1. Saat “dia” menolakmu, buktikan kalau kamu layak diterima

"gagal maning gagal maning" via http://thefnde.com

Misalkan alasan kamu ditolak adalah karena kamu belum mapan. Artinya dia hanya menggunakan harta sebagai tolak ukur. Buktikan padanya, kamu kelak bisa menjadi orang yang sukses. Saat nanti kamu sukses bisa jadi “dia” akan ada di urutan pertama “antrian”. Bagaimana dengan hati? Itu mungkin dianggap urusan belakangan. Jika dia menolakmu karena sikap dan sifatmu yang tidak begitu baik. Artinya dia layak diperjuangkan, dan buktikan kalau kamu bisa lebih baik lagi

2. Saat “dia” menolakmu, mungkin Tuhan sedang menghindarkanmu dari rasa sakit hati yang lebih

"nggak ada gunanya" via http://dumpeddays.com

Bayangkan jika kamu memang diterima dengan “dia” yang kamu sukai dan mulai membina hubungan dengannya. Lalu lambat laun kamu sadar, bahwa “dia” menerimamu hanya karena rasa kasihan atau “dia” juga sedang merasa kesepian saja. Pasti ini lebih menyakitkan di banding dengan rasa sakit saat ditolak. Kamu berjuang membina hubunganmu bahkan ingin serius, tapi “dia” seakan bermain-main

3. “Dia yang lain”. Tuhan yang mengirimnya buatmu, dan ada tujuan di balik kehadirannya

Segala sesuatu pasti punya tujuan. Tuhan pasti punya tujuan menghadirkan “dia yang lain” ini ke dalam hidupmu. Dia menyukaimu, tapi tidak denganmu. Bagaimana kalau kamu mencoba menggali lebih dalam apa alasan kamu tidak menyukainya? Jika kamu tetap seperti itu, itu hakmu dan kamu yang menjalaninya. Tuhan menghadirkannya dalam hidupmu bisa saja untuk dijadikan seorang teman yang baik

4. Saat kamu memilih untuk menghindari “dia yang lain”

"astaga .. dia lagi-dia lagi" via http://youtube.com

Jangan menghindari dia hanya karena dia suka padamu. Apa salahnya dijadikan teman. Hargailah perasaannya. Pasti “dia yang lain” itu akan merasa sangat sakit, hanya karena rasa suka tapi malah dihindari. Hukum karma itu berlaku, mungkin saja nanti kamu akan rasakan bagaimana sakitnya jika orang yang kamu sukai menghindarimu. Apa salahnya suka?  

 

5. “ala bisa karena biasa”

from friend to lover

from friend to lover via http://projectfreetv.com

Jika kamu memilih untuk menjadikannya sebagai teman, dan melupakan rasa suka “dia yang lain”  kepadamu, kamu bisa saja berteman baik dengannya. “Ala bisa karena biasa” bisa saja kamu pada akhirnya menyukainya karena kamu biasa bersama dengannya, lebih kenal tentangnya, serta menerima kekurangannya. Hanya masalah waktu. Waktu yang tepat pasti akan datang

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya