Tidak banyak yang bermimpi menjadi penulis. Sulit sekali menemukan orang yang berani menancapkan di dadanya sebuah cita-cita besar yaitu menjadi penulis. Hampir semua orang sejak masa kecilnya sudah dicekoki dengan angan-angan untuk menjalani profesi yang dianggap menjanjikan banyak uang, seperti menjadi dokter, insinyur, pengawai negeri sipil, atau direktur perusahaan. Tetapi menjadi penulis? Orang tua mana yang berani “menjerumuskan” anak-anaknya untuk gandrung menulis hingga menjadikannya sebagai salah satu profesi?

Sebenarnya, apa saja sih yang bisa dilakukan atau didapat oleh seorang penulis itu? Apakah bisa menjadi kaya dan ternama gara-gara menulis? Apa dengan menulis kita bisa menjadi makhluk yang bermanfaat untuk umat manusia? Hmmm…. kenapa tidak? Mau bukti?

1. Dengan menulis bisa mendapat keuntungan materiil

Andrea Hirata Sebut Mahar Laskar Pelangi Adalah Pahlawan via http://www.jpnn.com

Tahu Andrea Hirata kan? Kebangetan deh kalau nggak tahu si penulis Laskar Pelangi ini. Pria asal Belitong ini bukan hanya sukses melambungkan namanya, tetapi juga menginspirasi semangat anak-anak bangsa untuk terus berjuang menggapai cita-cita. Menurut sebuah sumber, untuk satu judul novel Laskar Pelangi saja Andrea Hirata mampu meraih keuntungan Rp 3,6 miliar. Belum lagi penghasilannya sebagai narasumber berbagai seminar. Hmmm…. kalau duit segitu dibelikan kerupuk dapet berapa banyak ya? Tapi jangan salah. Seperti halnya J.K. Rowling, karya Andrea berjudul Laskar Pelangi itupun sempat mengalami penolakan demi penolakan dari berbagai penerbit sebelum akhirnya ada yang mau menerima.

Advertisement

Ah, tapi mencapai level kesuksesan Andrea Hirata kan perlu proses panjang, tidak instan, tidak mudah, dan perlu mental pantang menyerah meskipun menghadapi ratusan kali penolakan oleh media dan penerbit? Ya kalau mau sukses secara instan sih mendingan bikin video sensasional aja. Atau bisa juga ke tukang penggandaan uang. Yang jelas, Andrea Hirata sudah meberi bukti bahwa profesi sebagai penulis prospeknya tidak seburuk yang selama ini dibayangkan banyak orang.

2. Dengan Menulis, Kita Buka Mata Dunia bahwa Indonesia Bukan Cuma Bali

Book review 5 cm via http://elsaayu.blogdetik.com

Hingga detik ini, masih banyak orang di luar Indonesia yang tidak tahu Indonesia. Tapi kalau ditanya Bali, mereka tahu. Ironis kan? Padahal Indonesia bukan cuma Bali Bung. Indonesia kaya akan destinasi wisata. Sayangnya kurang dipromosikan secara efektif.

Nah, salah satu strategi untuk "memasarkan" potensi wisata daerah-daerah di Indonesia adalah melalui tulisan. Ini sudah dibuktikan Donny Dhirgantoro. Lewat novel karyanya berjudul 5 cm, Donny mampu mentenarkan nama Mahameru. Efek novel ini sungguh dahsyat. Gara-gara 5 cm, jumlah pengunjung Mahameru mengalami kenaikan sangat signifikan. Mengapa strategi ini tidak dicoba untuk daerah lain?

3. Menulis Sebagai Sarana Branding

Advertisement

Apa yang terlintas di benak anda jika disebut nama Enid Blyton? Yess. Lima Sekawan. Kisah petualangan 4 remaja (Julian, Dick, Georgina, Anne) plus seekor anjing bernama Timmy yang selalu berurusan dengan kasus kejahatan hingga akhirnya mampu membongkar tuntas. Karya Enid Blyton ini sangat laris manis di pasar perbukuan, khususnya di kalangan remaja. Boleh dibilang, salah satu buku favorit remaja era 90-an ya Lima Sekawan ini. Rasanya belum lengkap masa remajanya jika belum membaca Lima Sekawan karya Enid Blyton.

4. Dengan menulis bisa berkontribusi terhadap dunia ilmu pengetahuan

Al Khawarizmi via http://opinion.bdnews24.com

Al Khawarizmi dikenal sebagai Bapak Matematika. Beliau adalah penemu ilmu aljabar, materi yang sangat ditakuti siswa SMP (ya kan???). Beliau juga menemukan angka 0 dengan filosofinya yang sangat dalam.

Coba perhatikan kutipan pernyataannya ini:

That fondness for science, … that affability and condescension which God shows to the learned, that promptitude with which he protects and supports them in the elucidation of obscurities and in the removal of difficulties, has encouraged me to compose a short work on calculating by aljabr and al-muqabala , confining it to what is easiest and most useful in aritmhetic . (Bahwasanya kebahagiaan untuk ilmu pengetahuan, … bahwa kebaikan dan sikap merendah yang Tuhan tunjukkan kepada cendekia, sehingga ketangkasan melindungi dan mendukung mereka dalam penjelasan ketidakjelasan dan dalam penghapusan kesulitan, telah mendorong saya untuk menulis sebuah karya pendek pada perhitungan oleh aljabar dan algoritma, mengikatnya untuk apa yang termudah dan terpenting dalam perhitungan).

Nah makanya buat kalian yang merasa cukup pintar dalam ilmu pengetahuan, menulislah! Karena sepandai-pandainya manusia kalau tidak menulis cuma akan tenggelam oleh sejarah. Yang bilang gini bukan saya lho, tapi seorang penulis besar negeri ini, yaitu Pramoedya Ananta Toer.

5. Menulis Bisa Menjadi Sarana Perlawanan Terhadap Penjajahan

Ki Hajar Dewantara via http://www.syaarar.com

Kedahsyatan the power of writing bukan hanya dimanfaatkan untuk menginspirasi banyak orang, tetapi juga untuk menyampaikan pesan atau kritik sosial terhadap pemegang kekuasaan. Tulisan sebagai alat perlawanan telah banyak diproduksi para pejuang Indonesia di era kolonialisasi. Salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara. Tahun 1913, Ki Hajar pernah menggegerkan Belanda gara-gara tulisannya "Als Ik Nederlander was" yang dimuat di De Express. Melalui tulisannya, Ki Hajar mengungkapkan pengandaian, seandainya dia adalah orang Belanda, dia akan memerdekakan tanah jajahannya. Tentu yang namanya perjuangan penuh resioko. Tidak mau resiko ya tidak usah berjuang. Ya kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya