Ternyata gak cuma cewek yang bisa bersikap lebay. Cowok pun kadang bisa jadi emo, atau impulsif dalam bereaksi terhadap situasi. Tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara drama king dan queen, keduanya sama-sama baper dan caper, sehingga seringkali dicap jablay.

Sebenarnya, apa sih yang membuat mereka menjadi dramatis? 

Sebelum kita menilai mereka dengan sembarangan, lebih baik kita mencoba untuk memahami latar belakang dari perilaku mereka. Dari sana kita bisa mencoba memikirkan beberapa solusi untuk memperbaiki perilaku tersebut.

 

1. Mereka Merasa Tidak Penting

Pada dasarnya orang-orang dramatis merasa tidak berdaya. Mereka merasa kurang mampu untuk mengendalikan hidup mereka sendiri. Jauh di dalam pikiran mereka, tersimpan kepercayaan bahwa mereka merasa terintimidasi oleh apapun di sekitar mereka. Ada pikiran-pikiran buruk yang membuat mereka lari dari tanggung jawab. Mereka tidak siap untuk menghadapi tantangan sehingga mereka memilih untuk menghindarinya.

Atas ketidakmampuan untuk menghadapi tantangan besar itulah, mereka merasa bahwa diri mereka pengecut. Akhirnya perasaan seperti itu membuat mereka membesar-besarkan masalah. Itu sebabnya orang-orang dramatis cenderung membesar-besarkan masalah kecil, tapi kabur dari masalah besar.

Sesungguhnya mereka bisa meredam perilaku ini dengan cara mulai melakukan sesuatu bagi orang di sekitar mereka. Berbuat baik pada orang lain juga merupakan tindakan yang dapat meningkatkan harga diri yang sehat. Mengambil keberanian untuk bertanggung-jawab merupakan obat bagi penyakit ini, sebagaimana berani untuk salah atau merasa sakit.

2. Orang Dramatis itu Haus Pengakuan dari Orang Lain

Advertisement

Ini adalah hal paling ironis yang terdapat dalam diri orang-orang dramatis. Dalam hati mereka yang terdalam, terdapat perasaan kosong yang membuat mereka merasa tidak dianggap oleh sekitarnya. Ada sesuatu yang membuat mereka merasa tidak penting, dan ini membuat mereka cemas. Karena itulah mereka berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mereka penting dengan cara mencari pengakuan itu dari orang lain. Padahal perasaan penting dan harga diri yang sehat itu seharusnya berasal dari dalam diri sendiri.

Dengan mencari hal-hal mendasar itu dari luar diri, yang mereka lakukan hanyalah mengekspos kekurangan mereka di muka umum. Orang lain dapat melihat dengan jelas kekurangan ini dan memandangnya secara buruk. Tidak ada yang suka dengan perilaku tersebut karena perilaku ini hanya dapat ditoleransi apabila dilakukan oleh bayi–mereka belum mampu melakukan segala sesuatunya sendiri.

Sebelum seseorang dapat dicintai orang lain, terlebih dahulu dia harus dapat mencintai dirinya sendiri. Cinta diri itu dapat diwujudkan dengan hal-hal sederhana seperti mulai berbicara yang baik terhadap diri sendiri, jujur pada diri sendiri, dan memilih keputusan yang benar dengan cara berpikir panjang.

3. Mereka Merasa Tidak Cukup Dicintai

Keluarga merupakan fondasi dari jati diri seseorang. Dulu pernah ada yang mengatakan bahwa anak tanpa ayah masih bisa menjadi orang baik, tapi tanpa ibu mereka akan gagal. Saya sepenuhnya tidak setuju dengan ini. Banyak orang yang tidak memiliki ayah mengaku bahwa mereka kesulitan menentukan identitas diri, demikian pula dengan anak-anak yang tidak mengalami kehadiran ibu. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ibu, namun dapat dilakukan oleh seorang ayah dan berlaku juga sebaliknya.

Selain itu, ketidak-hadiran salah seorang orangtua saja dalam hidup seseorang membuat mereka merasa tidak diinginkan. Sedihnya, bentuk keabsenan orangtua ini tidak hanya terjadi pada saat salah seorang dari orangtua itu meninggal dunia atau perceraian. Kadang dalam satu keluarga yang utuh terdapat salah satu(atau keduanya) dari orangtua yang tidak peduli terhadap keluarganya sendiri. Itu sebabnya pengabaian terhadap keluarga menjadi suatu bentuk KDRT (KDRT UU 23 Th 2004 pasal 49).

Orang yang dramatis biasanya berangkat dari jiwa yang memiliki kekurangan dalam kasih sayang. Kasih sayang yang mereka dapatkan dari keluarga tidak memenuhi kebutuhan dasar mereka sebagai makhluk hidup. Mungkin mereka merasa ditolak oleh keluarga, sehingga lama kelamaan timbul perasaan kurang dicintai. Sebagai akibatnya, mereka mencari cinta itu dari luar diri mereka.

Apabila mereka bersedia untuk memaafkan orang-orang yang berbuat salah terhadap mereka di masa lalu, sedikit beban hati akan berkurang dan mereka bisa meninggalkan masa lalu tersebut.

4. Orang Dramatis Tidak Mampu Memahami Perasaan Orang Lain

Orang Dramatis tidak mampu memahami orang lain, mereka hanya memahami dunia mereka sendiri. Hal ini disebabkan oleh rendahnya konsep diri sehingga mereka memandang dunia sesuai dengan imajinasi mereka, bukan sebagai apa adanya.

Itulah sebabnya orang-orang dramatis yang suka mendengarkan musik-musik galau akan cenderung menjadikan lirik-lirik sendu itu sebagai bagian dari mindset mereka. Demikian pula dengan drama. Mereka menyukai drama karena itu merupakan bagian dari pola pikir mereka. Apabila mereka penyuka film aksi, mereka akan bersikap impulsif dalam berperilaku seperti yang mereka lihat dalam televisi. Bila mereka penyuka drama percintaan remaja, mereka bisa menjadikan dunia ini serupa opera sabun.

Orang-orang dramatis bisa memanfaatkan kelebihan ini untuk kreativitas di bidang seni atau pertunjukan. Namun selebihnya, sifat mereka yang satu ini sangat menyusahkan orang di sekitar mereka. Semua orang ingin dilihat apa adanya mereka, bukan apa adanya imajinasi orang lain terhadap mereka. Itulah sebabnya orang dramatis cenderung sendirian dan tidak mampu mengendalikan emosi mereka. Dunia salah paham terhadap mereka, sebagaimana mereka salah paham terhadap dunia. Mereka bisa memperbaiki sikap ini dengan cara belajar untuk memahami orang lain. Untuk memahami orang lain, kita harus mampu untuk melihat dunia sesuai dengan kacamata orang tersebut.

5. Menyembuhkan Orang Dramatis

Kita telah menyadari betapa berbahayanya bersikap dramatis. Perilaku tersebut tidak sekadar lucu-lucuan atau cari perhatian yang bisa berubah dengan satu jentikan jari saja, apalagi perbuatan yang disengaja untuk mempermalukan diri sendiri. Ada sesuatu yang rumit tersembunyi dalam perilaku dramatis yang dilakukan seseorang. Ada riwayat panjang yang membentuknya menjadi seperti itu. Itu sebabnya mengubah perilaku dramatis seseorang tidak bisa dilakukan oleh siapapun selain dirinya sendiri.

Si Dramatis itu harus bisa memutuskan untuk mengubah diri, karena bila dibiarkan perilaku ini hanya akan menghancurkan hidupnya sendiri. Langkah pertama yang dapat mereka lakukan adalah dengan menyadari dan mengakui kekurangan tersebut, kemudian menerimanya.

"Ya, saya memang dramatis, tapi … saya ingin berubah."

Bukan seperti ini, "Ya, saya memang dramatis, tapi itu karena salah orangtua saya."

Karena menyalahkan orang lain tidak akan memecahkan masalah, sedangkan menyalahkan diri sendiri hanya akan memperburuk kondisi. Maka dari itu penerimaan atas kekurangan diri dan berniat untuk mengubahnya sudah merupakan kualitas positif yang dimiliki oleh seseorang.