Orang Indonesia memang terkenal dengan orang-orangnya yang ramah dan murah senyum. Saking ramahnya, kadang-kadang kita sering membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Memang sih, basa-basi itu perlu walau sekedar bertanya “Apa kabarmu?”. Ketika kita lama tak jumpa dengan teman dan di satu waktu kita bertemu dengannya, tanpa sadar bibir ini sering berkata “Kamu tambah gemuk ya.” atau mungkin kamu adalah salah satu ‘korban’ basa-basi percakapan.

Ketika dibilang teman “Kamu tambah gemuk ya.” rasanya sih biasa aja, tapi begitu berpisah perasaan tidak enak mulai muncul. Dari sekian kata sapaan yang bisa digunakan, kenapa sapaan yang menyinggung fisik harus digunakan. Meskipun kenyataannya aku memang bertambah gemuk, bukan berarti aku perlu ‘klarifikasi’ darimu.

Mungkin bagimu aku memang terlihat lebih gemuk, bukan berarti kamu harus memperjelasnya di depanku, ‘kan?

Iya-iya...

Iya-iya… via www.cosmopolitan.co.uk

Advertisement

Iya aku tahu badanku memang nggak ramping, mungkin cenderung berisi. Tapi bukan berarti kamu bisa dengan bebas ‘memperjelasnya’ di hadapanku. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku bukan tipe perempuan yang mau repot berdiet dan melakukan berbagai pantangan makan agar penampilan langsing tercipta. Dan dengan melontarkan sapaan “Kamu gemukan” terhadapku juga nggak akan menggugah hatiku untuk secepatnya menguruskan badan, karena aku santai dan mencintai diriku sendiri.

Daripada bilang aku gemukan, bukankah lebih nyaman didengar jika kamu bilang aku cantikan?

Bohong dikit, nggak apa-apa dong. Daripada bilang gemukan…

Meskipun aku memang lebih gemuk darimu, bukan berarti kamu bisa ngomong seperti itu setiap kali kita bertemu.

Nggg... gimana ya

Nggg… gimana ya via www.pinterest.com

Advertisement

Dan berkomentar tentang tubuhku yang memang lebih gemuk nggak akan membuatmu lebih kurus 5kg lho. Mungkin sih bakal membuatmu ‘merasa’ lebih kurus, tapi kenyatannya badanmu juga akan tetap segitu. Jadi ketika berkomentar “Kamu gemukan” nggak membawa manfaat, sebaiknya hal seperti ini kamu tinggalkan.

Dibilangin suruh bilang aku cantikan, masa segitu susahnya sih?

Kalau kamu nggak rela aku lebih cantik, daripada bilang aku gemukan, kamu bisa ngajak aku pergi ke gym sama-sama atau jogging sore di lapangan.

Jogging bareng aja yuk

Jogging bareng aja yuk via www.thucphamantoan.com

Kalau kita olahraga bareng, kita bisa sama-sama keringetan dan jelek nggak menarik untuk sementara. Setelah olahraga, kita bisa kembali ke ‘wujud’ masing-masing. Ya paling tidak, kita berdua memiliki quality time di mana kita berdua berada dalam posisi yang setara dan nggak berat sebelah. Selain tubuh sehat, kita pun bisa saling berbagi cerita dan rahasia, bukan?

Kalau kamu nggak rela aku cantikan, at least kita bisa jelek sama-sama juga nggak apa-apa kok…

After all, perkara ukuran tubuh bukanlah topik yang pantas untuk dijadikan bahan pembicaraan. Karena yang paling penting dari seseorang adalah cara berpikirnya, bukan ukuran tubuhnya.

Biarkan prestasi berbicara

Biarkan prestasi berbicara via ekstrabladet.dk

When in comes to person, rasanya nggak adil kalau kita mengkotak-kotakkan orang-orang berdasarkan bentuk tubuhnya. Setiap orang nggak ada yang sama dan terlahir dengan kepribadian dan bentuk tubuh yang berbeda. Ketika seseorang memiliki tubuh yang berisi, mengatakan bahwa ia gemuk nggak akan membuktikan apapun. Toh dia memang sudah seperti itu dan pasti dia sendiri juga menyadari bahwa ukuran tubuhnya memang segitu.

Dan rasanya juga aneh ketika kamu lebih mementingkan penampilan fisik seseorang daripada apa yang dipikirkannya. Saat kamu berhasil mencapai sebuah prestasi, orang-orang nggak akan sibuk lagi untuk menilai seberapa langsing tubuh yang kamu miliki. Di usia yang sudah sedewasa ini, pantaskah jika kamu masih saja sibuk menilai seseorang berdasarkan dari apa yang nampak dari luar saja?

After all, kalau masih mau ngomongin soal fisik, apa kamu masih belum mau mengakui kalau aku lebih cantik akhir-akhir ini?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya