Dikutip dari KBBI, ambisi adalah keinginan berupa hasrat atau nafsu yang besar untuk menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu. Yang pasti, ambisi ibarat dua sisi matang uang. Dia bisa mengantarkanmu pada prestasi-prestasi yang besar, tapi di lain sisi dia pula yang akan membuatmu hancur dan terpuruk.

“Ambisi adalah kekuatan ketika kamu tahu cara menggunakan dan mengendalikannya.”

Ambisi adalah hal yang manusiawi. Merawatnya akan mengantarkanmu pada prestasi atau pencapaian yang tinggi.

ambisi itu manusiawi

ambisi itu manusiawi via venturebeat.com

Advertisement

Manusia lahir ke dunia dengan dibekali keinginan, hasrat, juga nafsu. Sudah jadi hakikatnya, jika manusia selalu merasa tak pernah puas. Ingin punya pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, atau punya pasangan yang lebih cantik atau tampan misalnya.

Keinginan – keinginan itulah yang kemudian bertransformasi menjadi ambisi. Tak salah jika kamu memiliki ambisi. Toh, keinginan dan rasa tak puas itulah yang akan mengantarkanmu pada pencapaian atau prestasi-prestasi yang besar. Semakin besar ambisi yang dimiliki maka semakin besar pula kemungkinan untuk mencapai mimpi.

Punya ambisi membuatmu istimewa sebagai manusia. Selain gigih bekerja, kamu pun lebih disiplin menjalani hidup sehari-harinya.

dia gigih dan pekerja keras

dia gigih dan pekerja keras via www.gsb.stanford.edu

Hidup dengan ambisi membuatmu layak masuk golongan manusia-manusia yang istimewa. Bagaimana bisa? Karena pada umumnya, orang-orang yang memiliki ambisi akan menjalani hidupnya dengan lebih maksimal. Selain gigih dan mau bekerja keras, kamu menjadi lebih disiplin dan serius menjalani segala sesuatu yang tujuannya untuk mencapai keinginanmu itu.

Ambisi adalah bukti, bahwa nasib bisa diubah berbekal niat dalam hati dan usaha yang tanpa henti.

Asal ada tekad dan usaha via unsplash.com

Advertisement

Banyak orang percaya bahwa takdir adalah ketentuan yang tak bisa diubah oleh manusia. Sementara, nasib justru bisa berubah asalkan kamu punya tekad dan mau berusaha. Orang miskin bisa jadi kaya, dan yang semula tak pintar malah bisa jadi sangat cerdas.

Nah, orang-orang yang hidup dengan ambisi pasti telah membuktikan hal-hal ini. Bahwa mimpi atau cita-cita yang besar itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Asalkan punya niat yang diwujudkan dengan aksi nyata, keberhasilan atau kesuksesan itu bukan sekadar wacana.

Tapi, orang-orang yang hidup dengan ambisi juga bukannya tanpa cela. Ada kalanya ambisi itu tak membawa kebaikan, tapi justru bencana.

ambisi bisa jadi bencana

ambisi bisa jadi bencana via a-chromous.tumblr.com

“Oh, jadi kemampuanmu cuma sampai di sini?”

“Ayo dong, seharusnya kamu bisa mencapai lebih dari ini!”

“Ya ampun, sudah bisa santai-santai. Masih banyak yang harus kamu kerjakan, lho!”

Dalam benakmu, mungkin ambisi itu berwujud dirimu sendiri tapi dengan versi wajah galak dan mulut yang tak pernah berhenti mengoceh. Dia akan selalu mendikte atau mengkritisi segala hal yang sudah kamu lakukan. Dia pula yang akan terus-terusan mengingatkan bahwa usahamu itu belum cukup memuaskan.

Ketika ambisi mulai tak terkendali, kamu akan merasa semua yang sudah dilakukan itu masih saja kurang. Kamu mungkin merasa sudah bekerja keras, tapi itu tidak cukup atau belum cukup. Kamu meyakini bahwa di luar sana banyak orang yang bisa melakukan lebih dari apa yang sudah kamu lakukan. Ada perang dalam batinmu sendiri. Kamu mulai merasakan gejala-gejala yang mirip seperti depresi, tapi pemicunya tak sama.

“Kamu terpuruk bukan karena gagal. Kamu hanya takut jika tak melakukan yang terbaik dan memaksimalkan kemampuan.”

Ambisi menjadikanmu sibuk memikirkan diri sendiri. Kamu lupa bahwa ada keluarga, teman, bahkan pasangan yang juga berhak mendapatkan porsi.

kamu bisa berubah sangat egois

kamu bisa berubah sangat egois via www.offset.com

Ambisi itu bisa membuatmu buta. Saking fokusnya mengejar apa yang diinginkan, kamu justru lupa. Bahwa selain keinginan-keinginan yang sedang kamu perjuangkan, banyak hal lain yang sebenarnya tak boleh diabaikan. Kamu punya teman, keluarga, pasangan, dan bahkan dirimu sendiri yang juga berhak mendapatkan porsinya. Buat apa mengejar mimpi-mimpimu jika selama prosesnya kamu menjadi sangat egois dan lupa untuk bahagia?

Kadang, muncul rasa iri yang bertransformasi jadi dengki. Hatimu panas ketika orang lain berhasil meraih apa yang mereka ingini.

ambisi bisa bertransformasi jadi rasa iri

ambisi bisa bertransformasi jadi rasa iri via haho.bg

“Eh, Si Andi itu dimana sih sekarang?”

“Dia mah udah di London. Dapet beasiswa S3 kabarnya.”

“Oh, gitu ya. *senyum kecut

Di level yang kronis, ambisi itu membuat dirimu dipenuhi rasa iri dan cemburu. Ada rasa tak senang ketika melihat atau mendengar satu per satu temanmu berhasil meraih prestasinya sendiri-sendiri sedangkan kamu belum berhasil meraih apa yang kamu inginkan. Parahnya, ambisi yang tak terkendali juga bisa memicu melakukan hal-hal negatif. Bisa jadi kamu akan melakukan cara-cara kotor untuk meraih apa yang kamu inginkan. Bahkan, rasa iri juga bisa bertransformasi jadi dengki, dimana kamu punya keinginan untuk mengagalkan usaha-usaha orang lain.

Setiap keinginan akan muncul sepaket dengan konsekuensi dibaliknya. Meski sudah berusaha, bisa jadi kegagalan yang harus kamu terima.

gagal membuatmu sangat terpuruk

gagal membuatmu sangat terpuruk via dailyurbanista.com

Berani berambisi juga harus siap menerima konsekuensi. Setiap usaha itu akan berakhir dengan dua kemungkinan, yaitu gagal atau berhasil. Memiliki ambisi tanpa kelapangan hati justru bisa sangat berbahaya. Bayangkan jika sebelum gagal saja kamu sudah ketakutan karena tak bisa memaksimalkan kemampuan, kira-kira apa yang terjadi jika kegagalan itu benar-benar kamu alami?

Pada akhirnya kamu akan menyadari, ambisi harus diimbangi dengan kemampuan mengontrol diri sendiri. Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu sebut sebagai mimpi!

tuliskan keinginanmu

tuliskan keinginanmu via anewdomain.net

Jangan mau dikendalikan ambisi, tapi kamulah yang berhak mengendalikan ambisimu sendiri. Mulailah dari cara yang paling sederhana, seperti membuat to do list atau rencana kerja yang nyata. Pikirkan apa saja yang ingin kamu raih, tulis langkah-langkah yang akan kamu lakukan dengan jelas, dan catat setiap progress atau kemajuan yang sudah kamu buat.

Di satu sisi, cara sesederhana ini membuat isi kepalamu terasa sedikit lebih ringan. Hal-hal yang kamu inginkan tak hanya berputar-putar dan berdesakan di dalam kepala, tapi satu-persatu bisa kamu jabarkan dengan nyata. Selain itu, kamu akan lebih mudah menganalisa, mana-mana saja keinginan yang belum dapat dicapai dan mana yang sudah berhasil kamu dapatkan.

Setiap orang terlahir dengan kemampuan yang tak seragam. Percayalah bahwa tak ada gunanya membanding-bandingkan pencapaian.

berhenti membanding-bandingkan

berhenti membanding-bandingkan via www.dailydot.com

“Ketika kamu ingin seperti orang lain, kamu tidak akan pernah selesai atau sampai di garis finish. Karena apa yang kamu kerja tak pernah ada batasnya.”

Berangkatlah dari pemahaman bahwa setiap orang punya nasib dan takdirnya masing-masing. Ingatkan pula dirimu bahwa setiap orang juga terlahir dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Kamu tidak perlu menjadikan orang lain sebagai patokan, tapi buat dan ciptakan sendiri keinginan-keinginanmu.

Mulailah dari cara-cara yang paling sederhana, seperti berhenti mengamati aktivitas orang lain di media sosial misalnya. Walaupun si A lagi check in lokasi di luar negeri, si B lagi posting makanan yang kelihatan enak dan mahal, atau si D lagi selfie ditempat kerjanya yang mentereng – tetap tenang dan jangan mudah panas hati. Tanpa perlu mengukur apa yang sudah orang lain miliki, tidak ada yang salah dengan menjadi dirimu sendiri.

Jangan hanya fokus pada satu ambisi saja. Buat sebanyak mungkin, maka salah satu yang berhasil diraih akan membuatmu bahagia.

Buat banyak ambisi sekaligus via unsplash.com

Pastikan kamu tidak hanya memiliki satu jenis ambisi saja. Misalnya, kamu tidak seharusnya memiliki ambisi dalam hal karir semata. Ambisi itu sepatutnya banyak bentuknya. Berambisilah dalam berbagai hal atau beragam sisi dalam hidupmu.

Kamu boleh berambisi punya karir yang mapan, punya keluarga kecil yang bahagia, atau punya bisnis sendiri setelah pensiun nantinya. Banyaknya ambisi akan menghindarkanmu dari stres atau perasaan tertekan. Setidaknya jika gagal dalam satu ambisi, kamu bisa mengejar ambisimu yang lain ‘kan?

Sesekali berpuas diri itu bukan dosa. Meredam ambisi yang tak terkendali adalah dengan mensyukuri segala yang sudah kamu punya.

kamu berhak berpuas diri

kamu berhak berpuas diri via tinablogsalot.wordpress.com

Sekilas frasa “berpuas diri” memang terkesan negatif. Bukankah sejak dulu kita diajarkan untuk tak mudah berpuas diri dan terus memaksimalkan kemampuan? Berpuas diri itu boleh atau bahkan harus tapi tetap selektif. Maksudnya, cara ini bisa ikut mengontrol ambisi besar yang kamu miliki. Ketika kamu belum bisa mencapai keinginan terbesarmu, setidaknya kamu akan berkata;

“Gak apa-apa deh walaupun belum bisa merintis bisnis sendiri. Toh, sekarang masih punya pekerjaan tetap dengan penghasilan yang lumayan. Sabar dulu aja sambil nabung buat modal.”

Dengan kata lain, berpuas diri di sini adalah bentuk lain dari bersyukur. Jangan biarkan dirimu merutuki apa yang belum berhasil diraih, tapi bersyukurlah untuk segala yang sudah kamu miliki hingga hari ini. Hargai dirimu sendiri dengan merayakan apa yang berhasil kamu capai.

Karena hidup adalah perjalanan tapi bukan semata-mata demi sampai ke tujuan. Proses dan segala yang kamu temui sepanjang perjalanan itu pula yang tak layak dilewatkan. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya