-provinsi-pulau lainnya. Dia mengaku bahwa sudah cukup lama mereka memang tidak tinggal di satu kota dan tidak saling bertanya kabar, mereka hidup sendiri-sendiri. Tapi menurutnya, di waktu-waktu ini ketika penyebaran virus ini semakin meluas, abang dan kakanya bahkan mulai memperhatikannya, menanyakan kabarnya, bahkan sering berbagi info lewat pesan di aplikasi whatsapp.

Tidak hanya dua contoh itu saja yang bisa meyakinkan readers bahwa sedang terjadi perubahan baik di lingkungan keluarga sejak hadirnya wabah COVID-19 ini, tetapi, readers bisa juga membaca di beberapa postingan di media sosial seperti, instagram, bahwa, para teman, selebgram, para artis atau siapapun yang kalian ikuti di media sosial, kini mereka mulai membagikan momen-momen bersama anggota keluarganya.

Iya, di waktu-waktu sekarang ini semenjak kehadirannya yang melahirkan kebijakan #dirumahaja. Atau kini mulai ada  pembatasan ruang gerak dan kewajiban menerapkan protokol kesehatan, mereka mulai memberikan waktu yang lebih banyak buat anggota keluarganya (misalnya : memasak bersama, makan bersama, membersihkan rumah bersama, menonton bersama, dsb).

Bahkan, bagi saya pribadi, semenjak perubahan keadaan dari terbebas virus sampai waspada virus ini, saya juga merasa bahwa hubungan jarak jauh saya dengan keluarga saya mulai erat kembali. Karena, sejujurnya, dari sejak di bangku kuliah, saya tipe orang yang jarang berkomunikasi dengan intens kepada orang yang berada jauh dengan saya, termasuk dengan keluarga saya.

Saya lebih sering menghubungi ketika ada keadaan-keadaan penting saja. Tapi sekarang, di waktu-waktu ini, bahkan mungkin sayalah anggota keluarga yang paling aktif membagikan foto kegiatan saya di tanah rantau kepada mereka.

Mulai dari mengirimkan foto sedang bekerja di rumah, foto makanan yang saya masak, bahkan foto ketika saya sedang berbaring santai. Iya, semua itu saya bagikan kepada anggota keluarga saya melalui group keluarga di aplikasi whatsapp. Beberapa kali, saya juga mulai menghubungi mereka dengan video call.

Benar, sekalipun keadaan sekarang ini susah dan tidak enak di beberapa sisi yang lain, tapi untuk sisi keluarga ada beberapa perubahan yang baik, yang membuat banyak hubungan yang datar dan tidak hangat antara anggota keluarga berbalik menjadi mulai dipulihkan dan lebih hangat. 🙂

2. Mulai Memperhatikan Kesehatan dan Kebersihan Tubuh

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

“Kakakmu lagi olahraga dan berjemur.”

“Udahlah, nggak usah beli minuman soda lagi, ganti beli yang vitamin C itu.”

“Aku mau beli skipping ya, mau olahraga setiap pagi di rumah.”

“Yuk, beli sabun cuci tangan yang merk itu. Katanya itu ampuh mematikan kuman dan virus.”

“Kan kamu dari luar, ayo cepat cuci tangannya dulu.”

“Kak, kami mau beli madu ya, masih ada kah?

“Udahlah, masak sendiri aja kita di rumah, ayo kita belanja. Takut, makanan diluar belum tentu bersih dan sehat.”

“Tau nggak kak, aku beli masker 50 biji harganya Rp. 255.000. Demi apa coba!”

Kalimat-kalimat diatas, adalah beberapa perubahan yang orang-orang di sekitar saya lakukan semenjak kmunculan wabah penyakit ini dan hingga sekarang ketika penyebaranya semakin merajalela. Kebanyakan mereka sekarang mulai memilih mengorbankan uang mereka untuk lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan mereka. Mereka mulai mengkonsumsi vitamin, madu, membeli alat-alat untuk berolahraga, membeli sabun cuci tangan khusus, rajin mencuci tangan setiap kali pulang dari suatu tempat, makanan-makanan sehat.

Bahkan mau menolak rasa malas untuk memasak makanan sendiri di rumah dan menghindari jajan di luar, mengganti beberapa aktifitas rutin di pagi hari (yang biasanya sering mager dan ogah-ogahan olahraga apalagi berjemur, sekarang mulai berolahraga dan berjemur rutin di pagi hari).

Selain itu, beberapa dari kita rela berburu perlengkapan untuk menjaga kebersihan, contohnya masker, meskipun di awal pandemi kemarin harganya sempat melejit tinggi. Well, lihat sendiri kan readers, semua dari kita kini berusaha menjaga imunitas badan dengan memilih untuk mulai menjaga kebersihan dan kesehatan meskipun dengan “membayar harga” (baca : banyak pengorbanan).

Bahkan, kita kini rela meng-update banyak sekali informasi seputar bagaimana cara menjaga kesehatan dan imunitas. Contohnya, kini banyak orang mulai mengkonsumsi jamu yang diracik secara pribadi di rumah (misalnya, terdiri dari jahe, temulawak, serai, kunyit, kayu manis, dsb).

Dan tidak hanya masyarakat biasa seperti kita yang mulai peduli dengan kebersihan dan kesehatan, tapi semenjak kehadiran virus ini, kalangan pejabat, artis/aktor, dan tokoh masyarakat juga mulai memperhatikan kesehatan dan kebersihan mereka. Ini terbukti dari unggahan/postingan ataupun berita-berita di media sosial/jejaring online.

Kalau kalian gimana? Sama juga kan, mulai lebih perhatian dengan kebersihan dan kesehatan?

3. Mulai Lahir Kepedulian Antar Sesama Manusia

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Bagi sebagian besar orang dengan perekonomian yang baik bahkan tinggi, awal kemunculan wabah penyakit ini telah mendorong mereka untuk segera bersiap sedia. Mereka mulai berbelanja dan memborong banyak bahan kebutuhan harian di supermarket-supermarket yang ada.

Bahkan, karena panik banyak produk kesehatan untuk menjaga imun tetap dalam kondisi baik juga sempat mereka borong kemarin.

Dan selanjutnya, mereka mulai merasa ”aman” dalam menghadapi masa karantina dengan semua barang yang telah berhasil mereka borong tersebut.

Nah, lalu bagaimana dengan nasib orang-orang dengan perekonomian rendah? Dimana mereka jelas tidak bisa turut serta dalam aksi borong-memborong segala kebutuhan di dalam masa karantina kemarin?

Bahkan, mirisnya, kebanyakan mereka sudah pasti tidak bisa ikut serta juga dalam masa karantina di awal kemunculan pandemi ini, mengingat, penghasilan mereka diperoleh ketika mereka keluar bekerja setiap harinya? Bagaimana?

Dengan pertanyaan-pertanyaan ini (waktu itu-di awal virus ini mulai menyebar ke Indonesia) saya mulai merenung, lalu, tiba-tiba ponsel saya berbunyi, disana tertulis pesan terusan (forward message) yang tertulis seperti ini,

WONG TEGAL BANTU WONG TEGAL
Teman-teman, Covid-19 bukan saja berbahaya bagi kesehatan, tetapi juga bagi penghasilan, terutama bagi para pekerja harian yang bisa mendadak putus penghasilan.

Ini saatnya kita peduli, ini saatnya kita berbagi. Kita menjadi kawan baik bagi mereka. Meski kecil, langkah kita pasti berguna. Kita mau berbagi beras atau sembako kepada para tukang becak, tukang parkir, tukang ojek, dan lain-lain di kota/kabupaten Tegal. Bagi yang mau membantu sukarela bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Seperti itulah pendahuluan pesan terusan (forward message) yang dikirimkan oleh salah satu teman saya di sebuah group organisasi non-profit, dimana saya tergabung di dalamnya.

Usut punya usut ternyata pesan terusan itu berasal dari kampung halaman teman saya ini. Ternyata, warga di kampung halamannya sedang mengumpulkan uang sukarela untuk membantu orang-orang dengan perekonomian rendah yang terkena dampak langsung karena pandemi ini.

Dan di pesan selanjutnya tertulis rentetan nama yang mulai menyumbang, tertulis disana, ada yang menyumbang dari mulai Rp.200.000,00 hingga Rp. 2.000.000,00.

Sungguh, saat itu saya membacanya dengan berkaca-kaca. Ternyata, meskipun keadaannya sulit, tapi masih banyak orang yang mau tetap membuka matanya untuk melihat sekitar dan saling membantu.

Tidak hanya itu, sempat di beberapa artikel berita nasional dituliskan bahwa hadirnya wabah penyakit ini telah melahirkan kepedulian antara sesama manusia di bumi ini.

Sempat diberitakan di salah satu artikel berita nasional, bahwa dua orang warga di New York telah mengumpulkan sebanyak 1.300 relawan dalam 72 jam untuk mengantarkan bahan makanan dan obat-obatan untuk kaum lansia dan rentan di kota tersebut.

Tidak hanya New York, di Kanada, Inggris, India, Australia pun, beberapa organisasi-swalayan telah melakukan banyak aksi untuk menolong sesamanya manusia yang kesusahan akibat virus ini.

Ternyata kehadiran wabah ini telah melahirkan kepedulian antar sesama manusia di berbagai tempat di dunia.

Iya, mulai muncul gelombang kekompakkan untuk tidak egois menjalani hidup dan peduli akan orang lain. Sungguh suatu keadaan baik yang masih bisa membuat kita bersyukur dan menarik nafas legah ditengah ribuan keadaan buruk yang akhir-akhir ini mengacaukan dunia akibat kehadiran si Mr/Mrs.Cor. Hehehe. 

4. Mulai Menghargai Waktu (Kebersamaan)

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Dahulu, kalau lagi kumpul, masing-masing sibuk online.
Nah sekarang, bisa full online, tapi nggak bisa kumpul.
*tears

Seperti itulah inti dari beberapa postingan meme di media sosial tentang kondisi kehidupan masyarakat semenjak hadirnya COVID-19, yang sempat terbaca mata saya. Iya, betul, dahulu, seringkali kita tidak bisa menghargai waktu-waktu kebersamaan dengan berusaha sibuk sendiri berselancar di dunia maya. Tapi sekarang, apa yang terjadi ketika kita tidak lagi bisa bebas berkumpul karena kehadiran tamu sang virus yang-namanya-tidak-boleh-disebut (seakan membaca buku harry potter hehehe).

Apa yang terjadi? Kita punya waktu yang lebih banyak tanpa dibatasi kegiatan apapun untuk bisa berselancar di media sosial. Namun, iya, namun, kita merasa begitu kesepian dan sangat merindukan kehadiran manusia lain untuk bisa berkegiatan bersama, bersenda gurau bersama, sampai sekedar bercengkrama bersama menikmati senja di warung-warung kopi.

Hm. Seandainya waktu bisa diputar kembali, pasti setiap kita rindu bisa melakukan-memberikan yang terbaik di setiap apapun yang dipercayakan untuk kita kerjakan bersama orang lain (entah di dalam pekerjaan, komunitas, keluarga besar, dsb).

Dan lalu saya mendapati bahwa beberapa teman saya bahkan diri saya sendiri mulai memposting di beberapa media sosial tentang waktu-waktu lampau, ketika kita masih diizinkan untuk bebas berkumpul bersama.

Iya, kita mulai mengingat semua momen-momen kebersamaan yang dahulu sempat tidak diperhitungkan keberhargaannya. Dan lalu, kita akhirnya mulai berjanji pada diri sendiri maupun teman/rekan kerja/keluarga untuk melakukan banyak kegiatan bersama yang lebih menyenangkan dan berfaedah di hari-hari kedepan.

Iya, kita mulai berjanji untuk nantinya lebih memanfaatkan dengan baik setiap waktu-waktu yang dihabiskan bersama dengan orang lain.

”Nanti, kalau semua ini sudah redah, aku bakalan lebih rajin lagi ikut doa bersama setiap Sabtu ya kak.”

”Nanti, kalau udah bisa ketemu anak-anak lagi, mau lebih sering dengerin cerita mereka, bercanda sama mereka, ketimbang lebih fokus ke HP kak.”

”Nanti, kalau udah pergi si virus, kita makan-makan bersama ya, kita buat permainan seru bareng kakak-kakak yang lain.”

”Kakak bersyukur masih bisa hidup dan menjalani hari yang baru, nanti kalau badai sudah berlalu, kita nonton bareng ya, jalan bareng, makan bareng, nginep rame-rame di rumahmu ya dek.”

~~

Dan seperti itulah beberapa janji yang orang-orang di dekat saya mulai ucapkan ketika kami saling berkomunikasi lewat video call di beberapa aplikasi yang disiapkan oleh smart phone, di babak awal kemunculan COVID-19. 

Sungguh, sebuah perubahan yang cukup penting dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Iya, kehadiran sang virus, membuat kita lebih mau menghargai waktu-waktu yang ada, lebih menghargai setiap nafas yang masih diberi untuk bisa menjalani hari-hari dengan penuh semangat dengan selalu berusaha tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan-waktu yang ada.

Dan terutama, kehadirannya, membuat kita mulai menghargai setiap momen-momen kebersamaan yang ada, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang penting dan bernilai untuk dihabiskan dengan banyak kegiatan positif untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Karena ternyata, kita ini, sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup sendirian, kita butuh orang lain. Iya, kita butuh berinteraksi seorang dengan yang lain. 🙂

5. Mulai Rehat, Mengevaluasi Diri, dan Tujuan

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Beberapa dari kita yang rutin melakukan aktifitas-aktifitas di luar rumah, seperti bekerja, bersekolah, ikut bimbel (bimbingan belajar), menghadiri rapat-rapat, atau terlibat kesibukan-kesibukan rutin lainnya agaknya kini merasa cukup legah semenjak digaungkan kebijakan untuk #dirumahaja akibat hadirnya si virus asal negeri tirai bambu ini. Iya kan? Ayo coba jujur deh. Hehehe.

Bagi saya pribadi, yang memang terbiasa disibukkan dengan banyak aktifitas rutin di luar rumah, cukup agak legah ketika kebijakan #dirumahaja diberlakukan.

Bagaimana tidak legah? Selama ini kita seakan dikejar-kejar tanpa toleransi sedikitpun untuk mengerjakan banyak tuntutan pekerjaan di luar rumah, tiba-tiba mulai mendapat kesempatan untuk mulai lebih banyak beraktifitas di dalam rumah (baca : work from home / wfh). Iya kan?

Iya, akhirnya kita mulai bisa mengerjakan banyak hal yang selama ini karena kesibukan di luar rumah tidak sempat kita kerjakan, tapi kini kita bisa mulai mengerjakannya.

Seperti, mulai membereskan lemari pakaian, membereskan rumah, mulai punya waktu untuk mengexplore hobby seperti, menulis, belajar bahasa asing, memasak, menjahit, dan lain sebagainya. Mulai ada siklus yang baru dari semua aktifitas kita selama ini, yang cukup melelahkan dan menjemukan di luar rumah. Iya, kita mulai bisa rehat, sesekali mengevaluasi banyaknya keputusan-keputusan yang sudah kita ambil dalam hidup, bahkan kita mulai mendifinisikan ulang tujuan-tujuan dalam hidup kita.

”Di dalam diri kita itu sudah dikasih kemampuan dan potensi, yang harus digali lebih lagi dan dikembangkan. Dan dari situ kita harus mulai menyiapkan diri untuk masuk di musim yang baru ke depannya.”

Seperti itulah perkataan seorang tokoh agama beberapa waktu lalu. Dan jika direnungkan kembali, semua itu benar. Dengan kata lain, di masa-masa sekarang ini, dengan banyaknya rutinitas baru yang kita kerjakan. Harusnya kita juga mulai menyisipkan untuk melakukan hal-hal ini.

Karena di waktu seperti inilah, waktu yang tepat untuk kalian mulai rehat, mengevaluasi diri dengan melihat semua kelemahan-kelebihan, pencapaian, kegagalan yang telah terjadi di dalam hidup kita, bahkan mulai mendefinisikan kembali tujuan hidup kita.

Atau bisa juga dengan kita mengevaluasi diri. Maka, bukan sesuatu yang mustahil jika akhirnya kita bisa menemukan beberapa potensi lain dalam diri kita yang bisa jadi penting untuk mewujudkan tujuan hidup kita kedepannya.

Semua ini sangat penting dan perlu untuk mulai dilakukan juga, karena kedepannya, setelah musim virus ini berlalu, pastinya, kita akan memasuki musim yang baru, yang kemungkinan akan lebih berat, dan menuntut kesiapan diri kita lebih lagi.

Kita harus menyiapkannya sekarang, iya, di masa-masa ini, kita harus benar-benar mulai rehat, mengevaluasi, mendefinisikan ulang, menggali-menemukan potensi, bahkan mulai menyusun banyak strategi baru untuk mulai menghadapi musim-musim ke depan.

Dan lihatlah, dari semua tulis ini, kita tahu bahwa kehadiran virus ini telah memberi kita banyak keuntungan untuk kita mulai memiliki banyak waktu rehat untuk mulai mengevaluasi diri, dan menggali dan menemukan potensi-potensi baru yang bisa sangat membantu untuk menentukan tujuan hidup kita kedepannya (entah mengalami perubahan tujuan karena penemuan-pengembangan potensi baru atau semakin mantap dan kuat melalui penemuan-pengembangan potensi yang baru tersebut).

Dan akhirnya, saya sungguh percaya, banyak dari kita akan lebih siap menghadapi hidup dan mencapai keberhasilan yang belum pernah kita capai sebelumnya karena mulai melakukan semua itu di masa-masa istirahat (tidak terlalu aktif-padat) ini.

6. Mulai Mencari Sang Pencipta

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Paling utama, perubahan yang terjadi karena hadirnya virus yang sungguh sangat menggemparkan seluruh bumi ini, adalah, banyak orang mulai memandang kepada Sang Pencipta. Mulai mencari Sang Pencipta dengan lebih bersemangat daripada biasanya ini, guna meminta belas kasihanNya-pertolonganNya untuk segera dinyatakan bagi semua penduduk di muka bumi ini.

”Mulai hari ini, doa bersama di rumah masing-masing kita adakan setiap hari ya. Jadi setiap hari pkl 22.00 kita serempak berdoa bersama untuk virus ini segera pergi dari bumi dan bangsa kita.”

“Kita juga berdoa untuk orang-orang pintar bisa dipakai Tuhan untuk segera menciptakan obat dan vaksin untuk menghadapi virus ini. Berdoa juga untuk setiap tenaga kesehatan, bahkan kita dan keluarga kita agar dilindungi Tuhan dari kedahsyatan virus ini ya, teman-teman.”

”Kita juga mulai berpuasa ya beberapa hari kedepan untuk membawa wabah ini ke Tuhan”

Seperti inilah pesan yang dituliskan di beberapa grup aplikasi whatsapp saya di beberapa waktu belakangan ini (di masa awal pandemi). Mereka mulai mengubah jadwal doa bersama mereka yang biasanya satu minggu satu kali, menjadi setiap hari. Well memang benar, di waktu-waktu kemarin, keadaannya sungguh kacau. Berita-berita menyampaikan banyaknya korban jiwa karena virus ini. Paling sedihnya, virus ini membuat banyak orang yang terkena akhirnya meninggal dan dikuburkan dengan cara yang tidak pantas.

Sempat kita dengar bahwa, beberapa negara bahkan memilih untuk membakar mayat orang yang terkena virus ini. Bahkan sempat juga ada kabar yang menyatakan bahwa satu negara memilih untuk mengeksekusi warga negaranya yang positif terpapar virus ini. Sungguh ngeri, bukan?

Tidak ada yang bisa diandalkan menghadapi virus ini, bahkan para tenaga medis pun dibuat kewalahan karenanya. Bahkan, tidak sedikit tenaga medis yang harus gugur dalam pertarungan melawannya. Dan, keputusan untuk mulai berbondong-bondong secara serempak-kompak mencari Sang Pencipta adalah keputusan yang benar. Sebagai makhluk ciptaan kekuatan kita terbatas, hanya Sang Pencipta saja yang punya kekuatan super dan mampu melepaskan kita dari semua keadaan ini.

Karena seperti kita tahu, dan sudah ada di dalam pembahasan sebelumnya, bahwa, virus ini tidak hanya menyerang orang-orang kecil yang rentan. Melainkan, orang-orang dengan posisi-jabatan-kedudukan paling tinggi di muka bumi ini pun tak kuasa menghadapinya dan juga ikut terpapar olehnya (para pejabat tinggi, artis/aktor, tokoh dunia).

Kita perlu Sang Pencipta kita untuk melepaskan semua penduduk bumi dari wabah penyakit ini. Tersiar berita dari Brazil kemarin, bahwa orang-orang yang ada dalam masa karantina #dirumahaja memilih untuk menyanyikan lagu secara serentak untuk memuji Sang Pencipta mereka melalui jendela-jendela rumah mereka.

Mulai ada gelombang mencari Tuhan yang semakin hari semakin meluas ke seluruh bumi. Mengingat bahwa tidak ada kekuatan lain di bumi ini yang bisa menghadapi dahsyatnya virus ini. Hanya Tuhan saja yang mampu. Iya, benar, hanya DIA saja yang bisa mengerjakan banyak hal-hal dahsyat dan ajaib di segala aspek hidup kita. Sampai kapanpun kita harus sadar bahwa kita ini perlu Tuhan. Karena mulai mencari Tuhan di dalam menjalani hidup ini akan mendatangkan banyak keuntungan buat hidup kita.

7. Mulai ada Kualitas Udara yang Bersih dan Segar

Photo by Unsplash

Photo by Unsplash via https://images.unsplash.com

Di masa awal pandemi, sejumlah negara mulai menutup wilayahnya untuk menghentikan penyebaran wabah penyakit ini, COVID-19. Dan karenanya, tingkat polusi menjadi menurun secara signifikan. Menurut BBC, para peneliti di New York mengatakan bahwa karbon monoksida yang utamanya berasal dari mobil-mobil telah berkurang hampir 50% dibandingkan tahun lalu (ini di beberapa bulan masa lockdown di sebagian besar wilayah di bumi).

Ketika semakin banyak orang yang memutuskan untuk bekerja dari rumah, maka, membuat semakin banyak negara di dunia sangat mungkin mengalami penurunan tingkat polusi. Apalagi sampai saat ini, banyak maskapai yang telah membatalkan penerbangannya. Dimulai dari Cina, menurut citra satelit NASA, jumlah polusi udara di langit Cina berkurang drastis. Kemudian, Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), juga menuturkan, bahwa, sejak 3 Februari hingga 1 Maret 2020, emisi karbondioksida (CO2) di negeri tirai bambu itu turun 25 persen. 

Ini merupakan sebuah pencapaian yang baik, mengingat, bahwa Cina selama ini tercatat sebagai negara dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di dunia. Iya, Cina paling sedikit telah menyumbang 30% dari total emisi karbondioksida di dunia setiap tahunnya. Waow, sungguh sebuah perubahan postif terjadi di lingkungan! Dan, ternyata, tidak hanya Cina negara yang mulai mengalami perubahan kualitas udara yang lebih segar akibat hadirnya virus ini, melainkan Hong Kong, Italia, Negeri Paman Sam, bahkan Indonesia juga mengalami konsekuensi positif dalam hal lingkungan dengan menurunnya tingkat polusi udara secara signifikan.

Menurut informasi yang beredar, polusi udara di Hongkong mengalami penurunan hampir sepertiga, terhitung dari sejak diberlakukannya lockdown. Sama dengan Cina dan Hongkong, Italia juga kini menikmati udara yang lebih segar. Menurut ahli ekonomi perubahan iklim di Georgia Tech University, Emanuele Massetti, pengurangan karbon terjadi karena sebagian besar mobil diesel tidak berjalan.

Negeri Paman Sam pun juga tak ketinggalan, melansir dari RideApart, dengan minimnya aktivitas mobil di jalan raya, polusi udara di San Fransisco, berkurang hingga 50%. Bahkan data menunjukkan bahwa New York, Michigan, dan California menjadi kota dengan penurunan polusi udara sebesar 37%. Penurunan ini disebut-sebut menjadi yang paling drastis secara Internasional.

Tak ketinggalan negara kita, Indonesia, menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kualitas udara di wilayah Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Kalimantan, dan pulau Jawa jauh lebih bersih pada Maret 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Benar, emisi gas buang transportasi dan industri telah berkurang beberapa waktu terakhir ini. Hal ini tentu saja berkaitan dengan diterapkannya sistem bekerja dari rumah (baca : work from home/wfh) dalam dua pekan terakhir karena penyebaran virus yang semakin meluas di dalam negeri Indonesia.

Waow, lihat kan readers? Meskipun COVID-19 menciptakan mimpi buruk bagi seluruh penduduk bumi. Namun siapa sangka, virus ini ternyata sempat (dan agaknya masih) membawa perubahan pada kualitas udara yang lebih bersih dan segar di beberapa negara ini, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia (ada konsekuensi positif untuk lingkungan).

~~~

Well readers, setelah membaca semua ini, kalian jadi sadar kan kalau sebenarnya ada sisi lain yang membaik semenjak wabah penyakit ini hadir?

Percayalah, bahwa dibalik musibah penyakit yang sangat mengguncangkan kita semua ini, Sang Pencipta sedang merencanakan hal-hal yang baik. Dia sedang mengerjakan sesuatu yang indah untuk kita para ciptaanNya. Dan biarlah semua perubahan yang baik ini terus berkelanjutan dan semakin meningkat kedepannya, sekalipun nantinya wabah virus menular ini sudah meninggalkan bumi. Amen! Have a nice day, peeps!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Shangrila.(n) ; any place of complete bliss and delight and peace→The Lost Horizon, James Hilton(England,1933)™ Passion Never Weak

CLOSE