Kamu pernah dicap jadi anak ugal-ugalan? Kadang memang karena sikap ekstrovert dan sangar dicap negatif, padahal seutuhnya nggak ada sedikitpun niat jahat di hati. Dari urusan fashion sampai perilaku karena tampilanmu yang terlanjur aktif dan selengean kamu nggak bisa lepas dari cap anak nakal. Padahal apa yang kamu lakukan malah sebaliknya, kebaikan yang nggak akan kamu tampakkan dan terselimut penampilan sangar yang kamu berikan.

Kamu bahkan nggak bisa membela diri. Karena membela diri malah dikira egois dan pemarah. Kamu juga sering diperlakukan berbeda dengan orang kebanyakan, karena penampilan yang serba apa adanya bahkan sering jadi pusat perhatian. Mencoba menebak isi hatimu, semoga semua yang kamu lakukan punya alasan kuat hingga orang nggak gampang meremehkanmu, melihatmu sebelah mata.

1. Kadang sikap ambisiusmu dinilai terlalu sangar bahkan egois, padahal ambisius nggak selamanya negatif

Padahal cuma sekadar berambisi kuat malah dikira ugal-ugalan via unsplash.com

Advertisement

Kamu punya cita-cita. Kamu ingin hidup bahagia seperti orang pada umumnya. Kamu yang kadang ambisius malah dinilai negatif oleh orang-orang. Padahal manusiawi sekali bahwa setiap manusia punya tujuan hidup, termasuk dirimu. Semangatmu yang membara malah ditakuti orang-orang yang hanya melihatmu dari penampilan atau luarnya saja.

2. Berpenampilan suka-suka dikira nggak mencintai diri sendiri, padahal dengan berpenampilan begini kamu jadi lebih percaya diri

Bikin percaya diri malah dibilang nggak cinta diri sendiri via unsplash.com

Soal percaya diri kamu jagonya, kamu bersikap selayaknya dan seadanya. Kamu terlalu jujur dengan keadaan, kepercayaan dirimu pakai pakaian semaumu malah dibilang nyeleneh bahkan nggak mencintai diri sendiri. Mereka pikir apa yang kamu pakai dan lakukan adalah cerminan seseorang yang nggak mencintai dirinya sendiri. Padahal kamu tahu apa yang kamu kenakan biar tambah percaya diri.

3. Meski mereka bilang ugal-ugalan, kebaikan dan rasa kasih sayang tetap ada di jiwamu

Kami punya kasih sayang dan cinta sama seperti orang kebanyakan via unsplash.com

Kamu seperti manusia kebanyakan, dengan jiwa dan moral yang terjaga kamu juga melakukan apa yang orang lain lakukan. Mencintai seseorang, menyayangi sesama dan menunaikan kebaikan. Meski sikap dan perilaku sudah terlampau sangar, kamu punya kebaikan yang kadang tertutupi oleh penampilan selengean dan gaya bicara yang terus terang.

4. Mereka boleh marah dan menasihatimu, tapi yang pasti kamu akan buktikan kalau dirimu jauh lebih baik dari yang dipikirkan mereka

Buktikan kamu bisa dan bahagia via unsplash.com

Advertisement

Kamu sudah melewati berbagai cobaan, dari nasihat bijak dan omelan soal penampilan. Perilakumu sebenarnya nggak buruk, apa yang kamu lakukan semata hanya perihal kenyamanan. dengan sedikit menahan ambisimu kamu mulai membuktikan bahwa kamu bisa mencapai sesuatu yang bisa membanggakan banyak orang dengan penampilanmu sekarang.

5. Kamu hanya ingin punya prinsip, bahwa dirimu pun ingin dihargai apa adanya

Kamu punya prinsip yang jelas via unsplash.com

Ada sekian hal yang orang lain kadang nggak punya dan kamu punya. Kamu punya prinsip hidup yang agaknya sudah matang, siap menantang masa depan dan lingkungan yang membelenggu penampilan dan perilakumu. Kamu kadang terpakasa berbuat nakal agar tercipta pembaruan dalam lingkungan. Kamu punya prinsip dan mereka yang kadang nggak menghargai prinsipmu pada dasarnya karena belum melihat suatu kebanggaan dalam dirimu.

6. Senakal-nakalnya kamu, soal belajar tetap jalan. Bagi kamu sedikit nakal boleh, bodoh dan dibodohi jangan sampai

Soal bersaing di dunia akademis, boleh diadu. via unsplash.com

Nggak bisa dimungkiri kalau memang kamu nakal, sedikit banyak kamu mengakuinya sebagai gambaran dirimu, nakal dan sangar. Tapi di luar semua yang mereka sangkakan, kamu punya sebaris kata penopang semangat “nakal boleh dan bodoh jangan”. Tapi apapun kenakalanmu, jangan sampai deh merusak diri dan lingkungan. Kamu harus menjaga nama baikmu dan keluarga, bagaimanapun keluargamu adalah rumah, kamu harus menjaga rumah itu tetap bersih dan wangi.

Jika kamu sepakat dengan “jangan nilai isi buku dari sampulnya” maka seharusnya apa yang kamu lakukan harus lebih baik daripada apa yang tampak di permukaan. Yakinkan mereka yang selama ini berprasangka buruk untuk lebih menerima, kamu punya prinsip soal penampilan, kamu juga punya prinsip jalan pemikiran yang berbeda. Yang terpenting dari apa yang kamu lakukan hanya satu, kebaikan untuk sesama karena hidup ini adalah perkara saling mengisi satu manusia ke manusia yang lain. Semoga kebaikan menyertaimu dalam niatan dan tindakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya