Memulai sesuatu memang berat — menyelesaikannya apalagi. Terutama kalau ada hubungannya dengan tugas kuliah dan skripsi. Rasanya ada aja yang jadi distraksi. Entah itu game online, teman yang ngajak main keluar, media sosial, atau sekadar kemalasan. Belum lagi, melihat lembar kosong di Microsoft Word memang bikin terintimidasi. Alih-alih mengerjakan, kita justru lebih ingin menghindari tugas beserta skripsi.

Berbagai kalimat mulai muncul di pikiran. Kalau dituruti, mereka gampang banget bikin skripsi kita terlantar. Makanya kita harus bikin pertahanan. Saat kalimat-kalimat di bawah ini muncul, segera paksa dirimu menuntaskan pekerjaan — sebelum kamu termakan godaan!

1. “Mulai nulisnya ntar aja deh, kalau udah makan siang/selesai hujan/abis chat sama gebetan…”

Nulisnya ntar aja ah, abis makan pizza~ via sativasara.tumblr.com

Advertisement

Situasi ini biasanya didahului dengan berbagai syarat-syarat yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi tugas atau skripsi, dan entah mengapa bisa terlanjur terkesan sangat penting. Misalnya saja, Tetangga lagi manasin motor, jadi ngerjainnya setelah motor dia betul-betul panas, biar enggak berisik. Baiklah, itu penting meskipun banyak cara untuk menghalaunya, tapi ya sudahlah. Bentuk lain yang lebih tricky adalah cek timeline Path dengan berbagi alasan, entah itu mengikuti informasi kekinian, mencari inspirasi, atau memperkuat materi tugas yang berakhir pada aktivitas kepo mantan. Stop! Sebelum kalimat ini membuang waktumu lebih banyak lagi, segera mandi, makan, dan ketik skripsimu!

2. “Ah, aku ‘kan lagi ngerjain bagian yang gampang. Udah kepikiran kok mau nulis apa, kerjainnya nanti aja…”

Nanti aja deh… via delightinfancy.blogspot.com

Kalimat ini sering banget muncul dalam pikiran. “Nanti aja deh ngerjainnya, ‘kan aku udah kepikiran mau nulis apa.” Padahal, sampai sekarang sih belum ada teknologi yang menerjemahkan ide-ide (abstrak) di pikiran dalam wujud tulisan yang nyata. Selagi masih belum ada yang namanya printer pikiran, kalimat ini nggak bisa jadi alasan menunda skripsi. Ide-idenya memang sudah ada di kepala, tapi untuk membuatnya jadi tulisan kamu butuh waktu yang gak sedikit sama sekali.

4. “Ah, masih jam segini. Nanti aja lah mulainya, kalau udah pas jam 8!”

Setelah berkegiatan ke sana kemari, sampai di rumah jam 18.37, yang berbicara dalam hati adalah “Oke, nanti jam 19.00 aku harus mulai nulis!” Rebahan sebentar, dan waktu lihat jam, eh… udah jam 19.15.

Advertisement

“Lho, kok udah jam segini ya? Bentar deh biar genap, tunggu jam 19.30.”

Lah, itu jam atau hati? Kok butuh banget tergenapi? Sudah, segera nyalakan laptopmu kalau mau skripsi cepet jadi!

5. “Suntuk banget, refreshing dulu ah. Nonton apa ya…” (kemudian maraton nonton sampai pagi)

Nonton dulu ah… via 8tracks.com

Tidak ada yang perlu diragukan lagi. Menonton satu episode — entah film seri, drama, atau anime sebelum menyusun skripsi adalah aktivitas yang berisiko tinggi. Yang banyak terjadi: nonton animenya selesai, skripsinya mangkrak. Soalnya buat nyelesaiin anime kamu harus maraton nonton semalaman, dan begitu akhirnya nggak tersisa lagi anime yang kamu tonton, tubuh sudah terlalu lelah buat skripsian.

Sekali-kali boleh lah, nonton serial TV atau film. Tapi nggak sampai bikin skripsi tertunda juga. Dan jelas nggak boleh sampai

6. “Nanti aja deh ngerjainnya, kalau mepet deadline. The power of kepepet tuh aku banget.”

Mepet deadline aja deh… via writerswhocare.wordpress.com

Mitos zaman baheula yang masih juga hadir di sekitar kita. Lebih mepet lebih baik adalah pembelaan yang paling lumrah untuk mengatakan bahwa ide akan mengalir lebih lancar ketika ditekan oleh waktu dan calon mertua yang selalu bertanya kapan lulus. Alhasil, skripsi diselesaikan beberapa hari sebelum dipertanggungjawabkan. Alhasil lagi, kesehatan terancam, dan skripsinya berantakan.

8. “Ah, paling besok Pak Dosen nggak bisa bimbingan. Tuh, SMS gue aja belum dibales. Ngapain dulu deh…”

Motivasi dirimu sendiri, jangan tunggu dosen mengkonfirmasi via zahratulkamila.wordpress.com

Iya sih,  dosen yang super sibuk memang sering membatalkan atau memindah jadwal bimbingan. Membalas SMS-mu pun saja belum tentu.  Tapi ini bukan alasan untuk menelantarkan kewajibanmu malam ini. Mau ditunda sampai kapanpun, bukankah toh harus pada skripsi kamu kembali? Karena itu, baiknya tak usah tunggu konfirmasi dosen untuk mengerjakan skripsi. Daripada saat beliau konfirmasi, bab skripsimu malah belum jadi?

9. “Gak papa lah nunda-nunda. Lulus cepat sama skripsi ‘kan bukan segalanya.”

Skripsi memang bukan segalanya. Tapi kamu tak bisa move on dengan hidup jika kelulusanmu terus tertunda. Lulus cepat bukan cita-cita paling mulia. Tapi ijazah adalah tiket emas untuk fase kehidupanmu yang selanjutnya. Bukankah ayah dan ibu sudah menggelontorkan begitu banyak rupiah agar kamu bisa sampai tahap ini? Tidakkah kamu mau fase ini berakhir sempurna, supaya pengorbanan mereka tidak sia-sia?

10. “Lagi di mana? Ada kerjaan nggak? Main yuk!”

Laptop sudah dibuka, teh hangat mengepul di samping meja, materi sudah siap, niat sudah terkumpul. Dan handphone bergetar, kawan sebaya mengirim pesan: “Di mana? Ada Kerjaan Gak? Main yuk!”

Senyum lebar mengembang, jempol bergerak menjawab: “Gak ada nih, yuk! Mau ke mana? Aku ngikut aja.”

Memang sih, skripsi itu membosankan. Mengerjakannya beberapa jam saja membuat tangan ngilu dan otak gemetar. Tapi kamu hanya harus bertahan sebentar, kok. Justru karena skripsi itu mengesalkan setengah mati, kamu harus berani untuk menghadapi. Jangan biarkan 10 kalimat di atas membuat otakmu termanipulasi.

Buka laptopmu sekali lagi. Kamu akan menulis lebih banyak halaman dari biasanya, malam ini 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya