#MudaBerkarya – Bukan Hanya Soal Privilege, Berikut 9 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Anak Muda Ketika Meraih Mimpi

Mengupas privilege dalam meraih mimpi

Akhir-akhir ini, hal-hal berbau privilege sedang hangat diperbincangkan. Mulai dari anugerah dilahirkan dari keluarga kaya raya, dibekali kemampuan akademik yang mumpuni, sampai dikaruniai wajah yang good looking.

Seakan saling membandingkan nasib, banyak anak muda yang merasa bahwa angan untuk meraih mimpi begitu sulit dilakukan jika tanpa privilege. Fenomena privilege ini sudah begitu menghantui anak muda. Sayangnya, tidak semua orang beruntung merasakan dukungan mental dan finansial dari orang terdekat saat meraih mimpi. Oleh karena itu, persiapkan diri dengan berikut ini jika kamu merasa terlahir tanpa privilege.

ADVERTISEMENTS

1. Tanamkan dalam Diri Bahwa Setiap Orang Berbeda

Photo by Alexander Suhorucov on Pexels

Photo by Alexander Suhorucov on Pexels via https://www.pexels.com

‘Sadar Diri’ adalah dua kata yang bisa menggambarkan kehidupan anak muda yang harus berjuang lebih keras meraih mimpi. Kita bisa lihat contohnya dari hal-hal sederhana. Ketika berkuliah di kampus yang sama, ada anak yang tanpa pusing memperhatikan UKT per semesternya. Sementara di sisi lain, ada anak yang harus bekerja siang hingga malam agar bisa membayar SPP dan membiayai adik di kampung.

Dunia tidak adil

Kalimat tersebut harus kamu camkan dalam benak dan hati. Kamu harus tau bahwa realita kehidupan itu keras. Jangan termakan ucapan motivator yang memintamu untuk menjadi sukses seperti kebanyakan orang.

Padahal start hidupmu, mungkin saja jauh berbeda dan di belakang orang lain. Namun, bukan berarti kamu terus-menerus merasa tidak berdaya. Kamu harus segera bangkit untuk lebih giat lagi.

ADVERTISEMENTS

2. Rehat Sejenak dari Aktivitas Media Sosial

Photo by Anna Tarazevich on Pexels

Photo by Anna Tarazevich on Pexels via https://www.pexels.com

Apa yang ditampilkan di media sosial, terlihat menyilaukan mata. Ada anak muda yang bisa menduduki jabatan tinggi lebih awal, ada yang bisa memiliki rumah sebelum usia 30 tahun, atau ada pula yang didampingi pasangan idaman. Berharap mendapatkan motivasi dari postingan di media sosial, justru kamu semakin merasa tertinggal jauh jika melihat kesuksesan orang lain.

Perasaan iri melihat orang lain lebih sukses itu sebenarnya wajar. Namun, jika timbul perasaan membenci hingga crab mentality (jika aku gagal, kamu juga harus gagal). Maka hal itu sudah terlampau berlebihan dan membahayakan. Lebih baik, kurangi intensitas berselancar di media sosial agar pikiranmu tetap waras dan jauh dari perasaan rendah diri. Atau cobalah untuk menghapus beberapa akun media sosialmu.

ADVERTISEMENTS

3. Menyusun Mimpi yang Realistis

Photo by JESHOOTS.com on Pexels

Photo by JESHOOTS.com on Pexels via https://www.pexels.com

Jadilah seperti Plankton, walaupun ia gagal berulang kali saat mencuri Krabby Patty, ia tidak pernah sedikitpun untuk menyerah. Persiapkan mimpimu yang sekiranya bisa dicapai. Buatlah Plan A sampai Z, dan jangan hanya terpaku dengan satu harapan. Mengapa? Jika mimpimu terlalu tinggi, maka usahamu juga harus lebih banyak.

Misalnya saja ketika kamu hendak mengambil buah dari pohonnya. Buah belimbing harganya jauh lebih murah, tetapi kamu hanya perlu mengulurkan tangan ke dahan. Sementara jika kamu menginginkan buah mangga yang lebih mahal, kamu harus menaiki tangga terlebih dahulu agar bisa meraihnya.

Seperti itulah ketika meraih mimpi, ada orang yang memiliki ‘tangga’, ada pula yang hanya mengandalkan ‘tangan kosong’. Jadi, sesuaikan dengan kemampuan dana dan aspek lainnya.

ADVERTISEMENTS

4. Perlahan Tetapi Tetap Berjalan

Photo by Bob Price on Pexels

Photo by Bob Price on Pexels via https://www.pexels.com

Tatkala meraih mimpi, bukan hanya soal bagaimana kita berhasil atau gagal dengan cepat. Namun juga harus ada kemajuan dari sebelumnya selama proses menuju cita-cita (step by step). Setidaknya, setiap hari harus ada progress yang kamu dapatkan.

Misalnya saja ketika ingin memperoleh beasiswa. Karena terkendala biaya, kamu tidak bisa ikut kursus bahasa inggris supaya mendapatkan skor TOEFL yang tinggi. Maka jalan satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah belajar otodidak. Bukankah saat ini sudah banyak media yang memberikan materi bahasa Inggris secara cuma-cuma, seperti di YouTube?

ADVERTISEMENTS

5. Gagal? Coba Lagi

Photo by Julia Avamotive on Pexels

Photo by Julia Avamotive on Pexels via https://www.pexels.com

‘Orang Dalam’ seringkali dianggap sebagai penentu kesuksesan. Banyak orang di luar sana yang merasakan pengalaman pahit terkait kegagalan karena 'Orang Dalam.' Padahal sesungguhnya 'Orang Dalam' adalah kata lain dari koneksi. Jadi, semuda mungkin, kamu harus memperluas networking. Kenali banyak orang yang bisa mempercepat jalanmu menuju kesuksesan.

Lalu, apa jadinya jika kamu tidak memiliki 'Orang Dalam'? Masih ada jalan yang lain bisa diusahakan. Sebenarnya jika kualitas dirimu lebih baik, hard skills dan soft skills-mu sangat mendukung, bukan tidak mungkin peluangmu untuk berhasil sangatlah besar.

Asalkan selalu tanamkan semangat pantang menyerah jika menemui kegagalan. Bukankah Kolonel Sanders (Pendiri KFC) harus melalui kegagalan 1007 kali? Tidakkah kamu malu saat berhenti di tengah jalan ketika baru satu kegagalan menghampiri?

ADVERTISEMENTS

6. Mencoba Menempa Diri dengan Keahlian Baru

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels via https://www.pexels.com

Di era serba digital saat ini, semua aspek kehidupan akan berjalan lebih cepat. Jika kamu sedang asyik rebahan, di luar sana ada banyak pemuda yang giat meraih mimpi. Seharusnya kamu harus berusaha sedari dini agar di masa tua bisa menuai hasilnya. Janganlah terlena dengan kalimat,

Nikmati masa mudamu.

Selama pandemi ini, banyak instansi yang menawarkan pengalaman belajar gratis, seperti webinar, training, dan kursus. Manfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu meng-upgrade diri. Jangan hanya gadgetmu saja yang selalu memiliki model baru, tetapi keahlianmu juga!

7. Mencari Support System, Juga Peduli Circle

Photo by THIS IS ZUN on Pexels

Photo by THIS IS ZUN on Pexels via https://www.pexels.com

Dukungan moriil sangat berpengaruh memberikan dampak positif terhadap manusia. Sayangnya, tidak semua orang beruntung mendapatkan support system dari orang terdekat. Bahkan ada pula yang justru mendapatkan cibiran dan hinaan saat meniti mimpi yang semakin membuat kita merasa menjadi kecil.

Ubahlah mindset, dari awalnya meminta menjadi memberi. Jika tidak bisa mendapatkan dukungan dari orang tua, coba untuk membentuk lingkup pertemanan (circle). Tidak perlu banyak, setidaknya ada satu orang yang bisa selalu di belakangmu untuk mendukung. Namun jangan lupa untuk peduli dengan lingkungan sekitar juga. Ingatlah pepatah,

Jika kau dilempar pot, maka balaslah melemparnya bunga.

8. Perbanyak Ibadah dan Aktivitas Fisik

Photo by Chevanon Photography on Pexels

Photo by Chevanon Photography on Pexels via https://www.pexels.com

Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta akan membuatmu selalu bersyukur. Berdoa dibarengi usaha adalah modal kuat meraih mimpi. Jangan lupa juga senantiasa menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga. Bukankah di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat (men sana in corpore sano)?

9. Kurangi Ngopi, Mulailah Menabung dan Investasi

Photo by maitree rimthong on Pexels

Photo by maitree rimthong on Pexels via https://www.pexels.com

Apabila anak muda identik dengan nongkrong, coba alihkan menjadi kegiatan lebih bermanfaat. Tidak ada salahnya untuk berinteraksi dengan ngopi cantik, tetapi perlu diingat bahwa ada uang dan waktu yang sedang kamu pertaruhkan. Lebih baik alokasikan uang jajan untuk dana darurat, tabungan, ataupun investasi.

Demikianlah rekomendasi rangkaian kegiatan yang seharusnya dilakukan anak muda saat meraih mimpi. Sesungguhnya tanpa disadari bahwa setiap orang memiliki privilege-nya masing-masing, bukan hanya soal harta. Nah, kira-kira poin mana saja yang telah kamu terapkan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur