Sudah banyak terjadi cita-cita masa kecil hanya bertahan sampai masa remaja, selanjutnya masa depan berada di tangan orangtua. Padahal, zaman sudah berubah, bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Ketika orangtua tak lagi bisa menjodohkan anaknya, maka masa depan putra-putrinyalah yang diaturnya. Meski begitu, tak perlulah berontak kepada mereka. Tenang saja, inilah zaman di mana segalanya dapat diselesaikan dengan negosiasi.

Tawar menawar juga tak hanya lewat diskusi. Namun, tak hanya berhenti di situ, masih ada cara-cara sederhana yang bisa dilakukan demi meyakinkan orangtua pada kemampuan kita.

1. Paling pertama, siapkan diri sejak awal ketika ayah dan ibu tak merestui pilihanmu. Tak perlu asal melawan, karena sebenarnya orangtua hanya butuh pembuktian.

Ego masa muda memang sulit dibendung. Apapun yang tidak sesuai dengan keinginan akan digasak begitu saja, tak peduli siapa yang menjadi lawan bicara. Inilah blunder sekaligus keputusan yang cukup fatal dan sama sekali tak menunjukkan sikap elegan. Satu hal yang perlu dikedepankan dalam perjalanan perkembangan adalah kesadaran penuh atas apa yang sedang melanda.

Kesadaran itulah yang membantu diri dari dalam untuk mengenali bahwa orang-orang di sekitar mulai tak setuju dengan apa yang menjadi pilihanmu. Ketika sudah sadar bahwa orangtua tak setuju dengan impianmu, maka dengan mudahnya kamu akan sanggup menyusun strategi untuk melakukan negosiasi. Tak perlu asal melawan. Cukup kenali situasi dan mengambil celah di mana kamu dapat memperjuangkan impian.

2. Selanjutnya, jalani pilihanmu sembari memupuk cita-cita. Ini akan membuat orangtua melihat bahwa kamu sedang berjuang tanpa banyak bicara.

Advertisement

cita-cita via www.tumblr.com

Kini, kesadaran akan membawamu pada negosiasi nyata dengan menjalani keinginan mereka sembari memupuk impianmu. Ini memang melelahkan, tapi setidaknya menjauh dari ketegangan-ketegangan yang tak perlu. Prioritaskan terlebih dahulu pada apa yang menjadi keinginan orangtuamu. Misalkan saja, mereka menginginkanmu masuk ke jurusan ekonomi, padahal kamu ingin menjalani pelukis. Kuliahlah dengan sungguh-sungguh, hitung-hitung belajar bagaimana membangun bisnis di jurusan ekonomi.

Namun, tetaplah curi waktu untuk melukis setiap harinya barang dua jam dan jangan lupa bangunlah jejaring yang luas. Sederhana. Jangan lupa juga, ceritakan soal dunia lukis-melukis dan pencapaian yang telah kau torehkan. Ketika lulus nanti, ketrampilan melukismu telah siap, jaringanmu luas, dan kamu juga menguasai ilmu ekonomi. Oleh karena itu, bersabarlah barang sebentar untuk keberhasilan yang besar.

3. Secara perlahan lepaskan pilihan mereka dan buktikan pilihanmu lebih membuat nyaman. Taat pada prinsip mereka dan kurangi sifat keras kepala.

perjuangkan cita-citamu via www.tumblr.com

Setelah lulus itulah, saatnya bagi dirimu untuk menjalani apa yang kamu ingini. Ketika orangtua tetap tak setuju, maka tiada alasan bagimu untuk menunjukkan apa yang menjadi prestasi dalam duniamu. Untuk itu, ini bisa kamu lakukan ketika kamu telah cukup berhasil dengan duniamu.

Jika belum, sebaiknya tahan dulu sampai kamu benar-benar memiliki jalur yang jelas dan tegas. Sebab, keberhasilan semu akan  sangat mudah dimentahkan. Tetaplah jalani keinginannya dengan tetap berjuang dengan impianmu. Sampaikan bahwa usia muda belum dapat dijadikan patokan keberhasilan, masih ada jalan yang harus ditempuh.

4. Perlihatkan beberapa contoh figur sukses dari profesi yang kamu pilih. Tunjukkanlah bahwa sukses dapat datang dari segala bidang.

sukses bisa datang dari mana saja via www.aftonbladet.se

Ceritakan padanya beberapa sosok yang berhasil di bidang yang kamu geluti. Ini akan membantu mereka untuk menyadari bahwa kesuksesan dapat muncul dalam segala bidang. Pilihlah sosok yang sama sekali tidak mewakili kekhawatiran yang hadir dalam benak orangtuamu. Tunjukkanlah pelukis yang mampu menjadi maestro tanpa terjebak pada gaya hidup bohemian yang memuja narkoba dan minuman keras.

Orangtua selalu butuh contoh paling nyata yang dapat membuktikkan bahwa ada keberhasilan dalam harapan. Saat ini memang, dirimu belum dapat menunjukkan itu. Oleh karena itu, cobalah pinjam cerita orang lain dan katakanlah bahwa kamu sedang menjalani perjuangan yang sama.

5. Selain itu, beri contoh bahwa kegagalan bisa didapat karena menjalani mimpi yang dipaksa. Hal ini akan membuka mata mereka.

Cita-cita via www.jenny.gr

Selain keberhasilan, ada juga kegagalan dapat setiap perjuangan. Sampaikanlah bahwa pilihan mereka juga mengandung kegagalan. Memang, bahwa pilihanmu juga mengandung kegagalan. Namun setidaknya, yang menjadi daya tawarmu adalah kecintaan. Pilihanmu adalah jalan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati tanpa paksaan yang mengkhianati jatidiri. Dengan ini, kamu dapat mereduksi resiko kegagalan karena daya tahanmu untuk mempertahankan apa yang kamu ingini. Sebaliknya, contoh kegagalan yang kamu sampaikan akan menunjukkan bahwa paksaan tidak akan pernah berhasil di manapun itu diletakkan.

6. Orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Tapi sesekali katakan pada mereka, dirimu ingin belajar memutuskan masa depan tanpa dipaksa.

Komunikasi yang baik via www.plannedparenthood.org

Kami semua yakin, bahwa orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Namun, anak juga memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya. Jangan dulu keras kepala menanggapi pernyataan demikian. Hak, di sini, tak perlu diperjuangkan dengan kekeraskepalaan. Cukuplah dengan pandangan ringan bahwa setiap anak tumbuh dewasa dan berhak untuk belajar memutuskan apa yang menjadi pilihan.

Pun menanggung segala resiko yang hadir belakangan. Jika memang orangtua belum juga yakin setelah diskusi yang berkepanjangan, sampaikanlah bahwa kini ada kedewasaan yang memanggil dalam diri untuk belajar memutuskan setiap jengkal langkah beserta resikonya,

7. Ini bukan soal berbakti atau tidak, melainkan pilihan menjadi diri sendiri. Setiap manusia dapat berbakti pada orangtua tanpa harus menyingkirkan jati diri.

Be yourself! via www.alexnolan.net

Di dalam hak juga ada kewajiban. Setiap anak memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sekaligus memenuhi kewajiban untuk berbakti pada orangtua. Kita harus belajar berdiri di antara keduanya. Berbakti, tidak lalu menuruti segala keputusan orangtua. Ada banyak cara berbakti di dunia ini. Dan sukses di atas kaki diri adalah salah satu sikap berbakti yang paling tinggi. Kita bisa tetap berbakti dengan tetap menjadi diri sendiri.

Justru sebaliknya, ketika jalan hidup dilakoni dengan paksaan, maka tiada keberhasilan prestisius yang didapatkan. Sebab, selalu ada pemberontakan dalam hati yang tak pernah tersampaikan. Oleh karena itu, berjuanglah untuk membuktikkan bahwa setiap anak mampu untuk memberikan yang terbaik dengan caranya sendiri.

8. Buktikan pada mereka bahwa kamu dapat sukses dengan caramu sendiri. Hanya dengan ini kamu bisa meyakinkan ayah dan ibu bahwa kamu telah mandiri.

Sukses adalah ketika kamu berhasil mewujudkan mimpimu via www.kuakap.com

Kesuksesan dapat diukur dengan apa saja, namun kedewasaan dapat diukur dengan kesuksesan. Untuk itu, cara meyakinkan yang paling ampuh adalah dengan menunjukkan kesuksesan di bidang yang kamu geluti. Dengan ini, orangtua percaya bahwa kamu telah mampu mengelola setiap halangan dan rintangan dengan mengubahnya menjadi keberhasilan. Ketika ini telah kamu genggam, maka tiada lagi yang dapat membantah perjuangan yang telah kamu tuntaskan.

Memang, tak mudah untuk bernegosiasi pada orangtua. Masih ada pandangan umum yang mengatakan bahwa anak harus menurut pada ayah dan ibu. Padahal, ada mimpi original yang harus diperjuangkan. Untuk itu, sampaikanlah pada mereka bahwa pencapaian terbesar orangtua adalah ketika sang anak mampu berjuang berdiri di kaki sendiri dan bertanggungjawab atas pilihan yang telah mereka miliki.