"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Artikel saya kali ini membahas salah satu topik lelucon favorit penduduk Indonesia: jomblo. Tak sedikit komedian yang meraih sukses dengan menjual kisah tragis kejombloannya. Walikota Bandung dengan gencar membantu warganya mencari pasangan hidup lewat postingan-postingannya di media sosial. Pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta pun turut serta membantu para jomblo menemukan cinta sejatinya dalam program kerjanya. Sebegitu seriusnya kah permasalahan jomblo ini di negara kita?

Pepatah mengatakan, "Jomblo itu nasib, single itu pilihan." Tapi nampaknya status single tidak pernah dilihat sebagai pilihan oleh orang Indonesia sendiri. Di dunia barat, orang-orang tidak mempermasalahkan seseorang yang masih belum punya pasangan. Jadi, sekalipun si single ini sebenarnya merasa ngenes, hanya dia yang merasakan kesengsaraannya tanpa perlu konfirmasi dari orang lain lagi.

Tapi herannya, berdasarkan hasil pengamatan saya selama hampir dua tahun tinggal di Perancis, mayoritas teman-teman saya berstatus in a relationship. Seakan-akan mudah sekali bagi mereka untuk keluar dari "Jomblo Zone". Ini menggelitik otak saya untuk menganalisis adakah alasan tertentu di balik fakta ini? Karena tentunya juga ada alasan mengapa Perancis disebut "negara cinta", bukan? Dan kira-kira ini hasil analisis saya:

1. Teman-teman yang kurang kooperatif

Sorakan "cieee" adalah salah satu ekspresi dalam bahasa Indonesia yang belum saya temukan padanannya dalam bahasa lain. Ini adalah salah satu kebiasaan orang Indonesia yang tidak saya temui di dunia barat. Ketika ada yang sedang melakukan PDKT, spontan orang Indonesia akan menggoda sang pasangan dan membuat mereka jadi malu.

Alhasil, kadang terjadi kesalahpahaman di antara pasangan tersebut dan usaha pun terpaksa gagal. Sebaliknya di kalangan teman-teman saya di Perancis, alih-alih menggoda si pasangan, teman-teman yang bersangkutan akan berkolaborasi mewujudkan hubungan tersebut, bahkan terkadang segala cara pun dihalalkan agar "Proyek Cupid" bisa terlaksana.

2. Teori "tarik-ulur"

Advertisement

Ini omong kosong terbesar tapi pasti banyak yang melakukan. Nyatanya, strategi "tarik-ulur" ini justru membuat tujuan PDKT jadi tidak jelas dan menimbulkan banyak kesalahpahaman. Kalau iya bilang iya, kalau tidak bilang tidak. Jangan permainkan perasaan orang lain. Kalau memang belum yakin, diskusikan terang-terangan supaya semua menjadi jelas dan tidak ada waktu yang terbuang. Belajar dari teman-teman saya di Perancis, rata-rata bila tidak ada kemajuan dalam satu bulan, itu pertanda saatnya pindah ke target berikutnya.

3. Tekanan dari keluarga

Tekanan dari keluarga

Tekanan dari keluarga via http://vebma.com

"Amanah orang tua tuntas ketika anaknya menikah." Ini salah satu kalimat yang pernah saya dengar dari seorang teman. "Kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat anaknya menikah." Ya nggak salah sih, siapa juga yang nggak senang melihat anaknya menikah. Tapi lantas ada tekanan yang diberikan lewat nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi ini.

Di sisi lain, si anak yang ingin melihat orang-tuanya bahagia pun jadi semakin tertekan. Belum lagi yang dinikahi ini tidak hanya harus dari lawan jenis tapi juga harus diperhatikan bibit bebet dan bobot-nya. Jadi, modal cinta saja tidak cukup. Dan begitu bertemu dia yang memenuhi setiap kriteria, rupanya kita yang tidak memenuhi kriteria dari pihak seberang. Kalau begini ceritanya, sampai genderuwo jadi ganteng pun tidak akan ketemu yang dicari.

4. Tekanan dari teman-teman sejawat (peer pressure)

Advertisement

Ketika teman-teman seumuran (atau bahkan yang lebih muda) sudah menikah, tidak sedikit yang justru menutup pergaulannya karena malu dirinya belum menemukan pasangan hidup. Mereka memilih untuk menghindari pertanyaan "Kapan married?" di reuni sekolah atau "Kapan nyusul?" di setiap kondangan. Ketika pergaulan dibatasi oleh diri sendiri, bagaimana bisa menemukan pasangan hidup?

5. "Bukan jaman Siti Nurbaya"

Siti Nurbaya

Siti Nurbaya via https://jv.wikipedia.org

Ketika menemukan pasangan hidup yang tepat menjadi tantangan besar, mungkin perjodohan bisa kembali menjadi solusi. Paling tidak, standar bibit bebet dan bobot dari orang tua sudah terpenuhi. Tapi ada pula yang dengan gengsi menolak, dengan alasan "Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya". Oh ya? Sudah cukup modern kah gaya hidup kita untuk bisa bilang perjodohan ketinggalan jaman?

Di sisi lain, agama dan tradisi leluhur tetap selalu kita pertahankan. Mungkin kita belum siap untuk gaya hidup yang lebih modern. Alasan lainnya lagi misalnya, "Aku mencintai orang lain." Tapi kalau arranged marriage kembali menjadi solusi dari meningkatnya jumlah jomblo di Indonesia, mungkin saatnya kita juga kembali ke pepatah Jawa Witing tresno jalaran soko kulino, "Cinta tumbuh karena terbiasa."

Artikel yang saya tulis ini hanya buah pikiran saya saja, belum tentu benar pula kenyataannya karena hanya berdasarkan pengalaman saya dengan teman-teman di lingkungan pergaulan saya yang tentunya masih kalah luas dengan ukuran bumi kita. Selain itu, tidak ada tujuan sama sekali untung mendorong para pejuang cinta di Indonesia untuk mengikuti gaya hidup di dunia barat. Tapi memang akar masalahnya mungkin ada pada tradisi dan pola pikir kita. Mungkin Kartu Jakarta Jomblo* bukan solusi yang kita butuhkan. Mungkin.

*KJJ : Nama program kerjanya yang begitu pesimis membuat saya terpingkal membaca berita peluncurannya. Kartu Jakarta Pintar jelas tujuannya untuk membantu warga Jakarta menjadi pintar. Lantas tujuan dari Kartu Jakarta Jomblo? Apakah itu doa supaya warga Jakarta tetap jomblo selamanya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya