Saat kamu masih remaja, putus cinta adalah soal biasa. Hari ini patah hati, bulan depan sudah tertawa lagi dengan tambatan hati yang baru. Tidak perlu ada penyesalan ataupun patah hati yang terlalu dalam. Karena dulu, cinta memang sesederhana itu.

Segalanya berubah ketika kamu memasuki usia 25. Apa yang dulu mudah kini menjadi luar biasa sulitnya. Kegagalan dalam hubungan yang kamu alami menjadi berlipat-lipat sakitnya, karena tak bisa dipungkiri banyak mimpi yang kamu titipkan di sana. Rasa kecewa yang membuat putus asa, serta kesadaran akan betapa sulitnya memulai yang baru membuatmu terpuruk begitu dalam.

Meski sekuat tenaga mencoba berjuang, apa yang mati-matian kamu pertahankan terkadang memang lebih baik dilepaskan

Memang harus dilepaskan via www.huffingtonpost.com

Segala sakit hati sudah kamu tahan. Segala pergolakan hati sudah kamu redam. Sakit yang berujung tangis juga seringnya kamu dengarkan sendiri di penghujung malam. Semuanya kamu coba untuk sangkal, karena kamu yakin bahwa ini adalah sebuah perjalanan untuk pendewasaan. Segala yang sudah ada, percuma untuk ditinggalkan begitu saja. Tapi toh, segala yang kamu usahakan mati-matian itu pada akhirnya harus dilepaskan. Meski air mata sebagai wujud rasa tak rela itu selalu ada, tapi tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan.

Sedih memang menghadapi kenyataan. Disaat yang lain sudah siap menapaki jenjang selanjutnya, kamu justru harus berkutat dengan segala luka

Pernikahan yang tinggal kenangan via www.brides.com

Advertisement

Tak jadi soal bila kini kamu masih anak remaja. Dengan seragam putih abu-abu yang selalu sigap menyambut hari baru dengan ceria. Sayangnya kini usiamu sudah 25. Sudah bukan masanya lagi untuk berganti-ganti pasangan karena harapan dan mimpi-mimpi yang kamu titipkan pada hubungan saat ini. Sudah saatnya kamu berhenti mencari dan menjaga apa yang sudah ada. Tapi begitulah kenyataannya. Ketika yang lain siap menapaki jenjang pernikahan, kamu justru harus mati-matian menyembuhkan luka. Ah, dunia ternyata bisa sekejam ini juga.

Bayang-bayang masa lalu tak juga berhenti mendera. Segala mimpi terbuang percuma, membuatmu bertanya: Bisakah kamu memulai semuanya dari awal lagi?

Bisakah memulai yang baru? via www.toptenpack.com

Kamu tahu bahwa obat serta solusi dari semua ini adalah memaafkan dirimu sendiri, dan bangkit untuk membuka lembaran baru. Lagipula, mustahil bila di antara miliaran orang di dunia, tidak ada satupun yang tepat untukmu. Tapi semuanya tentu tidak semudah itu. Pikiranmu bisa memanipulasi, tapi hatimu tidak bisa dibohongi. Mengingat masa lalu, kamu memikirkan ribuan mimpi tentang pesta besar di masa depan yang kini sudah terkubur dalam-dalam. Menatap masa depan yang kini seolah gulita, kamu merasa tak yakin cukup sabar untuk memulai segalanya dari awal.

Tapi bukankah seharusnya kamu justru merasa beruntung? Karena perpisahan itu tiba sekarang, bukan nanti ketika sudah ada ikatan pernikahan

Setidaknya perpisahan itu terjadi sekarang via www.huffingtonpost.com

Mari sejenak merenungkan diri. Segala luka dan kekhawatiran itu memang nyata. Sakit hati dan kekecewaan itu hanya kamu yang tahu rasanya. Tapi kamu lupa memikirkan satu hal. Barangkali saat ini, dibungkus oleh rasa marah dan kecewa, kamu merasa dunia tidak adil karena memisahkan kamu dan dia di saat-saat kalian seharusnya melangkah ke jenjang pernikahan. Tapi pikirkan lagi, bukankah bila memang harus berpisah, perpisahan itu lebih baik sekarang daripada nanti setelah pesta pernikahan digelar? Belajar mencari sisi positif dari segala yang negatif akan membuatmu mudah memaafkan dirimu sendiri.

Sakit memang. Tapi kamu hebat, berani mengakhiri segala “ketidaknyamanan yang nyaman” demi kehidupkan yang lebih baik di masa depan

Kamu hebat berani melepaskan via www.entrepreneur.com

Ingat-ingat lagi segala momen tidak menyenangkan yang kamu alami di belakang. Berapa kali kamu dan dia terlibat pertengkaran? Berapa banyak mimpi yang akhirnya kalian khianati sendiri? Bagaimana bisa kamu berharap sebuah hubungan yang bahagia di masa depan, bila yang kalian lakukan saat ini justru saling menyakiti?

Kamu hebat. Sungguh-sungguh hebat karena berani mengakhiri zona nyaman yang tidak nyaman itu. Kamu tahu usiamu sudah 25, dan keluarga sudah mulai gusar menunggu tanggal pernikahan. Tapi kamu tegak berdiri membuat keputusan. Toh, semuanya demi kebaikanmu sendiri, bukan?

Karena terkadang manusia tidak bisa menguasai hatinya. Apa yang mati-matian kamu suka, barangkali bukanlah yang tepat untuk hidupmu selanjutnya

Yang kamu suka belum tentu yang terbaik via www.whatsyourgrief.com

Mungkin kamu teringat pepatah, atau sebuah kata-kata bijak yang diberitahukan oleh ibumu di masa kecil dahulu. Terkadang apa yang begitu kamu inginkan, bukanlah hal yang tepat untukmu. Karena itulah, sekuat tenaga kamu berusaha, keberhasilan tidak pernah ada. Karena memang ada kuasa yang jauh lebih hebat daripada keinginan manusia.

Kamu mencintainya dan menginginkannya menjadi pendampingmu kelak. Tapi belum tentu dia memang orang yang terbaik untukmu. Segalanya akan lebih mudah bila kamu bisa berpikir sederhana: perpisahanmu dengannya saat ini, bisa menjadi jalan bagimu untuk menemukan orang yang terbaik itu.

Dari sini kamu belajar, tidak pernah ada perpisahan yang sepenuhnya sia-sia. Ada hikmah yang bisa kamu ambil untuk pelajaran di kesempatan kedua

Selalu ada hikmah, bila kamu mau mencarinya via leventhalmasters.tumblr.com

Bila kamu hanya melihat sedihnya, tidak ada apapun yang bisa kamu ambil pelajaran. Padahal tidak ada perpisahan yang sia-sia. Setidaknya kamu bisa mengambil banyak pelajaran dari kegagalan yang kamu alami sekarang, untuk kamu jadikan bekal di masa depan. Sebuah kesempatan kedua sudah tersedia di depan sana. Tapi bila kamu tidak berusaha memperbaiki diri dan menghindari kesalahan yang sama, kegagalan yang sama juga bisa terulang lagi.

Memulai lagi dari awal memang tidak pernah mudah. Tapi selama masih ada yang bisa diharapkan, tidak adil bukan bila menyerah sebelum berjuang?

Kembali memulai perjuangan via plus.google.com

Berat memang untuk memulai lembaran baru dengan orang yang baru. Apalagi bila hubunganmu dengan dia sudah terlalu lama dan orang tua sudah turut terlibat. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah merelakan. Biarlah mimpi-mimpi yang tertinggal itu terkubur menjadi kenangan. Tataplah ke depan, dan mulailah merancang perjuangan. Bukan hanya soal mencari pasangan baru untuk bersama-sama mengarungi hari tua, tapi juga berjuang memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik dan siap setiap harinya.

Jangan terlalu lama meratapi apa yang sudah terjadi. Berusahalah untuk melihat sisi positifnya. Untuk sesaat kamu terbebas dari urusan romansa, maka saatnya kamu untuk mengupgrade kualitas dirimu sepenuhnya. Sambil berjalan maju memperbaiki diri, sesekali mampir sejenak untuk mencari tambahan hati. Usia 25 memang beragam warna dan konsekuensinya. Tak seindah yang kamu bayangkan, bukan berarti sudah gagal selamanya. Lembar baru sudah siap kamu tulis, asal kamu punya tinta baru yang lebih tajam dan berkualitas.

Selamat berjuang ya!