Pamer Kekayaan Orang Tua Itu Tiada Guna. Toh Suksesmu Dinilai dari Prestasi yang Kamu Punya

pamer harta orang tua

Besar di keluarga serba berkecukupan memang keberuntungan. Segala kebutuhanmu bisa tercukupi dengan baik, terkadang kamu pun bisa meminta apapun yang diinginkan dengan mudah. Membuatmu akhirnya tak terlalu repot memikirkan urusan materi. Sekolah ya tinggal sekolah, tak perlu kerja sambilan demi dapat tambahan uang jajan, atau syukur-syukur bisa bantu membiayai sekolahmu sendiri.

Advertisement

Tapi kadang ada dari kamu yang menganggap kekayaan orang tua yang bercukupan ini sesuatu yang bisa diperlihatkan ke orang-orang. Caranya sudah jelas bermacam-macam, bisa dari barang yang kamu pilih ingin miliki, bisa juga dengan kebiasanmu. Apapun itu satu hal juga yang perlu kamu ingat baik-baik lagi, jika yang ada di depan matamu ini bukan sepenuhnya milikmu. Itu murni punya orang tuamu.

1. Buat apa merasa mapan materi, kalau itu bukan jerih payah dirimu sendiri

merasa mapan padahal masih minta orangtua

merasa mapan padahal masih minta orangtua via unsplash.com

Hidupmu memang serba berkecukupan. Kamu bisa makan enak, mengikuti trend yang ada entah penampilan atau teknologi. Bahkan uang di dompet serta tabunganmu saja tak pernah sampai kosong atau habis. Tapi apalah arti kemapanan yang semacam itu, kalau semua didapat dari hasil meminta orang tua. Sedikit-sedikit, “Bu, Pak, minta uang,”. Kadang kamu sendiri masih suka tipu-tipu saat meminta uang ke orang tua. Bilangnya buat bayar keperluan kuliah, tapi ternyata buat jajan dan main-main saja.

Apa ini yang disebut mapan materi?

Advertisement

2. Semakin membanggakannya, semakin terlihat betapa malasnya kamu yang bergantung ke kekayaan orangtua saja

Pemalas

Pemalas via unsplash.com

Ganti ponsel bilang ke teman-teman. Bawa mobil baru pun dengan bangganya pamer kemana-mana. Abis jalan-jalan ke luar negeri saja hampir setiap orang pasti diceritakan. Sementara semua kesenangan itu murni hasil minta dari orang tua. Bukankah sikapmu ini hanya memperlihatkan kemalasanmu saja. Kamu tahunya hanya besenang-senang tanpa paham cari uang itu susah. Sementara di luar sana sudah banyak anak muda yang rela kerja part-time atau jadi freelancer demi uang jajan tambahan.

Mau sampai kapan kamu menggantungkan diri saja pada orang tua dan kekayaan mereka?

3. Toh pamermu ini sebenarnya kesia-siaan, sebab kekayaan orang tuamu lebih sering kamu hamburkan daripada dijaga

Advertisement
belanja terus

belanja terus via unsplash.com

Sebenarnya tak masalah jika kamu memamerkan kekayaan orang tua lewat kehematanmu. Penilaian yang timbul pun pastinya positif. Tapi bagaimana kalau kamu memamerkannya dengan menghamburkan-hamburkan uang. Kamu pamer lewat barang-barang mewah yang kamu belanjakan. Lewat kegiatan nongkrong berjam-jam di kafe fancy bersama teman. Bukankah sikap pamermu ini kesia-sian belaka?!

Andai saja kamu berpikir lebih jauh, bahwa kekayaan orang tuamu ini sesuatu yang fana, yang bisa saja hilang sewaktu-waktu. Alih-alih menghamburkannya, pastinya kamu akan berpikir tentang bagaimana menjaganya. Bisa jadi kamu pun akan berpikir bagaimana caranya supaya uang orang tuamu bisa terus berputar dengan cukup baik.

4. Kekayaan orang tuamu ada sebagai batu loncatan, bukan pijakan akhir dalam proses mengejar kesuksesan

harta orangtua itu modal untukmu sukses

harta orangtua itu modal untukmu sukses via unsplash.com

Orang tuamu memang punya kewajiban untuk membiayai atau mencukupi kebutuhanmu, mulai dari sandang, pangan, papan, sampai soal pendidikan. Tapi kamu pun harus paham, jika kewajiban ini ada bukan untuk selamanya. Kewajiban mereka terlepas saat usiamu sudah cukup dewasa untuk berdikari. Kalaupun orang tuamu ini punya kekayaan yang cukup banyak atau lebih, bukankah harusnya kamu menjadikannya batu loncatan alias modal untuk kesuksesanmu?

Kamu bisa menggunkannya untuk membuka usaha pribadimu? Atau mengembangkan usaha yang sudah dirintis oraangtuamu. Setidaknya, jangan sampai kamu berpikir harta orang tuamu ini pijakan akhir dalam pencapaian suksesmu. Sebab kamu tak bisa terus bergantung dengan apa yang dimiliki orang tuamu. Toh setiap orang tua diam-diam ingin melihat anaknya sukses dengan usahanya sendiri. Bukan dari apa yang sudah mereka miliki.

5. Alih-alih pamer cuma buat kesenangan semu, lebih baik kamu bekerja keras demi kepuasan mutlak dirimu

kerja kerasmu itu kepuasan tersendiri

kerja kerasmu itu kepuasan tersendiri via unsplash.com

Iya, memamerkan kekayaan orang tua memang memberi kepuasan. Kamu dapat cap anak orang kaya saja sudah bisa bikin hati berbunga-bunga. Tapi coba kamu pikirkan lagi, saat harta orang tuamu tak ada? Mendadak duniamu runtuh, mungkin saja. Karena memang apa yang kamu rasakan selama ini semu belaka. Sementara berbicara kepuasan harus benar-benar sesuatu yang kamu dapatkan sendiri, bukan hasil diberi atau minta dengan orang lain termasuk orang tua.

Jadi, memang harusnya sedari sekarang kamu bekerja keras. Kelak kamu akan rasakan sendiri bagaimana nikmatnya duduk mencicipi hasil keringat yang keluar dari himpitan kesulitan demi kesulitan.

6. Karena patokan kesuksesanmu itu dari hasil yang kamu capai. Entah karir, entah finasial

Jangan cuma gaya, tapi prestasi harus tetap ada

Jangan cuma gaya, tapi prestasi harus tetap ada via unsplash.com

Jangan cuma bisa gaya. Kamu juga harus punya prestasi yang bisa dibanggakan orang tuamu. Prestasi pun tak melulu soal pendidikan. Tapi bisa juga karir yang baik, atau kemandirian secara finansial. Karena patokan kesuksesanmu tetap saja bukan dilihat dari siapa nama ibu dan bapakmu atau kekayaan orang tua.

Buat apa juga pamer kekayaan orang tua kalau hanya untuk kepuasan sesaat. Apalagi sampai berharap kekayaan orang tuamu ini kelak jadi warisan untuk kamu dan saudara-saudaramu. Pikirkan lagi bagaimana orang tuamu bekerja keras demi mendapatkan itu semua. Apa kamu tak merasa malu, jika sudah sebesar ini masih belum juga paham arti berjuang untuk hidup.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tukang catat yang sering dilanda rindu dan ragu

CLOSE