5 Modus Penipuan Online Ini Sudah Banyak Makan Korban, Bahkan Sampai Jutaan

Bukan. Ini bukan soal modus-modus gebetan yang kadang meresahkan. Ada modus lain yang lebih berbahaya dibanding modus percintaan, yakni modus yang bisa bikin kantong kamu meringis! Yup, saat belanja online, salah satu yang harus diperhatikan adalah keamanan kamu saat bertransaksi. Hadirnya berbagai marketplace berhamburan tidak lantas kamu bisa seenaknya pilih, bayar, barang sampai. Justru kelengahan ini yang sering dicari para oknum untuk meraup uang dari rekening.

Apa saja sih modus-modus penipuan yang suka terjadi waktu belanja online?

ADVERTISEMENTS

1. Kirim barang dengan resi fiktif

resinya banyak ya

resinya banyak ya via https://gintarastore.com

Nggak cuma novel aja yang fiktif, tapi resi pengiriman barang juga bisa fiktif!

Biasanya resi yang dikirim sering berbeda dengan jumlah ongkos kirim. Misalnya pembeli diminta ongkir untuk pengiriman dari Jakarta, tapi resi yang diterima adalah kode pengiriman dari kota lain.

Setelah itu, penjual akan berpura-pura menjadi agen pengiriman barang dengan mengirimkan SMS bahwa barang sudah sampai dan diterima dengan baik. Hal ini merupakan pancingan supaya pembeli memencet tombol konfirmasi barang sudah diterima di marketplace.

Cara lain yang sedikit lebih pintar adalah penjual betul-betul mengirim barang yang dipesan, namun dikirim ke alamat yang berbeda (alamat teman sendiri). Jika pembeli tidak berhati-hati, maka pesan bisa tidak sengaja diterima atau selesai secara otomatis dan uangmu akan lenyap begitu saja.

Untuk menghindari ini, sebaiknya kamu tidak langsung memencet tombol konfirmasi meski terdapat SMS konfirmasi dari kurir abal-abal. Jika kamu mengalami hal mencurigakan terkait pengiriman, segeralah menghubungi marketplace di mana kamu belanja untuk menahan uang yang telah dikirim untuk transaksi tersebut.

ADVERTISEMENTS

2. Deskripsi barang yang seambigu kode gebetan

jadi ori apa kw nih gan?

jadi ori apa kw nih gan? via https://iprice.co.id

Nggak cuma kode gebetan aja yang ambigu, tapi kadang penjual di marketplace sama membingungkannya. Banyak sekali penjual-penjual nakal di marketplace yang memberikan deskripsi produk yang tidak jelas. Meski para penjual ini benar-benar mengirimkan barangnya, namun produk yang datang tidak sesuai dengan harapan pembeli.

Kasus ini sering terjadi pada berbagai toko yang menjual smartphone. Contoh iPhone refurbished dengan Grade A++ atau Grade Super, namun penjual enggan untuk memberikan deskripsi lebih jauh. Lebih parah lagi, banyak penjual yang menjawabnya berputar-putar dan ambigu ketika ditanya oleh calon pembeli.


Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, lebih baik kamu diskusikan kepada penjual sebelum membeli. Tanyakan secara rinci detail produk yang akan kamu beli, seperti apakah original/KW, baru atau bekas, dan sebagainya. Jika dirasa penjual cenderung menutup-nutupi deskripsi produk, sebaiknya kamu mencari seller lain yang lebih terbuka dan terpercaya.


ADVERTISEMENTS

3. Nomor rekening aspal, asli tapi palsu

Serupa tapi tak sama

Serupa tapi tak sama via http://blog.bajuyuli.com

Terdapat juga kasus penjual yang memiliki nomor rekening yang serupa tapi tak sama dengan nomor rekening marketplace. Saat pembeli check out, keluarlah tagihan pembayaran dari marketplace. Namun di saat yang bersamaan, pembeli juga menerima SMS yang meminta transfer dana sejumlah yang sama dengan check out di marketplace.

Secara sekilas nomor rekening tujuan dari penipu sama dengan nomor rekening virtual di marketplace, tapi dengan nama penerima yang berbeda. Jika pembeli tidak teliti kemungkinan bisa langsung transfer ke rekening si penipu.

ADVERTISEMENTS

4. Terlanjur beli, barang tidak pernah benar-benar menghampiri

pemberi harapan palsu

pemberi harapan palsu via https://youtube.com

Modus ini adalah definisi Pembawa Harapan Palsu yang paling nyata. Hal ini merupakan cara yang paling banyak digunakan oleh penipu. Biasanya penjual memasang harga miring terhadap barang yang dijualnya. Hal ini adalah jebakan agar banyak pembeli yang tertarik. Saat pembeli sudah mentransfer sejumlah uang, penjual pun tidak akan mengirim barang yang mereka jual.

Saat pembeli menghubungi, pihak penjual palsu ini akan memberikan banyak alasan, seperti stok kosong sehingga harus menunggu beberapa hari, dan sebagainya. Ketika pembeli meminta pembatalan, penjual palsu akan berusaha mengarahkan pembeli untuk mengisi feedback. Dalam kolom feedback ini nanti pembeli akan diarahkan untuk menekan tombol “konfirmasi terima barang”, meski pada kenyataannya belum menerima.

Selanjutnya akun penjual pun akan tutup dan nomor kontak yang bisa dihubungi mendadak mati. Uang sudah terkirim tapi barang tak kunjung datang :(

ADVERTISEMENTS

5. Di PDKT-in customer service abal-abal

yakin ini CS beneran?

yakin ini CS beneran? via https://iprice.co.id

Modus penipuan phishing ini adalah modus yang paling sering dilakukan karena menyerang kelengahan konsumen. Umumnya phishing ini dilakukan melalui external link. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan contoh kasus berikut ini:

Seorang pembeli di sebuah marketplace membeli smartphone dari seorang seller dengan harga murah. Kronologinya, pembeli menghubungi ketersediaan barang via fitur diskusi yang disediakan oleh marketplace tersebut. Pembeli melakukan transaksi dan konfirmasi pembayaran. Namun, pada malamnya pembeli mendapat Whatsapp dari seseorang yang mengatasnamakan customer service.

Dalam pesan pribadi tersebut, costumer service mengkonfirmasikan pesanan dan mengirimkan link aktivasi ke email pembeli. Mendapatkan pesan pribadi dari seorang costumer service adalah hal yang patut diwaspadai. Apalagi jika oknum tersebut memintamu untuk klik tautan tertentu. Link aktivasi tersebut adalah link palsu sebagai senjata penjual untuk hack data email dan password pembeli yang digunakan untuk log in ke marketplace. Sehingga penjual dapat meretas dan membuat notifikasi dan testimoni palsu yang seolah-olah pembeli sudah menerima barangnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini