Bheni e!

Ungkapan di atas diambil dari bahasa Lio di Ende yang berarti "keren kan!"

Di antara kalian coba siapa sih yang ga kenal Ende? Ayo ngaku aja deh. Ende memang kalah pamor dibanding destinasi di Flores lainnya semacam Labuhan Bajo, Wae Rebo, atau Lembata. Tapi jangan salah, asal usul dasar negara kita justru berasal dari Ende, loh. Ende merupakakan sebuah kabupaten yang memiliki nama kota yang sama, yaitu Ende. Terletak di tengah pulau Flores dan mayoritas dijadikan tempat transit untuk para wisatawan yang ingin berpergian ke Labuhan Bajo, Larantuka, Bajawa, Maumere, dan berbagai kota lainnya. Wisatawan yang datang untuk transit biasanya salah kaprah dan cuma kenal Kelimutu di Ende dan melupakan daerah sekitarnya.

Ende memang kota kecil, kalo dikelilingin ya ketemunya jalan itu lagi- itu lagi. Tapi jangan salah, Kabupaten Ende punya berbagai tempat menarik yang sayang banget kalo ga dikunjungi. Coba deh cek beberapa tempat ini:

1. Kelimutu

Siapa ga kenal Danau Kelimutu? Coba yang lahir awal tahun 90an ke bawah pasti tau kan kalau danau ini ada di uang 5000an? Yak, danau ini mempunyai 3 warna yang bisa berubah setiap saat, tanpa ada tanda-tanda apapun dan uniknya, saat air danaunya diambil, warnanya bening loh. Biasanya, warna danau ini mempunyai warna biru tua, toska, hijau, merah, coklat, bahkan hitam. Biasanya siih perubahan warna ini dikaitkan dengan kepercayaan penduduk sekitar dan Kelimutu memang dipercaya memiliki aura mistis. Tapi jangan takut! Kalian akan nyesel banget kalo ga mengunjungi tempat ini sebagai destinasi utama karena memang sangat bagus pemandangannya, apalagi kalo mau romantis-romantisan liat sunrise bareng.

Selain itu, daerah sekitar danau ini juga ga kalah asik buat dijelajahi karena terdapat berbagai jenis burung dan pepohonan karena masih terletak dalam satu kawasan Taman Nasional Kelimutu. Buat yang mau jalan santai, bisa. Atau yang suka trekking? Ga akan nyesel deh. Masuk kawasan hutan dan rumah penduduk, ada air terjun kecil atau sumber mata air yang rasanya seger banget setelah capek trekking.

2. Taman Perenungan Bung Karno

Advertisement

Nah, ini nih tempat asal mula lahirnya dasar negara kita. Pancasila pertama kali tercetus oleh Bung Karno di tempat ini, tepatnya di bawah pohon sukun bercabang lima yang konon dipercaya sebagai simbol 5 sila. Saat diasingkan di Ende, Bung Karno hobi duduk di bawah pohon sukun ini saat sore hari sambil membaca buku favorit beliau dan akhirnya tercetuslah falsafah Pancasila yang kita kenal sekarang sebagai dasar negara Indonesia. Walaupun pohon yang dulu digunakan untuk merenung sudah lapuk termakan usia, tetapi saat ditanam kembali pada tahun 1981, pohon sukun tersebut tetap tumbuh dengan mengeluarkan lima cabang. Hmmm ini kebetulan atau gimana ya, tapi unik juga.

Sejak tahun 2013, patung perunggu Bung Karno diresmikan di taman ini. Patung ini didudukkan di bawah pohon sukun cabang lima sehingga seakan-akan Bung Karno tetap ada di situ untuk bersantai. Terletak di dekat pusat kota, taman ini sangat nyaman untuk disinggahi dalam waktu yang lama. Walau terletak di dekat pelabuhan, tapi adem dan sejuk karena ditanami berbagai pohon besar. Jadi bisa joget-joget sambil piknik deh.

3. Rumah Pengasingan Bung Karno

Tentu saja, selain Taman Perenungan, pasti Bung Karno punya rumah toh. Ya, walaupun ini rumah pengasingan tapi rumah ini masih layak kok untuk ditinggali. Di dalam rumah ini terdapat beberapa ruangan yang digunakan untuk ruang kerja dan ruang tidur Bung Karno dan Ibu Inggit Ganarsih, dan anak angkat mereka, serta Ibu Amsi yang merupakan mertua Bung Karno. Di sini terdapat berbagai benda peninggalan dari Bung Karno seperti perabotan, peralatan makan dari keramik, peralatan rumah tangga, sampai naskah dan foto saat di pengasingan.

Selain dijadikan tempat tinggal, rumah ini juga digunakan sebagai tempat latihan tonil, atau sandiwara yang berisi perasaan terpendam Bung Karno terhadap revolusi bangsa ini yang dicurahkan menjadi berbagai judul naskah yang berbeda. Naskahnya sendiri masih disimpan di rumah ini bersama dengan karya-karya yang lain.

4. Desa Adat Saga

Desa ini merupakan salah satu desa adat yang terdapat di kawasan Kelimutu dan masih menjujung tinggi adat nenek moyang mereka dan masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sampai sekarang. Desa ini tidak dalam area datar yang sama tetapi berundak-undak. Pemandangannya bagus, udaranya bersih, penduduknya ramah, dan adat istiadat mereka yang masih kental membuat para wisatawan nyaman berada disini. Di sini memakamkan orang tidak dikubur selayaknya masyarakat umum di Indonesia. Mereka menguburnya di dalam makam batu pipih yang dibentuk seperti meja besar dan digunakan untuk berkumpul seperti untuk makan bareng. Jangan takut, hal ini lumrah untuk mereka. Acara berkumpul bersama itu sebagai wujud dari kebersamaan warga desa sehingga arwah orang yang sudah meninggal merasa diterima dalam kehidupan sosial warga setempat.

Selain itu di puncak desa tersebut terdapat makam anjing kesayangan pendiri desa Saga, yaitu Pala Wolo. Bagi warga desa ini, anjing dihormati karena mereka percaya bahwa sepasang anjing milik Pala Wolo melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang tumbuh besar dan "dibeli" oleh VOC untuk dibawa ke Belanda. Orang tua dari gadis itu, yang tak lain anjing milik Pala Wolo tidak rela anaknya dibawa pergi. Terdengar kabar bahwa gadis itu akhirnya meninggal di Pantai Gading. Hingga sekarang, penduduk desa ini masih menghormati anjing dan tidak mau menyakiti apalagi memakan dagingnya.

5. Desa Adat Wolotopo

Kampung adat ini terletak 14km dari kota Ende dan merupakan kampung adat megalitikum dengan adat-istiadat yang masih kental. Rumah di sini masih berupa rumah adat peninggalan zaman megalitikum dan terdapat kuburan batu yang besar-besar. Pusat dan tempat utama yang wajib dikunjungi setibanya di Desa Wolotopo tentu saja kawasan di atas bukit dimana terdapat rumah adat kuno dan kuburan kuno lengkap dengan menhir dan batu sesajinya. Warga desa ini juga masih rutin mengadakan upacara adat yang bagi wisatawan sangat menarik.

Selain itu, pemandangan dari desa ini juga sangat bagus, dari atas bukit kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam yang katanya wow banget. Enak banget kan duduk santai sambil nunggu sunset trus ngobrol sama penduduk setempat sambil makan singkong rebus bareng teh atau kopi. Jangan lupa kalau mau diabadikan ya!

6. Kuliner

Dateng ke suatu tempat kayaknya ga puas deh kalo ga nikmatin kulinernya. Di Ende, berbagai makanan sebenernya ada, tapi karena letaknya jelas di tepi laut, makanan yang paling enak itu jelas seafood. Kapan lagi coba bisa makan ikan laut murah, banyak, dan enak? Ikan di sini bisa segede paha manusia tapi harganya cuma 20-30 ribuan. Puas banget ga sih? Rasanya bener-bener beda sama yang ada di Pulau Jawa. Lebih segar dan gurih. Masaknya bisa digoreng, dibakar, atau yang paling nikmat itu, dimasak kuah asam. Buat yang ga bisa makan seafood, masih ada yang jualan ayam dan nasi Padang kok!

Ikan di sini ga selalu harus dimakan bareng nasi. Nasi is mainstream yo! Coba makan pake singkong nuabossi rebus atau kukus, singkong lokal yang gede banget tapi empuk, ga keras sama sekali. Terus dicocol pake sambel mentah yang entah kenapa cabe di Flores pedesnya kelewatan padahal ga diulek dan cuma dipotong-potong aja. Biar ga pedes, coba teh kemangi. Ini sebenernya teh biasa cuma pake daun kemangi. Buat yang ga suka teh atau kemangi sih sebaiknya nyoba dikit aja soalnya rasanya kuat banget dan enak kalo dikasih gula.

Jangan lupa minuman tradisionalnya, moke. Buat yang ga minum alkohol, jangan ya! Moke ini terbuat dari sulingan buah kolang kaling dan mengandung alkohol. Walau terbuat dari bahan dan proses yang alami, tapi kalo kebanyakan ya mabok juga. Kalo orang lokal nawarin, jangan ditolak begitu saja soalnya ga sopan dan dianggap ga menghargai tuan rumah. Jadi ya minum aja sedikit atau tolak dengan halus kalo memang ga mengkonsumsi alkohol.

7. Kain Tenun

Kain tenun di sini dijual di pasar tradisional yang ada di Ende. Ga cuma di pasar, tapi ada juga beberapa toko kerajinan yang menjual tenun, tapi memang harganya pasti agak lebih mahal dibanding yang dijual di pasar. Selain itu, kita bisa langsung beli di pengrajin yang ada di desa-desa sekitar, seperti desa Ndetukou dan desa Woloare. Tenun ikat di setiap daerah berbeda, apalagi jika beda kabupaten dan pulau. Motif, warna, dan gambarnya akan berbeda, didasari oleh kehidupan penduduk setempat. Gak cuma itu saja, motif yang digunakan oleh pria dan wanita akan berbeda, loh. Motif untuk pria biasanya akan lebih polos dan warnanya gelap, sedangkan untuk wanita lebih berwarna cerah dan motifnya beragam.

Kain tenun ini mash dibuaut dengan mesin tenun tradisional dan hanya dikerjakan oleh para wanita. Para ibu biasanya menenun sambil ngobrol dengan temannya untuk mengisi waktu luang. Kain yang ditenun ini bisa digunakan sendiri maupun dijual. Banyak loh ibu atau nenek yang masih memakai kain ini sebagai pakaian sehari-hari, jadi jangan heran kalau kita beli kain mahal-mahal, eh pas mereka pake udah lusuh. Asal disimpan dan dicuci yang benar, kain ini akan awet kok sampai puluhan tahun. Bahkan saking mahalnya beberapa jenis tenun bisa digunakan sebagai mas kawin, loh.

Nah, gimana? Asik kan di Ende? Ga cuma jalan-jalan aja, kita juga bisa belajar budaya dan sejarah kok. Belajar ga selalu harus di sekolah atau kampus, kalo begini kan lebih seru.

Mai kita mbana Ende! (Ayo kita ke Ende!)