Kalau ditanya umur, meski kadang nutup-nutupin, tentunya kamu punya jawaban pasti. Tapi kalau ditanya udah dewasa atau belum, mungkin kamu bakal terdiam. Umur berapa sih sebenarnya orang seharusnya jadi dewasa? Kalau mau ngikut aturan negara, ya 17 tahun ketika kita dapat KTP dan boleh memilih di pemilu. Ada juga prinsip usia produktif yang suka dipakai sensus penduduk, 15-64 tahun. Namun pada kenyataanya, pertanyaan ini memang sulit sekali dijawab pakai batasan angka umur yang pasti.

Syukurlah kalau kamu termasuk golongan yang sudah siap lahir batin menyandang status dewasa. Kebanyakan justru mungkin tiba-tiba tersadar sama penilaian orang lain yang menohok, udah gede ih nggak boleh gitu lagi atau udah gede kok belum bisa ini itu. Dilema itu jelas paling parah dialami kelompok usia 20 yang kayaknya lagi berada di persimpangan untuk membuat segala keputusan penting dalam hidup. Tiba-tiba aja kamu punya seabrek standar yang harus dipenuhi biar pantas disebut sebagai orang dewasa.

Mencari cara untuk memenuhi standar sebagai orang dewasa(Ilya Yakover via Unsplash) via unsplash.com

Advertisement

Kalau standarnya emang masuk akal kayak bisa mandiri dan nggak ngerepotin orangtua lagi, jelas harus diikuti soalnya yang namanya manusia itu emang harus berkembang. Tapi kadang-kadang atribut-atribut kedewasaan yang populer sekarang itu minim makna maupun faedah. Standar yang seringkali justru sebenarnya bentukan media, ladang jualan, atau ajang ikut-ikutan semata. Apalagi buat cewek yang sorry to say suka jadi korban iklan dan kena pengaruh media sosial.

Namun lagi-lagi penting buat diingat bahwa pengalaman tiap orang menuju kedewasaan itu pasti berbeda-beda. Kemungkinan besar kamu juga nggak bakal sependapat dengan daftar di bawah ini. Cuma buat penulis, ini nih standar atau atribut kedewasaan yang kayaknya minim faedah tapi seringkali dibebankan pada cewek.

Siapapun tahu kalau anak kecil itu nggak pantas pakai makeup, tapi entah di umur berapa tiba-tiba jadi kebutuhan. Mau lamar kerja atau pergi kondangan, kayaknya harus banget makeup-an

Pemandangan umum bagaimana wanita dewasa mempersiapkan hari-harinya (Alejandra Higareda via Unsplash) via unsplash.com

Seiring pertambahan umur, semakin banyak tanggung jawab dan komitmen yang harus kamu tanggung. Dari pergi ke kantor untuk menyambung hidup, mengurus dokumen-dokumen resmi di kantor pemerintahan, sampai memenuhi berbagai undangan formal dari pernikahan hingga layatan. Meski mungkin tidak ada kontrak atau aturan tertulis, sebagian besar aktivitas dewasa itu juga mengharuskanmu untuk tampil ‘pantas’. Seperti yang pastinya kita ketahui bersama, standar untuk tampil ‘pantas’ buat cowok dan cewek itu beda banget.

Advertisement

Buat cewek, standar itu sedikit banyak (banyak ding), berhubungan dengan makeup. Makeup itu tipe barang yang identitasnya jelas: buat orang dewasa aja kalau anak-anak belum boleh pakai. Muka anak-anak sudah seharusnya polos, sedangkan cewek yang sudah dewasa, wajahnya harus sedikit berwarna, merona, atau cerah. Sederhananya sih biar tampil lebih cantik dan menarik. Buat siapa? Ya ada yang buat diri sendiri, buat interview kerjaan, buat postingan Instagram, biar kece pas kondangan, atau buat menarik jodoh masa depan.

Semua sah-sah aja asal tiap orang nyaman dengan pilihannya masing-masing. Tapi buat mereka (termasuk penulis) yang cuma ingin menjaga kulit biar sehat aja tanpa mengaplikasikan macam-macam bahan kimia berwarna nan bersinar di wajah, yang nantinya toh harus dihapus lagi biar muka nggak jerawatan, dunia itu seringkali terlihat kejam. Melenggang ke kondangan teman tanpa makeup, pasti banyak yang komentar atau sekadar bergumam dalam pikiran, nih orang kagak niat banget sih dateng kondangan. Maju ke interview dengan segenap visi dan misi untuk disumbangkan tapi tanpa riasan di wajah, kok penampilannya kurang profesional sih. 

Kalau bisa kembali ke puluhan ribu tahun lalu sebelum makeup ditemukan, penulis pengen berbisik ke penemunya: jangan deh nambah-nambahin standar yang nggak perlu buat kita semua.

Kamu pasti risih kalau lihat anak kecil pakai high heels, tapi kalau udah gede tiba-tiba jadi simbol kedewasaan dan kefemininan. Tampil feminin itu seringkali butuh banyak pengorbanan

Menurut Christian Loubotin, high heels itu ‘pleasure with pain’ (Brooke Cagle via Unsplash) via unsplash.com

Yang satu ini juga kayaknya identitasnya cukup jelas: sepatu khusus buat orang (cewek) dewasa. Meski sekarang ada tuh sepatu anak-anak dengan sedikit heels dan lampu nyala-nyala itu, pastinya sebagian besar orang berpikir kalau nggak pantaslah anak kecil pakai high heels. Tapi begitu usiamu menginjak pubersitas dan mulai peduli memadu-padankan pakaian, high heels tampaknya jadi kebutuhan dan norma yang bisa diterima. Bahkan ketika harus mulai pakai kain buat nikahan saudara atau sahabat, malah justru aneh jadinya kalau kamu tidak memakai sepasang heels. 

Lagi-lagi ini tentunya aja pilihan masing-masing. Toh memang banyak banget cewek yang merasa powerful dan tambah percaya diri dengan bisa berdiri sedikit lebih tinggi pakai bantuan heels. Tapi ada juga mereka (termasuk penulis) yang mungkin sudah dari lahirnya emang cukup tinggi dan nggak tahan sakit atau lecet, menganggap high heels sebagai siksaan. Yang lebih miris sebenarnya justru melihat bagaimana rasa sakit yang seringkali datang bersamaan dengan penggunaan high heels itu, justru somehow dinilai sebagai emblem kedewasaan. Ya emang cantik butuh pengorbanan! 

Meski sekarang udah banyak inovasi ‘plester’ keren untuk membuat pengalaman memakai high heels lebih nyaman, penulis memilih antitesis lain: ya udah nggak usah pakai. Meski banyak cewek yang mengaku tambah ‘pede’, tapi anehnya pemakaian high heels atau seberapa tinggi heels yang dipakai justru seringkali tergantung siapa yang digandeng–menyesuaikan pasangan gitu. Rada kontradiktif aja sih kalau kepercayaan diri cewek bertambah dengan high heels, tapi terbatas seberapa tingginya pasanganmu. Kayak dulu ingat nggak waktu Tom Cruise masih nikah sama Nicole Kidman yang tinggi menjulang?! Nicole ‘kan sampai dikritik kalau kemana-mana pakai high heels, soalnya Tom-nya jadi kelihatan pendek banget.

Nah sebenarnya kalau ngomongin urusan beginian, penulis masih punya banyak unek-unek, tapi karena tulisan ini udah cukup panjang dan editan masih banyak, kali ini HipweeJurnal sampai di sini dulu ya. Kalau ada giliran nulis lagi, bakal dilanjutin deh. See you next time!

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya