Masa remaja adalah masa meraba renjana. Makanya, memilih jurusan di perguruan tinggi bisa jadi hal yang paling dilematis untukmu yang baru lulus SMA. Ada siswa yang sudah punya gambaran ketika akan menentukan jurusan, ada yang menyerahkan pilihan pada orang tua, ada pula yang masih bimbang kemana mau melanjutkan studi. Memilih jurusan kuliah itu memang bukan hal mudah; ini keputusan besar yang bisa mengubah hidupmu.

Lalu, apa yang harus kamu lakukan jika sudah mengambil suatu program studi, dan di tengah jalan merasa tidak cocok dengan apa yang kamu pelajari? Haruskah memulai dari awal dengan jurusan yang baru, atau terus melangkah meski setengah hati?

1. Masa kuliah adalah tempat kamu menemukan jati dirimu yang sebenarnya.

Kuliah: masa menemukan jati diri. via www.usd.ac.id

Kuliah adalah masanya kita berinteraksi dengan dunia luar yang lebih luas dan beragam. Kamu akan dihadapkan pada lebih banyak pilihan dibandingkan dengan masa SMA. Kamu akan menemukan hal-hal baru yang memperluas wawasan kamu. Di sanalah kita belajar mengenal diri kita yang sebenarnya: apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini.

Tapi, sebagian dari kita menemukan bahwa ternyata renjana kita gak sejalan sama jurusan yang kita tekuni. Buat kamu yang udah sampai di titik ini, mungkin kamu merasa menyesal dengan pilihan studi yang udah kamu ambil setelah lulus SMA. Selamat! Kamu udah resmi salah jurusan.

2. Salah jurusan gak harus disesali.

Advertisement

Gak perlu menyesal salah jurusan. via www.shitlicious.com

Siapapun pasti pernah mengambil keputusan yang kurang tepat dalam hidupnya. Jadi, kalo kamu merasa salah jurusan saat ini, gak usah menyesal. Lebih baik perhatikan apa yang bisa kamu perbuat sekarang.

Ambil hikmah dari situasi ini; pandanglah kesadaran bahwa kamu salah jurusan sebagai sebuah anugerah. Kamu udah bisa meraba siapa dirimu sebenarnya dan apa yang kamu inginkan dengan hidupmu, jadi bersyukurlah. Banyak lho orang-orang yang gak bisa mendapatkan kesadaran yang serupa. Karena tetap buta akan apa yang sebenarnya mereka mau, akhirnya apa aja yang ada di hadapan mereka akan mereka kejar.

3. Lalu, pindah jurusan atau tetap bertahan?

Pindah atau bertahan? via galleryhip.com

Oke, kamu udah salah milih jurusan. Tapi, itu artinya kini kamu punya dua pilihan baru: pindah jurusan atau tetap bertahan di prodimu yang sekarang. Lantas, kamu mesti gimana? Untuk menjawab mana yang bakal dipilih, kamu perlu mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain lamanya kuliah, biaya yang sudah kamu keluarkan, dan seberapa cepat kamu bisa menyerap ilmu.

4. Sayang gak sih, kalo pindah jurusan sekarang?

Pindah jurusan sekarang? via uai.ac.id

Lamanya masa studi yang udah kamu tempuh bisa jadi bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk pindah jurusan atau enggak. Kalo kamu masih berada di semester-semester awal, gak ada salahnya buat berkonsultasi dengan orang tuamu tentang keinginanmu pindah jurusan. Yang namanya passion itu memang harus dikejar sedini mungkin. Kalo memang dibolehkan, kamu bisa mencoba ikut ujian masuk ke fakultas impianmu.

Tapi kalo kamu udah berada di semester akhir, kamu juga perlu mempertimbangkan buat menyelesaikannya lho. Apalagi kalo kamu tinggal menuntaskan skripsi untuk mendapat gelar sarjana. Mengingat waktu, tenaga, dan biaya yang udah kamu keluarkan, sayang banget kalo studimu gak diselesaikan cuma gara-gara kamu galau, padahal kamu mampu.

5. Ingatlah pencapaian yang udah kamu gapai selama bertahun-tahun kuliah.

Ingat pencapaian yang udah kamu raih. via www.usd.ac.id

Meskipun prodi yang kamu tekuni bukan panggilan jiwamu, bukan berarti kamu gak mampu, ‘kan? Nyatanya banyak kok mahasiswa yang salah jurusan tapi bisa lulus dengan IPK di atas tiga, meski bukan lulusan terbaik. Kalo memang udah tanggung, selesaikan aja apa tugasmu dan bikin orang tuamu bangga.

Ingat juga semua teman baikmu satu prodi yang selama ini bareng-bareng sama kamu, serta semua pengalaman yang kamu dapatkan dari mereka. Kamu berkembang sampai kayak gini juga mungkin karena andil mereka dalam hidupmu. Meski salah jurusan, gak ada salahnya lulus bareng-bareng sama mereka.

6. Waktu gak akan menunggumu.

Teman-temanmu udah jadi sarjana, masa kamu mau jadi maba lagi?

Udah berapa lama kamu kuliah? 3, 4 tahun? Memutuskan buat pindah jurusan setelah bertahun-tahun menempuh studi tentu sah-sah aja. Tapi, waktu yang udah kamu investasikan buat kuliah juga gak bisa ditarik kembali.

Coba kita simulasikan. Anggap saja usiamu saat ini 22 tahun dan udah menempuh studi selama 8 semester — tinggal selesaiin skripsi doang nih. Lalu, kamu memutuskan buat pindah jurusan dan memulai semua dari awal. Artinya, kamu perlu waktu setidaknya 4 tahun lagi untuk menempuh studi di jurusan yang kamu inginkan. Berarti, paling cepat kamu lulus usia 26. Itupun kalo tepat waktu.

Semakin berumur dirimu, semakin sulit kamu mendapatkan pekerjaan yang kamu impikan kalo gak punya pengalaman. Daripada kamu mengulang dari awal, lebih baik kamu belajar mandiri sambil mencari pengalaman yang sesuai dengan renjanamu.

7. Ijazah hanya bisa didapat lewat kuliah, tapi ilmu bisa didapat dengan berbagai cara.

Belajar secara otodidak juga bisa. via suturi.com

Ingat artikel tentang perusahaan Google yang gak butuh ijazah? Nah, kamu masih punya kesempatan yang lebar untuk menggapai pekerjaan impianmu meski latar pendidikanmu gak sejalan. Kecuali profesi yang kamu inginkan itu butuh keahlian yang spesifik–seperti dokter, insinyur, ahli ekonomi, ahli bahasa, atau pengacara–kamu bisa kok mempelajari ilmunya secara mandiri atau otodidak.

Jadi, sembari berusaha merampungkan studimu dengan sebaik mungkin, kamu bisa memanfaatkan waktu luangmu buat mengasah skill yang penting buat menggapai renjanamu nanti. Kalo pengen belajar lewat internet, kamu bisa intip artikel ini.

8. Lalu, jika kamu masih di semester awal dan ingin pindah, apa kamu sudah mantap?

Yakin udah mantap? via thinkmarin.net

Sebelum kamu memutuskan kamu merasa gak cocok di prodimu yang sekarang dan pengen pindah jurusan, coba ditelaah lagi deh. Apakah jurusan yang kamu tuju memang sejalan dengan passionmu, atau kamu sebenarnya hanya gak betah dengan jurusan yang sekarang? Ingat, biaya  masuk kuliah itu gak murah. Kalo memang ingin pindah, pastikan kamu mantap dengan pilihanmu.

9. Kuliah di jurusan apa pun, kamu tetap akan merasakan titik jenuh.

Dimanapun, kamu akan menghadapi kejenuhan. via www.huffingtonpost.com

Kalau kamu merasa jenuh dengan kuliahmu yang salah jurusan, apa dikira kamu gak bakal jenuh jika mengambil jurusan yang sesuai renjanamu? Belum tentu. Mau kamu kuliah di mana pun, rasa jenuh akan rutinitas tetap akan menghinggapimu.

Begitu pula saat kamu bekerja sesuai passion-mu. Rasa jenuh tetap akan menghinggapimu jika kamu terus dihadapkan dengan rutinitas. Bedanya, kamu jauh lebih ikhlas untuk tenggelam dalam rutinitas jika pekerjaanmu adalah renjanamu.

10. Salah jurusan bukan alasan buat malas kuliah.

Salah jurusan bukan alasan buat malas. via imgarcade.com

Terjebak di jurusan yang gak sesuai dengan renjanamu memang kurang menyenangkan. Tapi, itu bukan alasan buat malas kuliah lho, terutama buat kamu yang sudah menempuh tahun ketiga dan keempat. Anggap saja lulus dari sana adalah tantangan yang mesti kamu hadapi untuk menjadi dewasa yang seutuhnya.

Ingat, saat kamu benar-benar dewasa nanti, terkadang kamu harus melakukan hal-hal yang gak ingin kamu lakukan; ini adalah realitas hidup yang gak bisa kamu sangkal. Jadi, alih-alih mengeluh dan jadi ogah-ogahan, lebih baik kamu menjawab tantangan yang sudah diberikan Tuhan untuk menaikkan levelmu.

Salah jurusan bukan berarti akhir dari segalanya, kamu tetap bisa menggapai cita-citamu dan menjadi dirimu sendiri kok. Tetaplah bertahan, hadapi tantangan yang ada, dan jalani semua dengan kerelaan. Dengan begitu kamu akan menjadi manusia dewasa yang sebenarnya.