Hei, gajah!

Badan lo doang yang gede! Otak lo nggak ada!

Buset dah, badan lo makan tempat banget ya?! Loser! (mengacungkan jari tengah)

Ada banyak faktor yang membuat seseorang menjadi pribadi yang kuat. Perjalanan hidup yang getir, permasalahan keluarga yang rumit, faktor ekonomi dan lainnya. Sementara bagi saya, kamu adalah teman yang membuat saya tegar. Mungkin kamu lupa, bagaimana bisa? Saya bantu kamu untuk mengingatnya. Tanpa berniat menyindir, cerita ini sebagai bentuk ucapan terima kasih semata.

Apa kabarmu teman? Semoga kamu sukses sekarang. Tiba- tiba saja sebuah foto usang membuat saya mengingatmu

Saya yang dulu

Mungkin penampilanku dulu memancingmu untuk memaki. via southkoreaaddict2.blogspot.com

Advertisement

Apa kabarmu teman? Kalau boleh saya memanggilmu teman.

Salam rindu dariku yang kini tengah mencecap manisnya kesuksesan.

Hari ini tiba-tiba saja saya menemukan foto lama. Saya temukan di belantara kardus-kardus yang berdebu. Dalam foto itu saya nampak cupu dengan kacamata yang persis kutu buku. Terlebih seragam putih biru yang saya pakai kala itu yang terlalu rapi. Dengan badan yang jauh lebih besar ketimbang teman lain, saya menunduk malu dalam foto itu. Mungkin penampilan saya yang membikin kamu gemas untuk mencaci maki. Sebuah foto pun membawa saya pada ingatan beberapa tahun silam. Saya teringat kamu. Teringat luka itu.

Saya teringat luka itu. Ketika caci maki belum bisa saya terima dengan lapang hati

Saat itu, kamu hanya bisa menangis...

Saat itu, saya hanya bisa menangis. via www.pinterest.com

Mungkin bagimu hinaan itu hanya kalimat sederhana yang dapat dengan mudah terlupa. Yang sayangnya bagi saya kala itu, sungguh menyayat hati. Membunuh segenap kepercayaan diri. Sembari menahan tangis, saya membatin. Apa yang salah dengan tubuh ini? Jika pun benar meresahkan, seharusnya saya minta dilahirkan kembali sebagai anak yang bertubuh proposional nyaris sempurna. Seperti kamu.

Ketidakberdayaan membuat saya menyimpan marah dan benci dalam diam

Saya hanya menyimpan amarah itu dalam diam.

Saya hanya menyimpan amarah itu dalam diam. via www.flickr.com

Advertisement

Ketika itu saya masih terlalu dini untuk menerima apa artinya lapang dada. Jadilah amarah yang perlahan menggunung. Menjadi benci yang terpendam dalam hati. Mungkin karena saya segan berbagi beban dengan siapa pun. Hingga rasa marah dan benci itu terus saja bersemayam. Jika mereka dengan bahagia mengingat masa sekolah, saya justru sebaliknya. Seandainya saja ada sebuah alat yang bisa menghapus ingatan buruk itu, akan saya cari hingga ke pelosok bumi. Sayangnya tak juga saya temukan.

Beruntung, saya temukan sebenar-benarnya sahabat yang membuat saya menjadi pribadi yang kuat

Beruntung, ada mereka yang

Beruntung, ada mereka yang mengenalkan arti persahabatan sesungguhnya. via www.theodysseyonline.com

Baiknya sih lo ikhlasin apa yang udah lalu.

Lo sekarang punya kita! Yang nerima lo apa adanya.

Hingga beberapa waktu setelahnya, Tuhan Yang Maha Baik mengirim sahabat-sahabat baru yang sungguh menerima saya apa adanya. Mereka mengenalkan saya tentang artinya persahabatan yang sesungguhnya, yakni tentang maknanya ketulusan dan menerima apa adanya. Merekalah yang menguatkan saya di tengah keterpurukan. Perlahan luka lama itu tak lagi membayang.

Meski tak semudah kedengarannya, saya putuskan untuk membuktikan bahwa saya tidak seperti yang kamu kira

Saya pun terinspirasi dengan idola saya satu ini. Yang juga pernah menjadi korban bully.

Saya pun terinspirasi dengan idola saya satu ini. Yang juga pernah menjadi korban bully. via carta-de-michael.blogspot.com

Lo bisa membalas perlakuan mereka dengan kesuksesan kok!

Bukan demi pengakuan, tapi demi diri lo sendiri.

Bodoh. Nggak punya otak. Dasar gajah! Saya ingin buktikan, itu hanya kalimat tanpa makna yang tidak butuh untuk didengar. Saya pun berjanji pada diri untuk menjadi pribadi yang sukses berkarya. Bukan, bukan untuk balas dendam. Apalagi pengakuan kamu dan mereka yang lain. Saya ingin sukses untuk diri sendiri dan orang tersayang.

Proses menuju kedewasaan turut mendinginkan amarah. Perlahan saya mencoba memaafkan

Saya berusaha untuk memaafkan...

Saya berusaha untuk memaafkan. via jameipangilinan.tumblr.com

Dan yang paling sulit dari segalanya adalah belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Membuat amarah dan benci ini sirna dari hati. Butuh proses memang, namun saya menyadari segalanya terjadi karena kita belum sama-sama dewasa. Kamu belum cukup dewasa untuk menahan diri untuk tidak mencaci, sementara kala itu saya terlalu mudah terluka. Di atas segalanya, saya sudah memaafkan ingatan kelam itu, juga kamu.

Sekarang, entah mengapa saya ingin menjabat tanganmu dan mengucap terima kasih

Rasanya saya ingin menjabat tanganmu.

Rasanya saya ingin menjabat tanganmu. via incredibila.tumblr.com

Jika saja perlakuan buruk itu tidak pernah saya alami, mungkin saya tak akan pernah menjadi pribadi yang tegar seperti sekarang. Benar memang, manusia dianugerahi pengalaman buruk semata-mata untuk belajar artinya menjadi kuat. Menjadi pribadi mengenal artinya memaafkan. Kini, saya bersyukur pernah mengalami itu. Rasanya saya ingin bertemu kamu lagi demi mengucapkan terima kasih.

Sebenar-benarnya terima kasih. Karena luka yang kamu gores, menjadikan saya setegar sekarang

Lukamu menjadikanku setegar sekarang.

Lukamu menjadikanku setegar sekarang. via favim.com

Semoga kita bisa bertemu lagi dan menjalin persahabatan.

Ingin rasanya saya bertemu kamu. Mungkin ini terdengar muluk, tapi bisakah kita berteman baik? Terpenting dari segalanya, saya ingin berterima kasih. Terima kasih pernah menghadiahi saya dengan kenangan yang membuat saya belajar banyak hal.

Seperti kisah Laura Theux yang berusaha berdiri ketika banyak orang menertawai.

*)Artikel ini didedikasikan untuk kamu yang pernah menjadi korban bullying. Tenanglah teman, menjadi sukses adalah cara terbaik untuk menyikapi luka. Ketimbang hanya menyimpan amarah dan dendam yang tiada habisnya. #SalamMotivasiHipwee.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya