Minimarket Memang Lebih Menarik dan Serba Ada, Tapi Tak Ada Salahnya Sesekali Kita Berbagi Rezeki dengan Membeli di Warung Kelontong

 

Hari kemenangan tinggal menghitung hari. Tak terasa bulan Ramadhan sudah hampir meninggalkan kita lagi. Seminggu sebelum menjelang Hari Raya Idul Fitri, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman alias mudik.

Sesampainya di kota kelahiran tercinta ini, saya tak menyia-nyiakan untuk meresapi kota kecil namun sangat berarti bagi hidup saya. Setiap menjelang berbuka puasa, saya selalu menyempatkan diri untuk ngabuburit keliling kota yang cuma butuh waktu kira-kira 30 menit saja.

Saya juga tak lupa menyempatkan diri untuk melewati kampung dimana saya melewati masa kanak-kanak saya hingga remaja.

Sambil menaiki kuda besi, sepanjang jalan menuju kampung masa kecil saya, saya banyak dibuat kaget. Betapa tidak, di sepanjang jalan itu saya menemui banyak sekali minimarket waralaba yang jaraknya tak pernah berjauhan. Padahal panjang jalan itu tak seberapa, dan lebarnya juga terbilang sempit.

Tapi siapa sangka, ada banyak minimarket yang saling bersaing ketat di sana. Bersaing dengan sesama minimarket dan juga toko kelontong punya tetangga saya dulu.

 <>1. Minimarket sekarang sudah hadir di mana-mana, bahkan sudah menjamur sampai ke daerah-daerah pelosok.
Minimarket mulai menjamur hingga daerah pelosok.

Minimarket mulai menjamur hingga daerah pelosok. via http://rahmatwibowo4.blogspot.com

Penyebaran minimarket-minimarket saat ini memang cukup mengagetkan. Di daerah-daerah terpencil daerah perkampungan dan sawah di kota saya yang termasuk kota kecil saja, saya sudah bisa menemui minimarket waralaba dengan mudahnya.

Minimarket-minimarket ini juga selalu terletak di spot-spot yang paling strategis dan malah ada yang berdiri tepat di sebelah warung kecil. Tampilan dan juga displaynya tentu saja bisa menarik perhatian orang dengan mudahnya.

Kalau kita disuruh memilih tanpa harus pikir panjang, sudah pasti kebanyakan dari kita akan lebih memilih untuk singgah di minimarket tersebut daripada warung kecil di sebelahnya. Fenomena ini juga sudah menjadi polemik tersendiri di sektor perekonimian di negeri ini. Ada yang pro, ada juga ada yang kontra. 

<>2. Katanya, kehadiran minimarket-minimarket ini mematikan warung-warung kelontong di sekitarnya. Warung-warung bagai hidup enggan, matipun tak mau.
Warun-warung kelontong tak mampu bersaing dengan minimarket.

Warun-warung kelontong tak mampu bersaing dengan minimarket. via http://bisnisonlinepemula.890m.com

Tapi memang tak dipungkiri, kehadiran minimarket ini memang sedikit banyak berperan dalam matinya beberapa usaha warung-warung kelontong milik pribadi.

Beberapa toko kelontong milik tetangga di kampung  saya dulu sudah ada banyak yang gulung tikar, sedangkan sisanya masih berusaha untuk bertahan. Namun keadaannya pun bisa dibilang memprihatinkan -- bagai hidup enggan mati pun tak mau.

Keberadaan warung-warung kecil di kota saya ini pun semakin sedikit sekali. Saya pun jadi mulai rindu dengan percakapan saat membeli di warung:

“Tumbas….. “ (Beli...)

“Nggeh, monggo… tumbas nopo Mbak?” (Ya, silakan... beli apa Mbak?)

Saya juga bertanya pada orangtua saya yang sampai sekarang masih berkomunikasi dengan tetangga-tetangga saya yang masih berjuang keras mempertahankan warung kelontong miliknya.

Mereka sendiri mengakui bahwa mereka kalah saing dengan minimarket-minimarket tersebut. Usahanya dari hari ke hari mulai melemah. Semua orang sekarang juga lebih tertarik untuk membeli jajanan atau kebutuhan pokok di minimarket. 

<>3. Bagaimanapun juga, minimarket adalah salah satu bentuk dari sebuah inovasi. Keberadaannya memang bisa mematikan warung kelontong, tapi tak dipungkiri kalau minimarket memang lebih unggul.
Failitas lengkap dan produk lebih bervariasi.

Failitas lengkap dan produk lebih bervariasi. via http://www.kaskus.co.id

Zaman akan selalu berubah, dan perkembangan zaman akan selalu diiringi oleh inovasi-inovasi yang baru. Minimarket adalah satu dari sekian banyak inovasi yang tercipta di zaman yang serba modern ini.

Kita juga patut mengakui bahwa kehadiran minimarket ini memberikan solusi bagi masyarakat yang menginginkan kemudahan, kepraktisan, dan keamanan.

Bisa kita lihat, penampakan minimarket sendiri saja sudah sangat menarik perhatian. Lampu yang menyala terang sudah pasti bisa membuat mata kita tertuju padanya. Ditambah lagi tempatnya yang nyaman, ber-AC, dan bersih. Produk-produk yang dijual juga sangat bervariasi.

Tata letaknya juga diatur sedemikian rupa agar bisa menimbulkan minat beli pada konsumen. Belum lagi ternyata harganya juga tak jauh berbeda dengan di toko atau warung kelontong. 

<>4. Kehadiran minimarket memang ancaman berat bagi usaha warung-warung kelontong, namun ini adalah bagian dari evolusi kehidupan.
Perilaku konsumen pun sudah ikut berubah.

Perilaku konsumen pun sudah ikut berubah. via http://ardiwilda.com

Kalau melihat kenyataan bahwa warung-warung kecil harus bersaing dengan minimarket-minimarket berwaralaba, terkadang terbesit dipikiran kita bahwa itu tidak adil. Banyak warung-warung yang semakin ditinggalkan, karena kanan dan kiri mereka berdiri dengan megah minimarket-minimarket yang ternama.

Miris dan juga prihatin, tapi kita juga tidak bisa mengelak dari kenyataan ini. Tidak munafik, kita sendiri lebih senang membeli jajanan, kebutuhan bulanan, dan perkakas rumah di minimarket. Bukan tanpa alasan, karena memang minimarket lebih unggul kemana-mana.

Ya, cukup polemik memang. Saya juga sedih melihat warung-warung tetangga saya satu per satu mulai gulung tikar, mengingat usaha warung tersebut adalah usaha pribadi mereka demi menyambung hidup setelah pensiun bekerja.

Tapi di samping itu, kita juga merasa terbantu dengan adanya minimarket yang lebih meyakinkan, praktis, dan juga menarik ini.

Bukan salah siapa-siapa. Di dunia bisnis, memang sudah biasa dengan yang namanya persaingan ketat. Tak peduli siapa lawannya, selama dia bisa berinovasi dan bisa memudahkan hidup masyarakat, maka dialah yang menjadi pilihan masyarakat.

Perilaku konsumen juga ikut berubah seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini adalah bagian dari sebuah evolusi kehidupan yang akan terus menerus berubah. 

<>5. Mau belanja di minimarket ataupun di warung kecil, semua terserah kita. Namun tak ada salahnya bila sesekali kita berbagi rezeki pada warung-warung kecil yang sudah mulai rindu dengan datangnya pembeli.
Sesekali beli di warung kecil, itung-itung berbagi rezeki.

Sesekali beli di warung kecil, itung-itung berbagi rezeki. via http://difamedia.blogspot.com

Ya, yang namanya rezeki pasti tak akan kemana. Saya yakin, meski persaingan semakin menggila dan bisa dibilang tak sebanding, dimana warung-warung kecil yang bermodal pas-pasan ini harus bersaing dengan minimarket, para pedagang warung kelontong ini pasti akan tetap mendapatkan jatah rezekinya sendiri.

Saya tidak pernah bermaksud untuk melarang membeli atau bahkan memboikot minimarket, karena saya sendiri sering belaja di minimarket. Namun, tak ada salahnya bila kita juga kadang-kadang  membeli jajanan atau barang-barang lain di warung-warung kecil tersebut.

Sejatinya mereka juga sedang berusaha mengais rezeki dengan cara yang halal. Hitung-hitung kita juga berbgai rezeki kepada mereka bukan?

Bila kita membeli barang-barang kecil, misalnya saja seperti kopi instan sachet yang bisa dibeli satuan, shampoo sachet, gula pasir, telur, belilah di warung-warung kecil tersebut.

Dengan begini setidaknya kita sudah sedikit membantu menaikkan kembali perekonomian mereka. Terlebih lagi sekarang sudah mendekati hari Raya Idul Fitri, tak ada salahnya kita juga berbagi rezeki kepada para pedagang warung kecil, apalagi mereka adalah tetanggamu. Hehehe…

 

Semoga ke depannya, warung-warung kelontong yang saat ini sedang terpuruk nasibnya bisa turut berinovasi, sehingga mereka juga bisa bersaing dengan minimarket-minimarket berwaralaba ini. Semoga pemerintah pun bisa memberikan solusi terbaik dan paling tepat bagi para pengusaha warung-warung kecil ini, sehingga perekonomian mereka juga bisa kembali menguat!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Cogito Ergo Sum

10 Comments

  1. Vendeline Venus berkata:

    wahh iya bener bgt ini.. mungkin belanja di minimarket lebih lengkap.. tapi untuk urusan harga lebih murah di toko kelontong.. ini sih menurut saya saja..
    http://www.deporak.com

  2. Al Hasan Zaen berkata:

    solusi usaha minimarket tanpa waralaba,menjaikan toko kelontong jadi minimarket
    http://konsultan-minimarket-toserba.simplesite.com/

  3. Ayo toko kelontong !!! Jangan takut untuk bersaing dengan gerai-gerai Toko Modern yang ada (seperti AlfaMart, IndoMart, dll) !!!
    Karena sekarang telah hadir aplikasi pertokoan “MiniMart” (gratis sepenuhnya & bersifat open-source lhoo….) !!!!

    Aplikasi ini saya buat sendiri untuk kebutuhan tokoku dan saya bagikan ke internet secara gratis sepenuhnya (full versi, tanpa masa trial, tidak berbayar, dan bersifat open-source) dengan tujuan untuk membantu usaha UMKM untuk dapat berkembang lebih baik lagi dan bersaing dengan Toko-Toko Modern lainnya.

    Aplikasi “MiniMart” dibuat khusus untuk membantu pemilik toko dalam memantau ketersediaan stok barang di dalam tokonya.
    Melalui aplikasi ini, pemilik toko dapat dengan mudah memantau jenis barang yang stoknya telah berkurang dan kemudian membuat rencana pengadaan barang sehingga selalu menjamin ketersediaan stok barang di dalam tokonya.

    Yang mau meng-download aplikasi pertokoan “MiniMart” (sekali lagi GRATIS SEPENUHNYA), ayo kunjungi :
    http://helloyud.blogspot.co.id/2016/12/aplikasi-pertokoan-minimart.html

    Mulai detik ini juga…. siapapun bisa mendirikan MiniMarket-nya sendiri tanpa harus bergantung dengan franchise-franchise yang ada !!!!
    Mulai detik ini juga…. semua toko kelontong akan berbenah sehingga dapat bersaing dengan Toko Modern yang ada !!!!
    Tetapi untuk mewujudkan hal ini, kita perlu belajar untuk mengembangkan diri, kreatif, dan berani mendobrak tradisi-tradisi bisnis tradisonal yang ada.

    Akhir kata…. toko-toko kelontong dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu BERUBAH atau GULUNG TIKAR (karena kalah bersaing dengan Toko Modern yang ada).