Nama: Aku
Hobi: Rebahan

Menjadi milenial dewasa memang banyak kejutannya. Mungkin banyak hal yang meleset dari dugaan sebelumnya. Mulai dari teman yang menghilang satu persatu, lalu karier dan penghasilan yang…yah, cuma gitu-gitu aja. Dan yang paling mengkhawatirkan, semakin bertambah usia, kok semakin hobi rebahan ya? Padahal dulu selalu punya rencana-rencana seru untuk akhir pekan. Sekarang, rebahan di kasur saja sudah terlalu nyaman.

Advertisement

Padahal di usia milenial ini banyak banget target yang harus dicapai. Mulai dari kemapanan finansial, melanjutkan pendidikan, sampai mencari jodoh. Lah, gimana ceritanya bisa bertemu jodoh kalau sehari-hari saja kamu sudah terlalu lelah untuk keluar rumah? Duh, memang banyak serba-serbinya ya hidup sebagai milenial dewasa. Mungkin beberapa hal ini kamu alami juga.

Ada banyak rencana yang muncul di kepala menjelang weekend tiba. Faktanya, ternyata seharian hanya rebahan saja

Sobat rebahan via www.freepik.com

Mau berenang, mau ketemu teman, mau ke toko buku, mau beberes kosan, mau ke sini mau ke situ. Begitu banyak rencana yang kamu susun menjelang weekend. Lalu, ada berapa yang terwujudkan? Atau yang terjadi justru kamu hanya rebahan seharian. Lalu weekend pun tak terasa, tahu-tahu Senin sudah di depan mata. Kamu pun menyesal karena merasa weekend tak berbuat apa-apa. Familier dengan perasaan ini? Energimu mungkin sudah terkuras di Senin sampai Jumat, jadi weekend tinggal teparnya saja.

Dulu sering “terpaksa” keluar untuk cari makan atau belanja sesuatu. Sekarang sambil tiduran juga bisa belanja ini dan itu

apa-apa online via www.pexels.com

Dulu zaman belum serba online seperti sekarang, kamu masih bisa “dipaksa” keluar untuk membeli makanan atau mungkin belanja berbagai kebutuhan. Tapi sekarang, hidup semakin mudah saja karena semuanya bisa dipesan dari kamar. Lapar, tinggal pesan antar. Belanja bulanan, tinggal pilih mau pakai e-commerce yang mana. Banyak promo dan lebih mudah pilih-pilihnya. Scrolling, check out, scrolling, check out, tahu-tahu dompet sekarat ;p

Rasanya memang ngenes dan kesepian sih seharian hanya rebahan. Tapi ajakan jalan yang datang juga kebanyakan kamu lewatkan

kadang ngenes juga via www.freepik.com

Advertisement

Kok, rasanya ngenes banget ya hidupmu? Kok rasanya kayak nggak punya teman gitu? Di satu titik, rasa kesepian itu sering muncul. Tapi anehnya, saat ada yang mengajak ketemu atau jalan bareng, kamu selalu cari alasan untuk menolak. Mungkin pertimbanganmu, waktu istirahatmu hanya sedikit jadi kamu lebih selektif. Sementara sahabat-sahabat baik yang pasti kamu iyakan saat mengajak ketemuan, justru sedang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Yah, apa boleh buat?

Kalau ada acara keluarga juga malas ikutnya. Soalnya bingung kalau ditanya kapan nikah atau mana calonnya

malas ikut acara keluarga via www.freepik.com

Dibanding ajakan jalan teman, acara keluarga ini lebih kamu hindari lagi. Kalau bisa, pokoknya nggak perlu hadir sama sekali. Bukannya benci pada keluargamu sendiri sih, hanya saja kamu enggan mangkel karena sepanjang acara yang dibahas hanya statusmu saja. Calonnya mana? Lho, kok masih lajang saja? Udah lulus, kerjaan bagus, kamu juga nggak jelek kok, kenapa masih betah sendiri? Luarnya kamu bisa cengar-cengir. Tapi dalam hati kamu menjerit: “nggak bisa ya kalau aku ditanyain soal pendapat politik aja??”

Semakin bertambahnya usia, entah mengapa malah makin malas menjalani hubungan. Rasanya makin nyaman sendirian

kadung nyaman sendirian via www.freepik.com

Memangnya kamu nggak ingin mencoba menjalani hubungan?

Pertanyaan itu mungkin sudah berkali-kali kamu terima. Yang namanya jodoh kan memang harus dicari dan ditemukan. Jadi, masa kamu nggak mau coba menjalani sesuatu dengan seseorang? Jawabannya…nggak. Entah mengapa, kamu selalu merasa kamu belum siap memiliki pasangan. Kamu masih nyaman dengan kesendirianmu, dan kamu belum siap berkomitmen dengan seseorang. Tapi yaah…nggak bisa dimungkiri kalau kadang melihat orang pacaran yang happy itu bikin kamu iri.

Meski hobi rebahan, bukan berarti kamu nggak punya target ataupun terlalu malas kok

tetap punya target via www.pexels.com

Mudah menyebutmu malas karena hobi rebahanmu itu. Namun, nggak selalu begitu kok. Kamu hanyalah seseorang yang sudah punya preferensi yang sangat mengerucut. Sebenarnya kamu tahu apa yang kamu inginkan dan targetkan. Karenanya, kamu selektif bagaimana menghabiskan waktumu. Kamu hanya benar-benar “keluar” saat ada sesuatu yang sangat menarik atau berhubungan dengan targetmu. Begitu juga dengan ajakan jalan. Kamu sedikit selektif karena kamu tahu tubuhmu butuh istiharat yang cukup.

Hobi rebahan juga membuatmu akrab dengan deadline. Tapi tak apa, kamu sudah terbiasa kerja cepat dikejar waktu

Akrab dengan deadline via www.pexels.com

Kamu tahu kok kalau hobi rebahanmu ini akan membuatmu terburu-buru kemudian. Deadline-deadline menumpuk, karena kamu terlalu banyak bersantai. Namun, toh, semuanya terkendali sampai sejauh ini. Meski kebut-kebutan, kamu bisa menyelesaikan banyak tanggungan tepat waktu. Malah kadang, waktu yang mepet itu yang merangsangmu untuk berpikir cepat hingga semuanya bisa diselesaikan dengan cepat.

Kamu mengerti bahwa kesuksesan itu kamu sendiri yang tentukan. Kamu tahu bahwa hobi rebahanmu ini punya konsekuensi

segalanya ada konsekuensi via www.freepik.com

Kadang-kadang kamu memang skeptis juga dengan hidupmu. Apalagi kalau satu hari berlalu dan kamu nggak melakukan sesuatu yang berarti. Tapi di sini, kamu mengerti bahwa hidup itu pilihan. Setiap keputusan, termasuk hobi rebahanmu itu, punya konsekuensi yang harus kamu hadapi. Jadi, kamu pun tahu kapan harus mengubah diri dan kapan harus menjadi lebih produktif lagi tanpa harus memaksakan diri melakukan apa yang nggak kamu ingini.

Meski hobi rebahan, kamu juga punya mimpi dan tahu kalau mimpi perlu dikejar kok. Hanya saja, kamu punya cara yang berbeda dibanding yang lainnya. Dear sobat rebahan di akhir pekan, jadi, rencana apa yang kamu miliki di masa depan?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya