6 Tips Ampuh Ini Bisa Kamu Lakukan untuk Berbelanja Sesuai Kebutuhan, Bukan Semata Demi Ego Kepuasan

tips berbelanja sesuai kebutuhan

Semakin dewasa, semakin mikir dengan yang namanya bergaya. Rasanya, setiap penghasilan yang didapatkan hanya ingin ditabung saja. Sudah ada pikiran berupa antisipasi bila membutuhkan dana mendesak tak terduga, atau memang menabung karena rencana mantap untuk kedepannya.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hidup penuh gaya atau fashionable. Dengan penekanan, jika kita memang memiliki biaya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan tersier tersebut. Hanya saja, saya yakin masih ada manusia yang terlampau konsumtif dan membiarkan nafsu duniawi mencekik dirinya sendiri. Kita semua pasti pernah merasa, ingin memiliki barang sebagaimana yang dimiliki orang lain.

Namun, tindakan selanjutnya lah yang menentukan seberapa baik kita mengendalikan diri. Apakah kita memaksakan diri yang kemudian menjadi bumerang buruk pada diri sendiri? Berikut hal-hal kecil yang bisa dipertimbangkan kembali sebelum berbelanja!

Advertisement

1. Pertimbangkan kembali manfaat atau kegunaan barang

Photo by Anthony Tran on Unsplash

Photo by Anthony Tran on Unsplash via https://unsplash.com

Apakah barang yang ingin dibeli tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Atau hanya untuk kepuasan diri sesaat, yang terkadang kita, termasuk penulis sendiri, katakan dengan senyum nyengir “lagi pengen aja”? Tak jarang, kita membeli barang hanya karena sedang mood belanja, merasa lebih baik setelah menghabiskan waktu dengan berbelanja, atau lebih parah lagi hanya karena ingin show off kepada sesama.

Sedangkan, barang itu sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Misalnya, membeli baju baru padahal baju di lemari pakaian sudah seperti galang bantuan untuk korban bencana alam. Alias numpuknya kebangetan. Siapa nih yang begini? Nah, mulai sekarang, pikirkan secara matang sebelum berbelanja ya.

2. Perhitungkan budget yang dimiliki

Photo de Alexander Mils provenant de Pexels

Photo de Alexander Mils provenant de Pexels via https://www.pexels.com

Tentunya sebelum berbelanja kita harus memperhitungkan dana yang dimiliki. Menghabiskan uang untuk mendapat barang yang diinginkan memang menyenangkan, tapi, ada kalanya tetap merasa nyesek karena upaya menabung langsung sirna dalam satu kedipan mata.  Namun, hukum ekonomi memang berbunyi “ada uang yang dibayarkan untuk barang yang diinginkan”. Tidak ada larangan selama tabunganmu memadai.

Sayangnya, tak jarang diantara kita mengambil jalan pintas dengan cara berhutang. Berhutang tidak buruk, tapi ada baiknya kita hindari. Karena membiasakan berhutang kepada teman atau fasilitas pinjaman, tidak selalu baik, terlebih hanya untuk barang yang tidak begitu penting.

Mungkin kita bisa menunda sedikit lebih lama sembari menunggu hasil tabungan mencukupi. Atau, jika memang barang itu untuk keperluan hidup saat ini juga, pastikan kita sudah memiliki perhitungan mantap untuk melakukan pelunasannya, ya.

Advertisement

3. Pentingnya memiliki list to buy

Photo de Startup Stock Photos provenant de Pexels

Photo de Startup Stock Photos provenant de Pexels via https://www.pexels.com

Memiliki daftar belanja dapat mengontrol kita untuk tetap disiplin dalam koridor pengeluaran dana, misalnya dengan cara membuat list belanja skala bulanan. Hal ini berfungsi sebagai patokan apa-apa saja yang akan dikeluarkan di bulan tersebut sehingga mencegah munculnya penyakit ‘duit bocor halus’.

Selain itu, daftar belanja juga berperan sebagai indikator skala prioritas belanja, seberapa butuh kita akan suatu barang. Barang-barang yang lebih dahulu kita tulis menunjukkan betapa butuh kita atas barang tersebut. Hingga akhir kita menulis daftar belanja, akan ada momen dimana kita merasa “ini nggak usah dulu, deh”.

Pada mulanya mungkin terasa sulit dilakukan, terlebih bagi orang-orang yang memiliki jiwa keluar rumah untuk membeli makan, nyatanya pulang-pulang justru membawa seperangkat rantaian skincare-an, terus ngeles sambil ngomong, “gak sengaja” atau “mumpung diskon”. Cewek-cewek yang pernah begini, mari kita bergandeng tangan. Yuk, mulai dipikir-pikir lagi, “beneran butuh gak yaa..

4. Melihat persenan diskon? Tahan! Jangan sampai kalap

Photo by Artem Beliaikin on Unsplash

Photo by Artem Beliaikin on Unsplash via https://unsplash.com

Siapa sih, yang tidak tergiur dengan spanduk-spanduk ada logo persennya? Walau sekejap kita pasti menoleh, membaca berapa diskonnya dan mulai menjadi matematikawan amatir dengan melakukan penghitungan harga dalam kepala. Eits, tunggu dulu!

Jangan mudah tergiur bisikan syaiton, maksudnya, diskon. Kembali lagi, kita harus disiplin terhadap list belanja yang sudah kita tetapkan. Kemudian, kita harus mengingat kembali seberapa bermanfaat barang itu untuk kita miliki.

Sederhananya, ketika melihat promo 50%, cobalah melihat dari sisi yang berbeda. Jangan berpikir “lumayan, hemat 500 ribu”, tapi pikirkan lah uang 500 ribu yang tetap akan kamu bayarkan. Apabila itu hanya untuk ‘barang yang tidak begitu penting’, tetap saja, mengeluarkan 500 ribu adalah nominal yang terbilang lumayan, bukan?

5. Miliki perencanaan untuk masa depan

Photo de Karolina Grabowska provenant de Pexels

Photo de Karolina Grabowska provenant de Pexels via https://www.pexels.com

Memiliki rencana keuangan jangka panjang akan mendorong kita untuk berhemat diri secara alami. Misalnya, sudah terpikir untuk biaya menikah, membeli rumah, atau membeli kendaraan pribadi, pasti kita akan dapat menahan diri. Bagi penulis, hal ini terbilang ampuh.

Lambat laun, pemandangan di etalase baju tidak lagi menarik perhatian karena sudah ada pikiran “butuhnya rumah, bukan baju” atau “pengen beli mixer, bukan sepatu”. Perencanaan ini akan mencegah diri dari dorongan berbelanja barang ‘kecil-kecilan’ demi sesuatu yang lebih besar dan jauh lebih bermanfaat.

6. Miliki prinsip keuangan

Photo de Karolina Grabowska provenant de Pexels

Photo de Karolina Grabowska provenant de Pexels via https://www.pexels.com

Terakhir dari sekian banyak tips lain di luar sana, prinsip menabung dan berbelanja wajib kita miliki. Kali ini, prinsip berbelanja berangkat dari pemikiran penulis pribadi. Saya memiliki prinsip untuk mengeluarkan uang hanya pada tiga hal, yaitu uang yang dikeluarkan untuk bersedekah, untuk orang tua dan keluarga, serta untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Kita harus percaya, bahwa uang yang kita keluarkan di jalan sedekah tidak akan pernah menjadikan kita orang yang miskin, sebaliknya, justru menjadikan kita sosok yang kaya, bahkan dari segi materi dan hati. Hal serupa juga sama ketika uang yang kita keluarkan untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi.

Terakhir, saya tidak terlalu memperumit diri ketika ingin mengeluarkan biaya untuk ilmu pengetahuan. Baik itu membeli buku, maupun mengikuti berbagai kursus dan pelatihan. Tentunya, semuanya tetap saya tuliskan terlebih dahulu dalam rencana anggaran pengeluaran.

Sampai sini, sudah berapa banyak isi tabungan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sejak 2015 mempublikasikan beberapa tulisan di media cetak Sumatera Ekspress, Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post. Hobi membaca, menulis dan mengamati hidup. Saat ini, sibuk belajar menghidupi hidup.

CLOSE