Mereka yang mengelola sebuah organisasi, jadi CEO di perusahaan besar, manager restoran, sampai mereka yang buka toko kelontong dan punya anak buah itu boleh disebut bos atau atasan. Tapi meski jadi bos, belum tentu lho mereka layak disebut sebagai seorang pemimpin.

Pasalnya, mereka yang jadi sekadar bos dan yang benar-benar jadi pemimpin adalah dua hal yang berbeda. Jika bos hanya akan sibuk memerintah atau marah-marah, pemimpin justru bisa lebih sabar dan bertanggung jawab pada anak buahnya. Nah, apa aja sih ciri-ciri mereka yang layak disebut sebagai pemimpin?

Advertisement

1. Alih-alih berusaha terlihat paling hebat, mereka justru tak merasa enggan memberi kesempatan bagi orang lain untuk “bersinar”.

tak berusaha jadi yang terbaik via thestartupmag.com

Pemimpin yang baik tak akan sibuk “eksis” sambil menonjolkan dirinya sendiri. Dia akan memberi kesempatan pada orang lain agar bisa sukses dan “bersinar”. Dia tahu kalau kesuksesan orang lain tak akan mengurangi apa yang sudah dia punya.

Biasanya, seorang pemimpin yang baik juga murah hati dan tak pelit pujian. Selain menghormati pendapat bawahannya, dia bakal siap mendengarkan apapun itu yang tujuannya buat kemajuan perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya. Bukannya asal “nyuruh-nyuruh’, tapi dia justru berkolaborasi dengan bawahannya untuk menyelesaikan masalah bersama-sama.

Advertisement

2. Dia adalah orang yang berdiri di garis depan. Dia yang bertanggung jawab saat ada masalah yang harus dituntaskan.

jadi orang pertama yang bertanggung jawab via pixabay.com

Kalau dia pemimpin yang baik, dia adalah yang pertama kali tampil ketika ada masalah. Sebaliknya, pemimpin yang belum berpengalaman justru menyalahkan orang lain dan sibuk tampil ketika perusahaan atau organisasi punya prestasi bagus.

Bertanggung jawab dalam suatu masalah itu bukan cuma mengaku salah, tapi juga terlibat buat menanggung konsekuensi dan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki masalah itu. Pemimpin yang baik juga tahu kalau kata ‘maaf’ kadang tak cukup. Mereka bisa sangat peka untuk benar-benar menyesal, dan mau memperbaiki kesalahan di kemudian hari.

3. Bukannya ingin terlihat serba punya, dia malah memilih bersikap rendah hati dan hidup sederhana.

mereka rendah hati dan sederhana via www.businessinsider.co.id

Pemimpin yang baik tak akan besar mulut, tapi dia pasti bersungguh-sungguh dalam tindakannya. Bukannya sibuk memperlihatkan apa yang dia punya, tapi sikap rendah hati membuat dia lebih peka dengan sekitarnya. Tanpa perlu “jaim” atau merasa gengsi untuk berbaur dengan bawahannya menjadikan mereka justru lebih dihormati.

4. Seorang pemimpin akan berusaha memaksimalkan kemampuan diri. Bersama tim-nya, dia akan ikut bekerja keras demi hasil yang lebih baik lagi.

menempa diri demi hasil yang lebih baik via www.deutschland.de

Walaupun rendah hati dan sederhana, soal mencapai target dia tak akan pernah lelah. Dia tak akan enggan menetapkan target yang tinggi pada tim-nya. Tapi bukan berarti ingin bersikap semena-mena, hal itu dilakukan justru dia tahu bahwa bawahannya punya potensi dan bisa memaksimalkan kemampuan diri.

Yang pasti, dia tak akan menentukan target tinggi tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Dia pun tak akan asal memerintah, tapi terjun dan terlibat langsung bersama timnya untuk menembus target itu. Seorang pemimpin juga tak akan asal mencapai target, tapi dia bekerja dengan metode dan sistem yang jelas.

5. Tanpa perlu berkoar-koar soal ambisi di depan anak buahnya, dia tetap bisa terlihat santai dan bersikap bijaksana.

santai tanpa perlu terlalu ambisius via nytechblog.com

Dimana kaki dipijak, disitu langit dijunjung. Pemimpin yang baik bisa menempatkan diri dan memahami sekitarnya. Sebelum bersikap, dia akan terlebih dahulu memahami karakter orang-orang yang terlibat dalam tim-nya. Apakah anak-anak buahnya memang lebih suka ditekan, atau justru dibiarkan berkembang tanpa tekanan?

Bagi seorang atasan yang baik, tak ada gunanya berkoar-koar soal ambisinya. Justru ebih baik menyampaikan hal-hal yang sederhana tapi bisa diterima oleh anak-anak buahnya. Dengan bersikap santai dan bijaksana, dia malah akan lebih dihargai oleh orang-orang disekitarnya.

6. Bos akan ringan membuat keputusan sendiri, sedangkan pemimpin yang baik tak akan segan mendengar pendapat bawahannya dalam forum diskusi.

musyawarah sebelum membuat keputusan via mashable.com

Di Indonesia, kita punya budaya musyawarah untuk mencapai mufakat. Jadi, pengambilan keputusan harus melewati diskusi antara pihak-pihak yang bersangkutan. Bahkan, kadang keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang terbaik, tapi yang paling banyak dipilih anggota musyawarah. Seorang atasan sekaligus pemimpin yang baik pasti sudah awam dengan hal itu. Bagi mereka, pantang membuat keputusan sendiri tanpa mendengarkan pendapat tim-nya dalam diskusi.

7. Tak malah memikirkan kepentingan diri sendiri, pemimpin yang baik itu bekerja demi tim yang ia bawahi dengan sepenuh hati!

rela meredam ambisi pribadi via skift.com

Seorang bos atau pemimpin harus punya cita-cita pribadi. Tapi, dia tahu cara menyeimbangkannya dengan kepentingan orang-orang dan organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya. Dia akan menyaari bahwa dirinya bisa mengembangkan perusahaan atau organisasinya dengan cita-cita itu — sehingga dia tak akan egois berusaha untuk diri sendiri saja.

Dia rela memberikan seluruh waktu dan tenaganya buat membangun organisasi atau perusahaan hingga benar-benar stabil. Dia pun akan berusaha memastikan bahwa sistem yang dia buat bisa tetap berjalan sekalipun dia pindah ke tempat lain atau pensiun nantinya.

Nah, gimana? Pernahkah kamu bertemu dengan atasan yang memiliki ciri-ciri di atas, atau justru sebaliknya? Bagaimana pengalamanmu berhadapan dengan atasan di tempat kerja atau organisasi yang kamu ikuti? Bagikan di kolom komentar, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya