“Kuliah udah lima tahun, kok belum lulus? Ngapain aja”, “Saudara-saudaramu udah pada nikah, kamunya kapan?”, “Umur udah segitu, masih doyan baca komik? Kayak anak kecil aja” atau “Hari gini kok masih pake model yang gitu-gitu aja” dan blablabla. 

83 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun, apakah kita sudah sepenuhnya merdeka? Nggak usah muluk-muluk berbicara merdeka dalam skala luas, melainkan hal-hal kecil di kehidupan kita. Apakah kamu sudah bebas dari intervensi orang-orang yang kerap nyinyir seputar kehidupan pribadimu? Soal kuliah yang belum selesai atau gaji pekerjaanmu (yang dianggap) sedikit. Hmmm, bisa jadi belum.

Dunia emang  nggak pernah sepi dari yang namanya nyinyiran. Apapun yang kamu lakukan, selalu saja ada yang memandangnya negatif. Sebagian tak ragu melontarkannya dengan kalimat bernada manis plus empathi, namun menohok  tajam di ulu hati. Kamu yang awalnya slow and easy, hidup adem ayem kini malah jadi risih, bete bahkan frustrasi. Berikut adalah hal yang mesti kamu camkan dalam hidupmu dalam menghadapi kegalauan akibat para tukang nyinyir:

1. Kita memang tidak mampu mengontrol mulut orang. Tapi kita jelas mampu menutup telinga kita sendiri.

tidak mampu mengontrol

tidak mampu mengontrol via https://www.google.com

Suka tidak suka, kenyinyiran di dunia ini adalah nyata dan tidak terhindarkan (namanya juga tabiat manusia, gemar melihat kesalahan orang lain ketimbang diri sendiri). Kalau begini, masalahnya bukan pada si tukang nyinyir, melainkan sikap kamu sendiri saat dinyinyirin. Terima atau abaikan.

Advertisement

Belajarlah bersikap cuek dalam soal ini, alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Take it easy aja, selama kamu nggak ngusik hidup orang lain kan. Anjing bergonggong, kafilah berlalu.

2. Beda hidup, beda perjalanan, beda pula perjuangan

Hidup adalah perjuangan

Hidup adalah perjuangan via https://www.google.com

Pepatah saja mengatakan banyak jalan menuju Roma. Kalau begitu, mengapa mereka tetap saja mencibir caramu dan selalu membenarkan cara mereka?

Advertisement

Hidupmu, kamulah yang menjalaninya. Pahit, asam, asin hidupmu hanya kamu yang merasakan. Orang lain bisa dengan semudahnya mencibir apa yang kamu lakukan tanpa tau atau mengerti alasanmu. Tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan, karena memang sebagian orang tak akan bisa mengerti.

3. Setiap orang punya prinsipnya masing-masing.

Prinsipmu berhak dihargai

Prinsipmu berhak dihargai via https://www.google.com

Kamu tentu memiliki prinsipmu sendiri dalam menghadapi sesuatu. Prinsipmu bukanlah karya asal-asalan melainkan buah hasil pengalamanmu sendiri. Meski bisa jadi itu bertolak belakang dengan pandangan orang kebanyakan, namun itu adalah prinsipmu, milikmu, keyakinanmu yang harus kamu pertahankan. Dan satu hal yang pasti adalah orang lain juga patut menghargainya.

4. Kita tidak pernah kurang bahagia dari orang lain. Bersyukurlah.

Kunci kebahagiaan adalah pada diri kita sendiri

Kunci kebahagiaan adalah pada diri kita sendiri via https://www.google.com

Saat teman-temanmu sudah memiliki pasangan, hidup mapan dan sukses dibandingkan dirimu yang masih single dengan pekerjaan seadanya, nyinyiranpun datang menghampiri. Mengklaim bahwa mereka jauh lebih beruntung darimu dan seolah kamulah penyebab ketidakberuntunganmu.

Apa iya? Mungkin ada benarnya. Lantas bisakah ditarik kesimpulan bahwa hidup mereka lebih bahagia darimu, atau hidupmu kurang bahagia dibandingkan mereka? Tentu tidak (kecuali jika kamu tipe pesimis dan tidak bersyukur). Kamu single dan bebas hang out dengan temanmu kapanpun kamu mau. Kamu tidak terikat dengan rutinitas berat dari pekerjaan serius seperti yang mereka geluti.

Selalu ada sudut-sudut kebahagiaan yang bisa kamu temukan dalam kehidupanmu. Tentu saja lewat kacamatamu, bukan kacamata orang lain.

5. Jangan biarkan mereka membuatmu mengasihani diri sendiri

"Umur segitu kok belum nikah-nikah sih?" Nada-nada prihatin bercampur ngejek terdengar. Well, jangan merasa ngenes dulu. Rezeki, jodoh dan kematian kan bukan kita yang atur. Ada-ada saja memang cibiran orang-orang yang tak ayal membuat kita tampak salah dan bodoh.

Namun, jangan biarkan ucapan mereka menyumbangkan pikiran negatif terhadapmu, lantas meninggalkan dirimu dengan perasaan menyesali diri sendiri. Orang lain merasa kasihan padamu kedengarannya memang menyedihkan, tapi akan lebih menyedihkan lagi saat kamu mengasihani diri sendiri. Itu membuktikan bahwa kamu tidak memiliki pendirian yang cukup kuat atas komitmen dan prinsipmu sendiri.

Maka dari itu, mulailah jadi dirimu yang kuat dan merdeka dari sekarang. Memikirkan nyinyiran orang-orang adalah pekerjaan mubazir. Selain membuang waktu dan menghalangimu menjadi diri sendiri, juga makin menambah kerutan dan menegangkan syarafmu. Jangan sampai deh tua gara-gara itu.

Pokoknya, pada tahun 2018 ini, mari #MerdekaTapi tanpa mikir nyinyiran orang lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya