5 Guru Honorer Bercerita Tentang Gaji yang Tak Turun Setiap Bulan, dan Alasan untuk Tetap Bertahan

Guru honorer

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca kisah guru honorer di Konawe Selatan yang harus jalan kaki 11 kilometer setiap harinya untuk mengajar. Dengan gaji Rp300.000/bulan yang hanya diterima 3 bulan sekali, membeli kendaraan untuk mobilisasi sehari-hari terlalu berat baginya. Lalu di Bengkulu dan Pontianak, ada juga guru honorer yang dibayar dengan beberapa kilogram beras dan ucapan terima kasih. Kisah-kisah itu hanya sebagian kecil dari pinggiran dunia pendidikan kita yang mengundang resah.

Advertisement

25 November diperingati sebagai hari Guru Nasional setiap tahunnya. Namun, perayaan hari untuk tenaga pendidik ini juga menyisakan perih. Di satu sisi dirayakan, namun di sisi lain perayaaan ini justru jadi pengingat bahwa masih banyak guru honorer yang tak bisa menikmati gajinya setiap bulan, dengan beban kerja puluhan jam mengajar.

Dengan tantangan seberat itu, dan penghasilan yang sama sekali yang tidak sepadan, mungkin kita jadi bertanya-tanya: Kok mau bertahan? Berikut lima guru bercerita tentang suka duka menjadi guru honorer dan kenapa mereka bertahan meski gaji baru turun tiga bulan sekali.

1. Mengajar di sekolah swasta pun belum jaminan dapat gaji yang besar. Sebab, sekolah swasta juga ada level-levelnya

Guru honorer swasta via www.hipwee.com

Selama ini kita berpikir bahwa mengajar di sekolah swasta penghasilannya lebih tinggi dibanding di sekolah negeri. Namun, ternyata nggak selalu begitu. Untuk sekolah ke bawah yang level menengah ke bawah, menjadi guru honorer di sana sama saja dengan sekolah negeri. Honor dihitung perjam mengajar, dengan nominal yang tak seberapa besar.

2. Kalau diibaratkan, guru honorer itu seperti relawan untuk negeri. Gaji dan biaya hidupnya tak pernah sebanding

guru honorer itu ibarat relawan via www.hipwee.com

Beberapa waktu lalu, mantan menteri pendidikan Muhadjir Effendy sempat mengeluarkan pernyataan yang kontroversial: “Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi guru honorer, nikmati saja, nanti masuk surga.” Pandangan ini jelas membuat miris. Memang, guru adalah profesi mulia yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Tapi profesi guru juga punya kewajiban dan tanggung jawab yang sedemikian besar. Bukankah sepatutnya hal itu lebih diapresiasi dan dihargai lagi?

3. Kecilnya penghasilan yang diterima, membuat guru honorer harus pandai-pandai menghibur diri. Salah satunya adalah berusaha tetap enjoy dan menikmati setiap momen transfer ilmu dengan murid-murid tercinta

murid yang menyenangkana dalah alasan untuk bertahan via www.hipwee.com

Bila ditanya, kenapa sih masih mau jadi guru honorer, kalau apresiasinya kebanyakan tidak layak? Mungkin setiap orang punya jawaban sendiri-sendiri. Ada yang memang senang mengajar dan bertemu murid serta rekan pengajar lain sudah cukup membahagiakan hati. Sehingga gaji yang tak seberapa tidak terlalu membebani. Banyak juga yang terpaksa menerima situasi ini, karena memang tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah salah satu tahapan yang harus dilewati, sembari berharap masa depan mereka akan lebih diapresiasi lagi.

4. Gaji yang tidak mencukupi kebutuhan mengharuskan guru honorer untuk mencari sampingan. Karenanya, mereka harus kaya keterampilan, sehingga bisa menjalani profesi-profesi lainnya

terpaksa mencari sampingan sampai kelelahan via www.hipwee.com

Menjadi guru memang soal pengabdian. Namun, saat sibuk mengabdi, tak dimungkiri bahwa kebutuhan hidup juga perlu dipenuhi. Sedangkan bayaran yang diterima belum mencukupi. Alhasil, memiliki pekerjaan sampingan adalah solusi yang diambil oleh banyak guru honorer. Mulai dari mengajar di berbagai sekolah, menjadi guru les, hingga profesi lain yang tidak berhubungan.

Advertisement

5. Posisi belum tetap ini membuat guru honorer sering juga diperlakukan dengan kurang baik. Seringkali mereka diberi pekerjaan yang bukan jobdesc-nya

sering disuruh-suruh juga via www.hipwee.com

Meski banyak guru honorer yang sudah belasan tahun mengajar dan masih belum diangkat, sebagian besar guru honorer adalah yang masih muda. Posisinya yang masih “lemah” dan seringkali dianggap tidak tahu apa-apa ini membuat mereka begitu saja diserahi tanggung jawab yang tidak berhubungan dengan jobdesc-nya.

Menjadi guru honorer mungkin bukan profesi impian bagi mahasiswa yang ingin menjadi guru ataupun tengah menempuh pendidikan di jurusan pendidikan. Bila ditanya, tentu semua ingin menjadi PNS yang gajinya terjamin sampai tua, atau setidaknya, guru tidak tetap yang gajinya bisa diandalkan untuk hidup sebulan. Mungkin karena ini juga, semakin lama, profesi guru semakin tercoret dari daftar cita-cita anak. Padahal kalau tidak ada guru, proses transfer ilmu antar generasi tentu akan sangat sulit. Selayaknya, kita semua lebih menghargai guru baik yang sudah tetap maupun yang honorer.

Karena itu juga, banyak yang menaruh harapan besar dengan pidato menyentuh dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Anwar Makariem, tentang posisi guru yang serba sulit dengan tanggung jawab tinggi. Semoga setelah ini nasib guru, terutama yang masih honorer, bisa lebih baik lagi.

Namun apa pun yang terjadi, selamat Hari Guru nasional!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE