Hanya Bertarif Rp10.000, Dokter Mangku Sitepoe Tetap Obati Pasien di Usianya yang Sudah 84 Tahun

Dokter Mangku Sitepoe

Semakin hari, biaya kesehatan semakin mahal. Tak hanya itu, penyakit pun semakin bermacam-macam dan membutuhkan banyak penanganan. Karenanya, semakin banyak asuransi kesehatan yang ditawarkan. Namun, percayakah kamu bila di salah satu sudut Jakarta Selatan masih ada klinik pengobatan yang tarifnya hanya Rp10.000 setiap kali berobat? Padahal ibukota selalu identik dengan harga-harga yang mahal. Sekali ke toilet saja biasanya berbiaya Rp2.000 – Rp3.000.

Advertisement

Klinik murah tersebut ada dua, terletak di Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru. Penggagas keduanya adalah orang yang sama, yaitu Dokter Mangku Sitepoe. Dokter yang sudah sepuh ini datang lima hari dalam seminggu menggunakan angkutan demi pasien yang sudah menunggunya. Hanya bertarif Rp10.000, Dokter Mangku tetap semangat mengobati pasien, di usianya yang sudah menginjak 84 tahun. Yuk, simak kisah inspiratifnya.

Dokter Mangku Stepoe awalnya adalah dokter hewan. Kebutuhan masyarakat atas praktisi kesehatan memaksanya menjadi dokter umum

Dokter Mangku awalnya adalah dokter hewan (foto oleh Jerry Adiguna/TJP) via www.thejakartapost.com

Awalnya Dokter Mangku yang berasal dari Karo, Sumatera Utara, adalah seorang dokter hewan. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada, beliau lalu ditugaskan di tanah kelahirannya sebagai dokter hewan. Namun, pada waktu itu, dokter umum untuk manusia sendiri masih sangat jarang. Karenanya, banyak masyarakat yang berobat kepada dokter Mangku, meski latar belakangnya bukan dokter umum.

Melihat kebutuhan masyarakat ini, dokter Mangku pun memutuskan untuk mengenyam pendidikan sebagai dokter umum di Universitas Sumatera Utama. Wah, dari awal memang sudah sangat tulus ya? Demi bisa memberikan pelayanan yang lebih baik, sampai memutuskan sekolah lagi.

Setelah pensiun di tahun 1992, Dokter Mangku bersama rekannya menggagas Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan St. Yohanes Penginjil yang mengobati pasien secara gratis

klinik pertama gratis via www.merdeka.com

Setelah pensiun, dokter Mangku bersama ketiga rekannya membuka klinik bakti sosial di Kebayoran Lama. Yang namanya klinik bakti sosial, tentunya pengobatan yang diberikan juga gratis alias tanpa biaya. Hal ini dikarenakan pada saat itu, klinik bakti sosial dari pemerintah belum banyak dan sifatnya hanya sementara.

Padahal, menurut Dokter Mangku, banyak penyakit yang membutuhkan pengobatan yang terus-menerus, misalnya penyakit diabetes. Karena keinginan membantu sesama inilah, akhirnya berdiri Klinik Bhakti Sosial Abadi di Gereja St. Yohanes Penginjil. Selain Dokter Mangku, ketiga pendiri lainnya adalah seorang lulusan Farmasi, seorang pastor, dan seorang pengusaha obat.

Namun, beberapa oknum tidak bertanggung jawab menyalahgunakan layanan itu. Obat yang diperoleh secara gratis dijual lagi ke pasaran

Advertisement

antrean pasien (foto oleh HILEL HODAWYA/Kompascom) via megapolitan.kompas.com

Awalnya, biaya pengobatan di Klinik Bhakti Sosial Abadi sebenar-benarnya gratis hingga sekitar tahun 1999. Akan tetapi, kemudian diketahui bahwa beberapa oknum tidak bertanggung jawab pura-pura berobat padahal tidak sakit, lantas menjual obat yang diperoleh tanpa membayar.

Akibat hal ini, klinik sempat mengalami krisis juga karena pengusaha obat tidak lagi mau membantu. Karenanya, pengobatan yang tadinya gratis jadi dikenai biaya. Meski begitu, biaya yang diberlakukan tidak besar kok. Awalnya hanya Rp2.500 untuk sekali berobat, sudah termasuk konsultasi, periksa, dan obat.

Berawal dari tarif Rp2.500 setiap berobat, kini klinik dokter Mangku hanya bertarif Rp10.000. Pasien bertambah, klinik semakin berkembang

pasien semakin bertambah via www.grid.id

Seiring waktu berlalu, pasien yang ditangani klinik pun semakin meningkat. Di tahun 2000-an saja, sudah ada 200 pasien setiap harinya. Sedangkan jumlah dokter yang ada hanya 4 orang. Oleh karena itu, didirikanlah klinik kedua yang menjadi tempat praktik dokter Mangku sampai sekarang, yaitu Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan St. Tarsisius yang terletak di bangunan tua bekas pabrik tegel di Kebayoran Lama.

Lima hari dalam seminggu, dokter Mangku membagi waktu praktiknya. Rabu dan Sabtu di Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Tarsisius sedangkan Kamis, Jumat, dan Minggu di klinik Gereja Santo Yohanes Penginjil, Kebayoran Baru. Biaya berobatnya hingga hari ini hanya Rp10.000 setiap kali berobat.

Meski tarifnya sangat murah, pelayanan yang diberikan tidak asal-asalan

pelayanan tidak asal-asalan (foto oleh Syahrul Yunizar/Jawa Pos) via www.jawapos.com

Meski hanya bertarif Rp10.000, pelayanan yang diberikan tidak seadanya lo. Setiap pasien baru ataupun lama selalu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Karenanya, tak jarang satu pasien memakan waktu 15-20 menit sekali periksa. Sedangkan jumlah pasien sendiri tidak dibatasi setiap harinya. Untuk setiap kedatangannya, Dokter Mangku dan rekan-rekan hanya diberi uang transport sebesar Rp100.000, karena tujuan dari klinik ini memang semata-mata untuk kemanusiaan.

“Kami sampai saat ini masih mengabdi. Makanya saya ke mana-mana naik angkutan umum mikrolet karena saya juga nggak punya uang. Hanya mengandalkan uang pensiun saja sama bantuan anak-anak. Saya hidup dari situ,” tutur dokter Mangku, seperti yang dikutip dari detikhealth.

Di usia senjanya, Dokter Mangku masih aktif mengobati pasien. Kebahagiaannya hanya satu: membantu sesama

ke mana-mana naik angkot via www.tribunnews.com

Usia 84 tahun tentu bukan lagi usia yang muda. Di masa ini, seharusnya Dokter Mangku sudah menikmati waktu bersantai di rumah. Menonton TV atau mengemong cucu. Namun, dengan tubuh ringkihnya yang tak lagi bugar, Dokter Mangku tetap semangat datang ke klinik untuk mengobati pasien. Apa yang membuat Dokter Mangku tetap bersemangat mengobati di usia senjanya?

Menurut Dokter Mangku, di usia senja ini, beliau sudah tidak punya target ataupun keinginan apa-apa lagi. Selama masih hidup dan sehat, beliau hanya ingin terus mengobati. Karena hal itulah yang membuatnya merasa puas. Dokter Mangku juga berharap agar dokter-dokter yang pernah magang atau membantu di klinik mau melanjutkan klinik, sehingga klinik tersebut bisa terus buka dan mengobati masyarakat.

Dokter Mangku Sitepoe meyakini gagasan altruis, bahwa setiap individu yang berakal sehat pasti memiliki keinginan untuk membantu sesamanya tanpa pamrih. Inilah yang menjadi semangatnya untuk terus mengobati pasien yang membutuhkannya. Semoga kita semua diberikan hati yang besar dan ketulusan yang luar biasa seperti Dokter Mangku, ya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE