Membalas Curhatmu: Quarter Life Crisis yang Membuat Kehilangan Arah di Usia 20-an

quarter life crisis

Saat masih kecil atau remaja dahulu mungkin ketika melihat orang berusia 20-an kita menatap mereka dengan penuh kekaguman; sudah bekerja, berpikiran dewasa, dan siap untuk dipinang. Lalu usia tersebut tahu-tahu menghampiri kita sendiri namun saat dijalani rasanya jauh sekali dari gambaran. Ada yang belum bekerja, bingung akan kemampuan diri sendiri dan minatnya ke mana, dan mulai merasa bahwa orang lain selalu lebih baik yang ujungnya membuat diri sendiri jadi insecure.

Advertisement

Kamu tak melaluinya sendiri, melalui Miscur edisi 13 Agustus 2020 kemarin banyak yang menceritakan perjuangannya melewati fase quarter life crisis ini juga. Banyak pula yang masih terjebak dan artinya kamu nggak sendirian. Simak yuk cerita mereka!

1. Berbeda dengan saat masih sekolah, saat usia sudah 20 tahun lebih maka kesepian sering datang belum lagi ditambah rasa bosan

Sebenarnya ada banyak daftar teman yang dipunya namun kesibukan kini telah berbeda, belum lagi ditambah pandemi Corona seperti ini yang membatasi ruang gerak dan jadi makin sulit untuk bertemu mereka. Kesepian kini tak peduli siang atau malam, ia selalu datang. Belum lagi rasa bosan karena di rumah saja, rasanya jadi seperti tidak berguna. Akan tetapi, masa ini sebenarnya justru bisa digunakan untuk kontemplasi dan semakin mengenali diri sendiri. Lagipula hiburan jadi makin mudah didapatkan. Alih-alih hanya melamun seharian, kamu bisa mulai melakukan hal yang kamu suka yang dulu sulit untuk dilakukan.

2. Setelah sekian lama terlewati ternyata masa lalu yang buruk cukup berpengaruh terhadap diri sendiri versi saat ini

Salah satu pembaca Hipwee bercerita bahwa orang tuanya bercerai beberapa tahun lalu, ia kemudian menjadi sosok yang lain ketika bepergian dengan teman-temannya. Yang dulunya baik-baik dan kalem, kini jadi lebih banyak bicara dan ‘ramai’. Lama kelamaan rasanya sulit menerima sikap tersebut tapi tetap saja sulit pula untuk mengubahnya. Sebenarnya selama hal ini tak menganggu aktivitas dan hubungan sosial maka tak apa untuk melanjutkannya menjadi sosok periang tersebut. Namun jika rasa tak nyaman jadi makin mengganggu maka sebaiknya lekas menemui psikolog untuk memperoleh arahan yang tepat barangkali traumalah penyebab hal tersebut.

Advertisement

3. Terlalu banyak melihat orang lain kadang memperkuat krisis yang sedang kita alami jadi makin buruk

Di usia ini pula kita jadi sering menengok mereka yang seumuran dengan kita lantas tanpa sadar membanding-bandingkan. Mulai dari membandingkan apa yang sudah dicapai sampai ada juga yang rela mengubah tujuan dan target hanya karena melihat unggahan seorang teman melalui media sosialnya. Barangkali hal ini terjadi karena kamu belum begitu mengenal diri sendiri, apa kemampuan yang dimiliki, dan apa target yang benar-benar diinginkan. Tak masalah melakukan banyak hal sekaligus untuk mengetahui mana hal yang kamu suka dan mampu melakukannya, lalu mengeliminasi hal yang lainnya. Ingat, kamu dan dia atau mereka memiliki latar belakang, kemampuan, hingga yang dihadapi berbeda, lantas kenapa targetnya harus sama?

4. Hidup rasanya seperti tak adil di saat tertentu, terkena pemutusan kerja sampai bisnis yang tak laku. Sebentar, jangan-jangan strateginya yang keliru

Di masa pandemi ini banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja yang membuat krisis dalam diri semakin menjadi-jadi. Karena sulitnya mencari pekerjaan pengganti akhirnya membuka bisnis sendiri adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, sayangnya ternyata sulit ada kemajuan. Akan tetapi, membuka bisnis memang tak bisa sembarangan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari terkait pemasaran dan produk seperti apa yang diminati. Ilmu ini bisa didapatkan di banyak sekali tempat, mulai dari webinar, Youtube, hingga mentor teman-teman yang sudah dulu terjun ke dunia bisnis.

Walaupun terasa berat dan semakin berat karena ruang gerak terasa terbatas, fase quarter life crisis ini bisa terlewati dengan baik jika kita tahu strateginya dan mau menerapkannya. Ambil setiap kesempatan yang datang dan kenalan lebih baik dengan diri sendiri. Tidak apa jika sulit untuk selalu berpikiran positif, tapi jika pikiran negatif datang kamu bisa mengalihkannya dengan cara yang lain seperti bercerita, tidur, atau bahkan nonton serial dan drama. Yuk bisa yuk!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE