Berbicara tentang Ibu, memang tidak ada habisnya. Perjuangannya yang membara selalu membuatku semakin mencintainya. Apalagi pengorbanannya yang tiada akhir membuatku tak habis pikir, sesungguhnya terbuat dari apa hati seorang Ibu yang begitu tulusnya dalam mencintai anak-anaknya. Entah kenapa aku tidak bosan-bosannya membuat tulisan tentang Ibu. Mungkin karena sedang jauh dari Ibu hingga akhirnya aku hanya bisa meluapkan kerinduan pada Ibu melalui tulisan. Hanya bisa menjerit lirih melalui doa bahwa ku sangat merindukanmu, Ibu. Karena bersamamu tak ada kata sedih dalam hidupku. Karena sedihku adalah ketika aku begitu lelah memendam rindu ini padamu, Ibu.

Karena bahagiaku yang sesungguhnya adalah ketika bersamamu, melewati hari-hari dengan tertawa bersama, mencurahkan isi hati sembari bergurau dan memeluk saling menguatkan untuk menenangkan. Karena dirimu bukan lagi sebagai Ibu saja melainkan sahabat, teman, dan pahlawan. Masihkah kau ingat ibu moment mengharukan kita, yang selalu terekam dalam memori dan tak pernah tenggelam. Apakah kalian sebagai pembaca merasakan moment kebohongan mengharukan yang sama juga seperti aku saat bersama Ibu? Simak!

1. Berpura-pura tak ingin, padahal ingin

mom give me a flower via https://www.google.co.id

Ini moment pada saat aku wisuda dimana pada saat itu, tak ada seorangpun yang memberiku bunga dan pada saat akan sesi foto terjadilah percakapan antara aku dan ibu seperti ini.

Ibu : maaf yah nak, mamah tidak tahu kalau dalam acara wisuda ada tradisi memberi bunga gitu.. (dengan muka lemas dan menatap melas ke wajahku sembari mengelus kedua tanganku dan melihat ke seluruh penjuru arah menyaksikan hampir seluruh wisudawan maupun wisudawati mendapatkan bunga baik itu dari keluarga, kekasih maupun teman)

Aku : iya mah tidak apa-apa santai aja (jawabku dengan senyum mengembang agar ibu tak khawatir meski dalam hati entah kenapa merasa ada yang ingin menjerit)

Advertisement

Ibu : ya sudah mamah mau menelfon kakak-kakakmu dan saudaramu terlebih dulu untuk datang ke sini biar bisa foto bareng. Oh iya, di luar sana ada yang jualan bunga tidak yah? (ucap mamahku yg hendak menelfon saudaraku yang masih di penginapan dan beranjak keluar karena di dalam lumayan berisik)

Aku : tidak ada mah, lagian wisuda khan tidak mesti harus ada bunga toh. Mamah telfon saja mereka yang lainnya suruh datang kesini keburu antriannya terlewati (jawabku sambil senyum) Beberapa menit kemudian mereka datang membuyarkan lamunanku dengan membawa 2 tangkai bunga berwarna biru dan merah. Aku pun sedikit terperangah dan sedikit curiga takutnya mamah membeli bunga itu jauh di luar sana.

Ibu : Alhamdulillah ternyata ada juga yang jualan bunga di luar sana meski mamah harus berkeliling dulu mencarinya dan gerimisan hehe. (ucap mamah dengan senyum lebar dan memberikan bunga-bunga itu kepada saya). Aku pun langsung membayangkan Ibu berlari-lari mencari tukang bunga sembari gerimisan apalagi Ibu mudah flu kalau terkena gerimis sedikit. Namun, itu semua sudah terlanjur terjadi dan aku merasa terharu dan semakin menyayangi ibuku. Selain itu aku pun mendapat pelukan selamat dari saudaraku dan ayahku.

Aku : mamah mah padahal tak usah repot-repot begitu sampai gerimisan segala lagi. Jangan-jangan bunganya mahal yah mah? (jawabku dengan nada sedikit cemas takutnya harga bunganya kemahalan)

Saat itu air mata rasanya ingin banjir tapi aku tahan, berhubung banyak orang-orang yg memperhatikan kita dan mungkin sedikit mendengarkan pembicaraan kita.

Ibu : tidak mahal kok cuma. Tidak apa-apa sayang mamah kan tidak tega hanya kamu sendiri yang tak dikasih bunga sedangkan yg lainnya pada dikasih bunga. Toh bunga-bunganya tidak mahal-mahal amat (ucap ibu dengan mata berbinar dan menebarkan senyum kecilnya)

Aku : Iya mah makasih yah. Maaf terlalu egois hehe (ucapku sambil menahan tangis tapi tetap saja air mata ini menetes dan mengumpat muka di kerumunan pandangan orang-orang sekitar.) "Bunga ini memang harganya tak seberapa tapi entah kenapa bunga ini mampu memberikan kebahagiaan yang luar biasa saat ada orang yang memberikannya dengan tulus, sejatinya itu menunjukan bahwa kamu sangat berharga dimata dia begitupun aku di mata keluarga aku termasuk orang tua" (ucapku dalam hati sembari memandang bunga yang kupangku bersama toga dalam keramaian yang tak terbendung)

2. Memberikan kabar baik, padahal sedang meringkik

i am sick, mom via https://www.google.co.id

Kulihat sendunya hujan mengguyuri bumi. Dibalik jendela aku hanya termangu, bosan melihat hilir mudik orang-orang keluar masuk ruang ICU. Kupandangi lebih jauh setiap tetesan air hujan yg turun, segenap mengingat kenanganku bersama Ibu. Entah kenapa tiba-tiba terselip rasa rindu pada Ibu.

Dulu ketika aku sakit dia rela berhenti dulu dari pekerjaannya di Jakarta, malam-malam disertai hujan dia rela berangkat dari Jakarta menuju Bandung menggunakan bis, hanya demi aku anak yang mungkin paling tidak hormat kepadanya. Namun dia tetap rela berlari, memohon pada majikannya dan menepis rasa takut untuk bisa bertemu denganku yang sedang dalam kondisi tidak sehat.

Singkat cerita aku bertemu dengan ibuku disebuah asrama tempat aku tinggal selama menimba ilmu di kota kembang itu dan izin minta pulang ke kampung halaman kepada pembinaku untuk melakukan pengobatan.

Aku dan Ibu menaiki angkot dari asrama menuju terminal bis untuk pulang kampung dan menjalani pengobatan disana. Selama di angkot badanku memang lemas dan Ibu selalu dengan sigap dan telaten mengelus punggungku dan memijat keningku agar pusingnya tidak terlalu terasa. Setelah sampai di terminal bus, baru juga duduk di bis bersama Ibu entah kenapa rasa sakit itu tiba-tiba hilang dan seolah-olah aku baru saja dapat energi semangat darinya. Aku tidur bersandarkan di bahunya yang begitu hangat, kugenggam erat tangannya yang sudah keriput, dan kumenangis dalam dekapannya, dan akhirnya dia mengusap airmataku dan mengelus kepalaku hingga aku terlelap tidur.

Itu adalah moment ketika ku terjatuh sakit pada saat masih menimba ilmu di salah satu universitas Bandung. Yang awalnya aku sempat berbohong pada ibuku bahwa aku baik-baik saja meskipun badan sedang meringkik kesakitan karena demam. Hingga akhirnya aku memberanikan diri berbicara sejujurnya kepada ibu karena sakitku yang tak kunjung sembuh dan ternyata benar hanya dengan bersama ibuku rasa sakit itupun secara perlahan menghilang tentunya dengan ridha Allah swt.

3. Memberi secuil rezeki meski dompet menipis

i always with you mom via https://www.pexel.com

Pada waktu itu keadaan keluarga sedang kacau, ayah dan ibu bertengkar. Padahal waktu itu aku sedang pulang kampung, dan pastinya saya mengharapkan kebahagiaan dalam keluargaku selain untuk memecahkan rasa rindu juga untuk menambah energi semangat baru yang sudah lama tertelan oleh kepenatan pekerjaan. Begitupun Ibu juga dalam kondisi pulang kampung karena Ibuku juga bekerja di salah satu perumahan kota Jakarta.

Pada saat mereka bertengkar aku sengaja membawa adiku yang paling kecil untuk pergi jalan-jalan karena merasa kasihan pada adikku yang masih kecil dan takut mempengaruhi masa depannya. Aku ajak makan dan jalan-jalan sebentar mengelilingi alun-alun dikampungku. Dan aku sedikit memberi pengarahan maupun pencerahan agar adikku tidak terlalu memikirkan pertengkaran yang terjadi, tapi untuk tetap fokus pada belajarnya untuk masa depannya.

Rasanya waktu itu aku ingin memeluk adikku kuat-kuat dan menangis sejadi-jadinya bahwa aku juga sangat terluka melihat ayah dan ibu bertengkar. Namun aku telan dalam-dalam, dan senantiasa menunjukan ketegaran bahwa semua akan baik-baik saja di depan adikku. Meski aku tahu dibalik matanya dan senyumnya ada tangisan yang dia tahan, adikku. Seminggu sudah di rumah aku pun harus beranjak pergi lagi mencari rupiah. Aku diantarkan oleh Ibu dengan keadaan Ibu yang masih sembab matanya. Aku tahu ibu pasti habis menangis semalaman. Sepanjang perjalanan menuju terminal bis Ibu cerita banyak tentang masalahnya dan akupun berusaha menenangkannya. Setelah sampai di terminal, Ibuku langsung mencari bisnya dan menanyakan ke salah satu agen di sekitar. Setelah dapat aku langsung di suruh untuk masuk ke salah satu bis yang sudah ditemukan oleh Ibuku. Hingga akhirnya aku dapat tempat duduk.

Adapun sedikit percakapan antara aku dan Ibu.

Ibu : bisnya sebentar lagi mau jalan, hati-hati ya nak (sambil mengelus ubun-ubunku) Aku : iya mah, (ucapku sambil mencium tangan kanan mamahku, dan memberi lembaran uang kepada ibuku karena aku tahu ibu sedang tidak ada uang meski akupun harus memutar otak nantinya bagaimana untuk menjanggal biaya hidup pas tanggal tua nanti)

Ibu : ini apaan, buat kamu saja nak. Kamu kan jauh takut nanti ada apa-apa. Kalau mamah kan masih di rumah nanti bisa minjem ke siapa saja. (Ucap ibu mengembalikan semua uang pemberianku dan membuat tangisannya pecah lagi)

Aku : ya sudah mah segini aja, maafin yah mah sudah membuat mamah menangis (ucapku dengan tangisan yang tak terbendung)

Akupun memeluk ibuku sebentar dan ibuku selalu bilang "hati-hati yah nak selalu jaga ibadahmu dan jaga kesehatanmu". Ketika ibu turun dari bis ingin rasanya aku berlari mengejar ibuku dan enggan pergi namun itu mustahil. Hingga akhirnya aku pun menangis sejadi-jadinya di dalam bis sendiri, menepis ramai dan berpeluk sepi. Dan selalu berkata "aku pasti kuat".

4. Mengatakan sudah sampai padahal perjalanan baru dimulai

i am sorry mom, i am lie 🙁 via https://www.google.co.id

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari minggu. Aku habis liburan bersama teman-teman. Dan minggunya aku mampir ke rumah Ibu dimana Ibuku sudah bekerja lagi di Jakarta. Aku sudah tiba di tempat ibuku kerja pada pukul 14.00 WIB. Sedangkan aku pulang lagi ke tempat kerjaku di kota purwakarta menaiki kereta dimana jadwal keberangkatannya yaitu pukul 16.15 wib. Berhubung belum puas mengobrol sama Ibu sengaja aku berangkat ke stasiunnya pukul 15.00 lebih tak khawatir akan kehabisan tiket. Ibu memberiku beberapa baju dari majikannya. Waktu pun cepat berlalu dan aku harus ke stasiun.

Singkat cerita saat sudah sampai di stasiun tiket kereta sudah habis, padahal saat ke stasiunnya mang gojek sudah melaju cukup kencang bak valentino rossi sampai-sampai beberapa kali mengerem mendadak dan membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Belum lagi itu tiket ke purwakarta satu-satunya. Dengan terpaksa aku menaiki yang pukul 17.30 wib dengan tujuan cikampek. Sedang menunggu tiket tiba-tiba ibuku memberi pesan bahwa kalau sudah sampai kostan untuk diberitahukannya, akupun mengiyakan. Dengan kondisi badan yang kelelahan, keringat mengucur deras, dan hati yang harus menahan sabar demi mengantri untuk mendapatkan tiket kereta. Karena kalau naik bis takut macet di perjalanannya dan membuang waktu lebih lama.

Rasanya waktu itu aku ingin menjerit dan menangis bahwa aku lelah. Namun aku berusaha tersenyum dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu ibuku meski hanya sebentar. Tiket pun didapat dan kereta baru mulai jalan pada saat jam maghrib. Pada pukul 19.00 wib dimana aku harusnya sudah sampai di purwakarta kalau tidak kehabisan tiket yang tadi, akupun memberi pesan kepada ibuku bahwa aku sudah sampai di kostan.

Meski kenyataannya aku masih duduk kedinginan di dalam kereta bersama sendunya hujan dibalik jendela. Hingga membuatku tenggelam dalam binar air mata yang tanpa pamrih menetes. Disitulah rasa rindu ini semakin menggebu.

5. Ketika ingin bercerita banyak namun membungkam setelah berhadapan denganmu, ibu

i will always make you smile, mom via https://www.google.co.id

Terakhir ini kejadiannya sering, baik itu lewat telfon maupun saat bertemu langsung. Disaat aku lelah dengan semua keadaanku sebagai anak perantauan dan ingin bercerita banyak kepada Ibu dan ingin meminta persetujuan pada Ibu. Namun saat bertemu ibu aku membungkam seribu bahasa. Aku tak tega melunturkan senyumnya Ibu karena cerita sedihku ini. Aku pun tahu, tak pantas berkeluh kesah pada Ibu karena Ibu pasti sudah terlalu berat beban hidupnya. Tak tega aku melihat ibuku juga menangis hanya karena cerita sedihku. Kini saatnya aku harus mandiri baik dalam kehidupan juga mandiri dalam bermain perasaan. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi Ibu, aku akan selalu membuatmu tersenyum meski sebenarnya aku ingin menjerit padamu Ibu bahwa aku lelah. Meski sebenarnya aku ingin berlari memelukmu bahwa aku sangat terluka. Dan sebenarnya aku ingin selalu disampingmu bahwa hal yang paling menyakitkan adalah ketika rindu padamu ini tak terbalaskan. Itulah moment kebohongan mengharukan yang pernah saya alami bersama Ibu. Apakah pembaca juga mengalaminya? Atau pembaca mempunyai moment yang lebih mengharukan? Apapun itu tetaplah cintai dan sayangi ibumu selagi ada. Karena kasih sayang seorang Ibu adalah cinta yang tak tersirat tanpa syarat dan cintanya tanpa sebab dan akibat.

Penantian seorang Ibu dalam menjaga buah hatinya selama 9 bulan itu sungguh luar biasa. Dia selalu memantaskan diri untuk bisa menyapa dan bertemu buah hatinya. Tak peduli nanti akan terlahir bagaimana. Karena yang ditunggu-tunggu Ibu adalah bisa melihat senyum buah hati dan mendengar rengekan buah hati. Bisa bertemu sang buah hati saja itu sudah menjadi anugerah terbesar baginya. Tanpa disadari terciptalah cinta tanpa sebab dan akibat antara seorang Ibu dan buah hati. Cinta tulusnya benar-benar tak tersirat dan tersurat, bahkan coretan pun tak akan ada pena yang mampu menulis betapa tulusnya cinta Ibu.

Meski kita selalu berbohong kepada ibu agar Ibu kita tetap tersenyum. Namun entah kenapa ibu selalu saja peka tentang keadaan kita yang sebenarnya. Meski berbohong itu tidak baik, namun diri ini terkadang sulit untuk membongkar isi hati kepada Ibu. Dan Ibu selalu saja menjadi pahlawan untuk kita dimanapun kita dan dimanapun Ibu kita berada, Ibu selalu siap on time ketika kita membutuhkannya. Karena semua yang dilakukan Ibu tak lain demi anak-anaknya. Karena bersamamu Ibu, surga tercipta apa adanya.