Hal-hal besar selalu bermula dari mimpi yang besar pula. Kesetiaan untuk percaya bahwa mimpi dapat diwujudkan dan kegigihan menjadikannya kenyataan sangat diperlukan. Semua orang tahu itu, tentu. Namun menjalaninya adalah perkara lain. Kenyataannya, hanya segelintir orang yang setia dalam perjuangan mewujudkan cita-cita mereka sendiri. Sementara  yang lainnya cukup puas dengan berharap sukses saja.

Menjadi dewasa memang terkadang membuat kita sebagai manusia harus memilih. Antara berjuang atas cita-cita yang telah kita bangun sendiri, atau jadi cuma menuruti keinginan lain-lain yang bisa jadi bertentangan dengan yang awalnya kita inginkan, tapi relatif aman. Tipis bedanya, tapi signifikan hasilnya.

Karena cita-cita yang besar membutuhkan pribadi yang besar pula, orang-orang yang berani mewujudkannya memiliki tanda-tanda di bawah ini.

1. Bagi yang sedang mewujudkan mimpi, gol dan batas waktu mereka yang tentukan. Sementara mereka yang tak yakin, selamanya menunggu uluran tangan

Perlu kalkulasi usaha agar cita-cita terlaksana via id.pinterest.com

A goal is a dream with deadline.

Advertisement

Orang yang akan benar-benar mewujudkan mimpi akan memahami bahwa jalannya akan terjal dan panjang, sementara waktu yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, mereka menetapkan mimpi mana yang benar-benar akan dikejar sebagai tujuan, serta membuat estimasi waktu yang akan digunakan untuk menuju ke sana. Bisa harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan yang akan tersita demi cita-cita. Mereka paham benar akan hal itu. Dengan segala kemampuan, mereka memanfaatkan waktu untuk selangkah demi selangkah lebih dekat ke mimpi yang akan diwujudkannya. Mereka bisa mengukur tenggat waktu, kapan usaha dan cita-cita tersebut akan bertemu.

Sementara orang yang hanya bisa bermimpi melihat waktu sebagai sumber daya tak terbatas. Karenanya mereka tak menetapkan kapan, melainkan hanya berkata, “mungkin suatu saat nanti…”

2. Mereka yang punya cita-cita selalu berani. Tidak masalah saat ini dana dan kemampuan belum mencukupi, waktu bisa dimanfaatkan untuk menggenapi

Selalu ada jalan, percayalah! via www.thefashioncuisine.com

Kebanyakan orang sudah tak berani melangkah karena tak punya amunisi. Bagi mereka, biarlah mimpi tetap jadi mimpi. Terlalu muluk rasanya jika menginginkan diri untuk mengubah nasib secara drastis. Mereka berpikir ingin jadi seperti orang-orang sukses yang hidup enak, dan dalam hati bertanya mengapa mereka tak sekalian terlahir kaya. Mereka juga ingin kemampuan lebih yang didapat tanpa banyak usaha.

Yang tidak mereka tahu, sebenarnya orang-orang sukses itu awalnya sama saja dengan mereka. Lahir dengan kemampuan seadanya, bertahan dengan kondisi keuangan yang juga tak berlimpah, bahkan seringkali datang dari yang serba kekurangan. Satu-satunya sumber daya yang berlimpah adalah waktu. Ini yang mereka manfaatkan untuk sedikit demi sedikit mengembangkan kualitas diri. Mungkin memang ada yang lebih beruntung sejak awal didukung oleh keluarga yang lebih sejahtera, tapi bukan berarti mereka kemudian sukses tanpa usaha.

3. Sementara mereka yang kurang nyali akan selalu mencari alasan. Membandingkan dengan yang maju di depan, selamanya berkaca oleh ketertinggalan

Tak bergerak, tapi selalu merasa tertinggal via backyardbill.com

Lagi-lagi karena merasa tidak berani untuk mengambil langkah lebih, orang-orang yang tidak akan pernah mewujudkan cita-cita sendiri akan selalu tertinggal. Begitu pun, mereka masih mencari-cari pembenaran atas ketidakmampuan mereka untuk mengejar ketertinggalan. Ketika dihadapkan pada kegagalan, mereka selalu mencari alasan.

“Saya tidak bisa, karena ini terlalu sulit.”

Sementara mereka yang sudah jauh di depan, terus melaju karena mampu mengubah sudut pandang.

“Ini memang sulit, tapi saya akan cari cara agar bisa.”

Cara memandang dunia, itulah yang membuat mereka berbeda.

4. Bagi yang tidak berani, ketakutan itu untuk dihindari. Sementara bagi yang akan meraih rencana dan cita-cita, tak ada takut yang tak bisa dihadapi

Tak ada ketakutan yang tak bisa dihadapi via seanmalyon.co.uk

Masalah memang tak pernah ada yang menyenangkan. Tapi di dalam hidup ini, berbagai masalah pasti akan silih berganti menghampiri. Ketakutan jadi sebuah ujian, hanya manusia yang bisa bertahan yang layak naik pangkat. Ketika dihadapkan pada pilihan, mereka sering berkata,

“Saya ikut yang paling aman saja.”

Orang yang tidak akan berhasil mewujudkan mimpi selalu dihantui oleh ketakutannya sendiri. Mereka takut bermimpi terlalu tinggi, takut diremehkan, takut dibandingkan, dan takut tidak sehebat teman-teman. Namun mereka bisa menyembunyikan perasaan ini dengan baik, sampai-sampai tidak mau mengakui bahwa mereka sebenarnya takut. Lain halnya dengan orang yang serius dengan rencananya menggapai cita-cita, mereka tak malu mengatakan bahwa mereka takut. Karena justru dengan ketakutan, mereka ingat untuk tidak terlena jika sedang berada di zona nyaman.

5. Mereka sama-sama punya keinginan. Namun yang satu rela berjuang untuk mimpi, sementara yang lain masih lelap dalam mimpi berjuang

Berjalan lebih jauh via www.desktopwallpapers4.me

Para pemimpi punya satu kesamaan: mereka pernah terlelap dalam impian. Namun, tak semuanya mampu untuk memetakan impian itu di dunia nyata. Karena memang, lebih nyaman tidak menabrakkan ekspektasi dan realita.

Namun mimpi saja tidak cukup bagi para pejuang handal. Orang-orang yang mampu bermimpi tinggi bisa mengimbanginya dengan bersikap realistis. Mereka berpikir sistemik – perubahan besar digerakkan oleh segala kebiasaan kecil. Oleh karenanya mereka sangat perhatian dengan detail. Mereka seperti dua mata koin yang menyatu jadi satu: sangat praktis dan logis di satu sisi, dan tetap utopis dan idealis di sisi lainnya.

6. Alih-alih memberi, orang yang tidak punya kendali atas cita-citanya akan selalu menuntut dan meminta

Tak punya kendali atas cita-cita sendiri via www.froufrouu.com

Orang-orang seperti ini akan terbiasa menuntut dan meminta. Di pekerjaan dan pertemanan, mereka akan jadi tipe orang yang berpikir apa untungnya jika harus melakukan sesuatu. Karena itu, kesetiaan mereka akan jatuh pada yang paling menguntungkan, tak masalah jika banyak prinsip yang dikorbankan. Tak masalah juga jika cita-cita dikompromikan.

Sebab itu, lebih mudah bagi mereka untuk mewujudkan keinginan orang lain yang dapat memberikan mereka materi, status, dan keamanan. Yang penting balasannya setimpal, walau kadang bertentangan dengan hati kecil yang masih menginginkan hal lain.

7. Mereka sama-sama bekerja keras. Namun, orang yang sedang mewujudkan cita-citanya sendiri tak pernah merasa hidupnya terkuras

Mereka tahu caranya berbahagia via annejacksonstylist.com

Dari luar, mereka sama-sama terlihat workaholic – menghabiskan sebagian besar waktu dan pikirannya untuk bekerja. Mereka sama-sama kompeten, sama-sama berdedikasi, dan sama-sama bisa diandalkan. Namun di penghujung hari, ketika merebahkan diri untuk bersiap-siap menyambut pagi, sebagian orang akan mengeluhkan pekerjaan yang tidak membuat mereka berkembang. Demi mengejar materi, mereka bertahan walau dengan energi yang terkuras dan pikiran yang tidak tenang. Ini karena mimpi orang lain yang sedang mereka wujudkan, tidak beririsan dengan mimpi yang mereka bayangkan.

Sebagian orang juga akan merasa letih, tapi tak pernah kehabisan semangat. Karena mimpi mereka sejalan dengan apa yang mereka lakukan, setiap hari adalah ruang belajar dan berkembang. Ini membuat mereka senang. Dunia yang sedang mereka jalani adalah dunia yang mereka inginkan sejak awal. Mereka benar-benar sedang membuat mimpinya sendiri jadi kenyataan!

8. Bukan berarti tidak pernah gagal, pejuang sejati justru terpuruk berkali-kali. Alih-alih berhenti, mereka introspeksi kemudian mulai kembali

Ingat untuk mulai lagi via galerisablog.com

Mereka yang selalu berhasil itu bukan dewa. Keahlian dan keterampilan yang dimiliki justru didapatkan setelah berkali-kali gagal. Tak jarang, mereka harus mencoba dua kali, tiga kali, bahkan berpuluh-puluh kali sebelum akhirnya sukses. Kegagalan yang datang berkali-kali pun ada masanya mampu merobohkan benteng pertahanan orang-orang yang terlihat kuat itu. Mereka juga kecewa, bersedih, dan kadang putus asa. Namun tak berlama-lama, mereka segera introspeksi diri. Mengakui yang salah dan merencanakan perbaikan.

Pada akhirnya yang akan membawa mereka mampu mewujudkan mimpi, adalah kemampuan mereka untuk memulai kembali hal-hal yang sempat terhenti.