Aktivitas membangun rumah bagi para tunawisma selama ini lebih banyak ada dalam agenda badan-badan sosial kemasyarakatan. Kadang ada pula miliarder yang memberi perhatian, atau pemerintah yang membuat proyek jika dana tertalang. Namun pernahkah kamu mendengar bocah umur 9 tahun alias kelas IV SD merancang kemudian membangun sendiri rumah kayu sederhana untuk para tunawisma?

Namanya Hailey Fort dari Kingston, Washington, Amerika Serikat. Bocah SD ini membuktikan bahwa ketika hati sudah mendapat panggilan yang begitu kuatnya, tak ada yang bisa dihalangi usia.

Hati Hailey sudah terketuk sejak ia balita. Saat berjalan dengan ibunya, ia melihat seorang tunawisma

Bercocok tanam sendiri via inhabitat.com

Advertisement

Saat ia melihat gelandangan tersebut, Hailey kecil bertanya pada ibunya apakah ia boleh membelikan tunawisma tersebut sepotong sandwich. Tak sampai setahun kemudian, Hailey sudah memproduksi sendiri sayur-sayuran yang ia sumbangkan ke gudang makanan lokal, untuk diberikan kepada para tunawisma yang membutuhkan! Ia mampu memproduksi hampir 128 pound atau setara 60 kilogram sayuran sepanjang tahun lalu, dan itu semua dilakukannya seorang diri.

Hailey tergerak membangun rumah portabel setelah ia bertemu dengan Edward, seorang pria yang baru saja dipecat dari pekerjaannya di supermarket lokal

Edward, orang yang menggerakkan hati Hailey kecil via www.mirror.co.uk

Takdir yang mempertemukan Hailey dengan Edward yang menjadi tunawisma, menginspirasi dirinya untuk membangun shelter atau penampungan kecil bagi mereka yang tidak memiliki rumah.

“Dia (Edward) adalah orang yang baik. Aku tidak ingin dia kehujanan karena cuaca yang sedang buruk ini.”

Advertisement

Ucap Hailey yang tidak tega melihat pria tersebut basah kuyup kehujanan karena tidak punya rumah, kepada ibunya. Apakah Hailey kecil hanya diam saja? Tentu saja tidak.

Hailey pun mulai beraksi, membangun sebuah shelter mini untuk Edward dan para tunawisma yang lainnya

Badan mungilnya, tak menghalangi kepiawaiannya menggunakan alat-alat pertukangan elektrik via www.trueactivist.com

Dengan bantuan orangtuanya dan kakeknya yang seorang kontraktor di daerah Arizona, Hailey pun mulai membangun tempat tinggal untuk Edward. Ia mengumpulkan dana dari gerakan sosial Rising Fund, yang bersedia menyumbangkan uang sebesar 3000 USD atau setara 39 juta rupiah, diskon sebesar 50% untuk setiap pembelian bahan dari toko lokal yang bernama Lowes, serta sumbangan bahan material.

Setengah jadi! via www.trueactivist.com

Shelter tersebut dibuat dengan ukuran 2,4 x 1,2 meter. Bangunannya memiliki jendela, pintu depan lengkap dengan kuncinya, dan sekat-sekat tahan air yang dibuat dengan menggunakan kain jeans bekas. Tak lupa, ia juga menyematkan lampu yang menggunakan tenaga matahari. Terkecuali pekerjaan berat yang dibantu oleh orangtuanya (misalnya menggergaji kayu menggunakan chainsaw besar), rumah ini dibangun oleh 100% Hailey sendiri, dengan menggunakan alat pemaku hingga bor elektrik. Kakeknya yang merupakan kontraktor hanya membantu mengarahkan dan memberi masukan melalui konsultasi atas permintaan Hailey sendiri.

Perjuangan Hailey pun tidak berhenti pada selesainya satu unit shelter saja; karena ia berencana membuat 12 shelter mini yang sama!

Satu selesai, sebelas menanti! via www.trueactivist.com

“Sangat tidak adil bila ada seseorang yang sampai tidak memiliki rumah. Karena setiap orang berhak punya tempat tinggal untuk dirinya sendiri.”

Rumah yang dibangunnya ini adalah shelter pertama yang selesai dari 12 shelter yang dia rencanakan. Ketika rumah-rumah mini ini selesai, ia akan menempatkannya di halaman gereja, dan rencana tersebut sudah disetujui oleh pihak kota.

Semakin dekatnya Hailey dengan mereka yang tunawisma, Hailey semakin sadar kebutuhan-kebutuhan lain yang mereka butuhkan selain rumah. Selanjutnya, Hailey berencana menyerahkan sumbangan tambahan berupa 115 kilogram (250 pounds) makanan, 1000 peralatan toilet, 500 kebutuhan kewanitaan, dan 100 mantel untuk para tunawisma tersebu, di tahun 2015 ini. Waow!

Perbuatan nyata berbicara lebih keras daripada kata-kata. Dan ketika sudah berbuat baik, orang lain tak lagi peduli seberapa mungil usia kita

Semua karena cinta via www.trueactivist.com

Ketika ditanya, apakah cita-cita Hailey? Dengan mudah ia menjawab bahwa ia ingin menjadi filantropis atau seseorang yang membantu orang lain.

Kepedulian Hailey yang ia tunjukkan dengan berjuang membangun rumah bagi para tunawisma, mampu menyentuh banyak orang. Orang-orang pun tergerak untuk mulai peduli kepada orang-orang tidak mampu disekitar mereka; sebuah perbuatan nyata yang menginspirasi, yang berbicara lebih keras daripada sekedar kata-kata. Bahkan, seorang seniman memberikan dukungan dengan membuat versi anime dari Hailey yang mungil dan lucu ini!

Hailey versi diatas kertas via www.boredpanda.com

Saat ini Hailey masih merampungkan proyeknya.  Dengan dukungan dari situs fundraising di Internet, Hailey menyelesaikan sisa 11 rumah lainnya. Proyek Hailey ini bisa kamu lihat di Facebooknya, yakni Hailey’s Harvest.

Semoga sukses ya, Hailey!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya