Kamu merantau? Wah keren….

Kebanyakan orang menganggap anak rantau itu identik dengan pribadi yang berkarakter kuat. Tak heran orang sering berdecak kagum saat tahu kamu salah satu dari orang-orang yang tinggal jauh dari keluarga dan kampung halaman. Apalagi beberapa orang ada yang berpikiran hidup jauh dari keluarga memberi kebebasan sepenuhnya. Kamu tak terikat dengan peraturan yang ada di rumah, buatmu bisa melakukan apapun yang dirimu mau.

Advertisement

Tapi sayangnya, tak banyak yang tahu kalau di balik perantauan yang katanya keren dan asyik ini ada banyak duka alias cobaan yang harus dihadapi serta dijalani. Cobaan yang kadang membuat kamu si perantau iri dengan orang yang bisa tinggal di kota yang sama bersama orangtua sampai umur yang lebih dari seperempat abad ini. Kadang juga ada rasa-rasa ingin mengakhiri masa perantauan dan kembali ke orangtua.

Lalu cobaan-cobaan yang seperti apa sih sebenarnya itu? Selamat senyum-senyum sendiri untuk kamu si anak rantau sejati!

1. Uang yang pas-pasan, buatmu belajar mengatur pengeluaran sampai cari uang tambahan

kerja paruh waktu demi uang tambahan

kerja paruh waktu demi uang tambahan via unsplash.com

Saat tinggal bersama orangtua, kamu tak perlu ikut khawatir soal materi. Tapi tinggal di perantauan, uang yang pas-pasan justru jadi cobaan sering muncul setiap waktunya. Biasanya ini terjadi di pertengahan sampai akhir bulan. Secara di waktu-waktu itu uang bulanan sudah mulai menipis akibat gaya hidup awal bulan yang mirip dengan orang kaya baru. Membeli apapun atau jalan-jalan ke manapun tanpa berpikir panjang. Ada juga yang memang merantau dengan modal bulanan pas-pasan.

Advertisement

Tapi apapun sebabnya, kondisi uang yang pas-pasan ini jadi pembelajaran yang baik untuk mengatur pengeluaran. Saat berbelanja kamu jadi lebih taat dengan daftar belanja yang sudah dibuat. Makan sehari-hari kalau tak masak sendiri, kamu memilih menu yang sehat tapi harga terjangkau. Sedangkan urusan lain kamu pilah dan atur lagi, seperti kegiatan nongkrong atau jalan dengan teman-teman. Kadang kamu tak segan-segan mencari uang tambahan baik lewat bekerja part time, freelancer sampai usaha kecil-kecilan.

Sebab merantau juga yang memunculkan rasa sungkan untuk terus meminta kepada orangtuamu.

2. Sakit tanpa ada yang merawat, saat seperti ini kamu selalu meyakinkan dirimu untuk tetap kuat

sakit tapi nggak ada yang ngerawat

sakit tapi nggak ada yang ngerawat via www.rd.com

Tinggal di sepetak kamar kos membuat kamu paham makna sendiri saat di sekitarmu sebenarnya ada orang lain. Dan itu benar-benar terasa saat kondisi tubuhmu mendadak drop. Kalau di rumah biasanya ada ibu yang merawat dan menjaga. Sementara di kos, kamu harus tetap menyiapkan makan sendiri, sampai berobat pun kadang pergi sendiri saat temanmu sedang sibuk dengan urusan masing-masing.

Ada kalanya saat sedang di perjalanan kuliah atau kerja asam lambungmu tiba-tiba naik dan membuatmu mendadak pingsan. Di kota sendiri kamu mungkin masih bisa menghubungi kakak, adik, atau ayah untuk segera menjemput. Tapi di kota orang kamu harus bertahan sekuat mungkin supaya tak pingsan dan merepotkan orang lain yang tak dikenalmu. Apakah cobaan ini mudah? Tidak, tapi ini juga tak lagi sulit ketika kamu terbiasa.

3. Saat lingkungan mendadak kurang nyaman, seolah mengingatkan kamu untuk berhati-hati dalam pergaulan

Berhati-hati di lingkungan barumu

Berhati-hati di perantauan via unsplash.com

Keluarga tetap tempat paling nyaman dan aman sampai kapapun. Tapi sayangnya ketika kamu merantau di kota orang tak ada lagi kehadiran keluarga dalam sehari-hari. Di perantauan yang ada hanya teman dan selebihnya orang-orang yang sekadar kamu kenal saja. Teman pun terkadang tak semuanya bisa diandalkan dan dipercaya. Seperti saat ada kesalahpahaman antara kamu dengan salah satu di antara temanmu, atau saat ada kejadian buruk yang menimpa orang di sekitarmu.

Membuatmu khawatir, takut, bingung pastinya. Tapi semua cobaan yang hadir di lingkungan sosialmu ini juga yang akhirnya buatmu ingat pesan orangtua. Kamu harus menjaga ucapan, sikap, serta perilaku dalam setiap pergaulan. Mawas diri dengan siapapun sekalipun itu dengan teman dekat atau sahabatmu sendiri. Sebab di perantauan ini tak ada ayah, ibu, atau kakak yang menjagamu.

4. Rasa lelah karena mengerjakan apa-apa sendiri, seperti inilah cara menempa dirimu jadi mandiri

Mencuci baju sendiri

Mencuci baju sendiri via unsplash.com

Masak. Masak sendiri

Makan. Makan sendiri.

Cuci baju sendiri.

Tidur pun jelas sendiri.

Merantau jauh dari rumah membuatmu melakukan apapun seorang diri. Bahkan lebih dari lirik lagu yang dinyanyikan oleh Caca Handika. Kamu harus berbelanja kebutuhan pribadi selama sebulan sendiri. Kamu harus menyetrika baju sendiri. Menyiapkan keperluan kuliah atau kerja tanpa diingitkan lagi oleh ibu seperti dulu saat di rumah.

Ada kalanya kamu lelah melakukan semua hal sendiri. Saking lelahnya kamu bisa seharian penuh malas melakukan apapun. Tapi setidaknya, melakukan apa-apa sendiri buatmu punya banyak pengalaman, serta tahu banyak hal baru. Secara di perantauan ini kamu pun terbiasa mencari apa-apa sendiri pula.

Rasa lelah ini manusiawi. Toh yang terpenting kamu tertempa jadi pribadi yang mandiri.

5. Kabar kurang baik yang datang dari keluarga, di perantauan kamu cuma bisa menenangkan diri dan berdoa

Tiba-tiba ponselmu berdering, dan suara di seberang sana dengan panik mengabarkan ayahmu yang jatuh sakit. Rasanya jantungmu berhenti berdetak. Rasanya juga ingin bisa segera ada di rumah melihat sosok yang selama ini berjuang keras untuk keluarga.

Tapi apa daya, kamu di kota yang mendadak asing ini punya pekerjaan yang tak mudah ditinggalkan begitu saja. Sementara kamu memang cuma bisa menangis sambil menenangkan diri sendiri perlahan-lahan. Setiap waktu menghubungi kakak atau ibu untuk menanyakan kondisi. Tak lupa juga berdoa, semoga keadaannya kembali membaik.

6. Bangun kesiangan yang akhirnya buatmu telat kuliah atau kerja, tapi dari sini kamu belajar lebih sigap

Bangun sendiri

Bangun sendiri via unsplash.com

Cobaan yang paling berat itu biasanya datang dari dirimu sendiri, seperti persoalan bangun pagi. Di rumah kamu tak pernah khawatir bangun kesiangan, karena ada ibu yang siap membangunkanmu. Sementara di kos atau asrama, cuma ada alarm HP atau jam weker, yang sayangnya sering tak ampuh membawamu keluar dari alam mimpi. Karena itu, kamu pun dituntut untuk sigap alias mengandalkan alarm dari dirimu sendiri. Kamu tahu kapan harus bangun sekalipun HP atau jam wekermu belum berdering.

7. Sendiri dan mendadak rindu orangtua itu lumrah, toh sebenarnya kamu cuma perlu mengatur kegiatanmu supaya tak merasa kesepian

kangen rumah, kangen ibu dan bapak

kangen rumah, kangen ibu dan bapak via unsplash.com

Mau sejauh apapun kamu pergi dan semenarik apapun kota rantauanmu. Rumah dan keluarga tetaplah tempatmu berpulang. Sebab di sana kamu tak akan merasa sepi meskipun hanya di rumah bertiga dengan ayah dan ibu. Di rumah juga kamu tak akan menghawatirkan apapun. Sedangkan di tanah rantau kamu harus lebih sering menyibukkan diri. Ikut kegiatan ini itu, supaya tak merasa kesepian lantas rindu dengan orangtua atau rumah.

Merantau memang tak pernah mudah. Tapi hanya dengan merantau juga kamu bisa belajar banyak hal yang tak bisa didapatkan saat kamu hanya tinggal di satu kota bersama dengan keluargamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya