Resign vs Bertahan di Kantor Toxic In This Economy, Mana Lebih Merdeka?

Bacaan buat kamu yang lagi dilema soal kerjaan dan kesehatan mental in this economy!

Di negara kita, Agustus selalu identik dengan kibaran bendera dan semangat kemerdekaan. Namun bagi pekerja yang setiap Minggu malam kepalanya mulai berdenyut membayangkan hari Senin, apakah makna “merdeka” itu beneran berlaku buat kita?

Antara nekat mengundurkan diri demi ketenangan batin atau tetap bekerja demi bayar tagihan di tengah kondisi ekonomi yang sulit, dilema resign vs bertahan ini memang nggak pernah punya jawaban mutlak karena sifatnya personal.

Biar kamu nggak terjebak galau berkepanjangan, yuk lihat perbandingannya secara realistis yang bisa kamu jadikan pertimbangan!

Mempertimbangkan Resign vs Bertahan dari Sisi Keuangan

hipwee-Mempertimbangkan Resign vs Bertahan dari Sisi Keuangan

Pilih resign atau bertahan di lingkungan toxic kerap jadi dilema | Foto via Canva @89Stocker @AlpamayoPhoto

Soal kondisi finansial dari hari ke hari, keputusan mengajukan surat pengunduran diri atau memilih bertahan bakal ngasih dampak emosional yang beda jauh.

Kalau kamu milih lepas dari pekerjaan, rasa lega jelas langsung datang karena terbebas dari tumpukan beban kerja yang menguras emosi. Tapi ingat, kalau langkah ini diambil tanpa dana darurat yang aman, kebebasan itu bisa berubah cepat jadi financial anxiety, lho.

Mungkin rasanya akan bebas di bulan pertama, tapi bulan-bulan berikutnya kamu mulai panik tiap melihat saldo rekening makin menipis di tengah pasar kerja yang ketat.

Sebaliknya, kalau kamu memilih bertahan, arus kas bulananmu dipastikan aman. Tagihan rutin, cicilan, dan biaya hidup terbayar lancar tanpa bikin cemas di awal bulan.

Minusnya jelas: kamu harus tetap berhadapan sama lingkungan kerja tidak sehat. Tapi secara pragmatis, gaji bulanan ini berfungsi sebagai backup finansial yang ngasih kamu daya tahan selagi menyusun strategi keluar secara diam-diam.

Menyelamatkan Mental Secepatnya atau Belajar Cuek di Kantor

hipwee-Menyelamatkan Mental Secepatnya atau Belajar Cuek di Kantor

Kesadaran akan kesehatan mental saat kerja nggak boleh disepelekan | Foto via Canva @charliepix

Nah, kalau ngomongin kesehatan psikologis, pertimbangannya sangat bergantung pada seberapa kuat batas toleransi stres yang masih bisa kamu terima saat ini.

Memilih keluar jelas jadi keputusan paling masuk akal kalau tempat kerjamu sudah menunjukkan sinyal red flag yang nyata. Misalnya hak gaji sering menunggak, ada perundungan, atau stresnya mulai merusak fisik.

Kalau kamu sampai insomnia kronis atau asam lambung kumat tiap melihat pesan atasan, menyudahi hubungan kerja bukan lagi soal ego, melainkan bentuk pertolongan pertama buat menyelamatkan diri sendiri.

Sementara itu, bertahan masih memungkinkan kalau kamu punya kemampuan quiet detachment yang oke. Artinya, kamu tetap bekerja profesional sesuai job description dan standar kantor, tapi berhasil menutup rapat pintu emosimu dari drama yang ada.

Kerjakan tugas secukupnya, matikan notifikasi begitu jam kerja usai, dan jangan pernah memasukkan perlakuan buruk atasan ke dalam hati.

Advertisements

Peluang Dapat Kerja Baru Setelah Resign dan Saat Masih Bekerja

Peluang Dapat Kerja Baru Setelah Resign dan Saat Masih Bekerja

Mencari pekerjaan baru saat masih bekerja bisa jadi solusi | Foto via Canva @zimmytws’s Images

Melihat peluang di pasar kerja saat ini juga butuh sudut pandang yang jernih biar kamu nggak salah melangkah. Dalam situasi resign vs bertahan, memutuskan mengakhiri masa kerja ngasih kamu keleluasaan waktu yang utuh.

Kamu bisa mengambil jeda career break untuk memulihkan energi, mengasah keahlian baru, atau menata ulang portofolio tanpa terganggu revisi tiap hari. Hanya saja risikonya jelas, yaitu proses rekrutmen saat ini sering makan waktu lebih lama dari perkiraan, jadi kamu harus siap menjelaskan jeda kekosongan di CV ke recruiter nanti.

Sebaliknya, kalau memilih bertahan, kamu punya kesempatan melancarkan taktik silent job hunting alias melamar kerjaan baru secara gerilya di luar jam kantor selagi masih berstatus karyawan.

Keuntungan terbesarnya ada pada posisi tawar yang jauh lebih kuat saat wawancara dan nego gaji. Kamu nggak bakal gampang terdesak menerima penawaran gaji rendah cuma gara-gara butuh uang cepat buat menyambung hidup bulan depan.

Ke Mana Energimu Habis Setiap Hari

Ke Mana Energimu Habis Setiap Hari

Pertimbangkan juga tentang energi yang kamu habiskan setiap hari | Foto via Canva @Ivan S

Hal terakhir yang nggak kalah penting adalah menghitung seberapa banyak sisa energi harian yang masih kamu miliki buat melangkah ke depan.

Dengan menyudahi pekerjaan saat ini, seluruh energi harianmu utuh sepenuhnya buat dirimu sendiri. Kamu bisa memakai tenaga itu buat membangun proyek personal, merintis usaha sampingan, atau mencari peluang freelance tanpa terhambat rasa lelah fisik dan mental dari tekanan kantor.

Tapi kalau memilih bertahan, kamu harus siap dengan realita bahwa sebagian besar energimu bakal habis sekadar buat membentengi diri setiap hari di kantor.

Sering kali, pekerja di lingkungan yang buruk sudah kehabisan tenaga begitu sampai rumah, sampai-sampai sisa energi buat memperbarui CV, melamar kerja baru, atau sekadar istirahat dengan tenang jadi tipis banget.

Mana Pilihan yang Paling Merdeka Buatmu?

Setelah melihat realita dari sisi keuangan, mental, karir, hingga energi yang kamu habiskan, jelas bahwa resign vs bertahan nggak pernah punya satu jawaban yang mutlak benar atau salah. Dua-duanya sama-sama pilihan yang valid.

Jadi, nggak usah pusing mendengarkan kata orang, baik yang menyuruh nekat melayangkan surat resign, maupun yang melarang keluar di tengah kondisi ekonomi saat ini. Orang lain nggak pernah tahu seberapa tebal tabunganmu, atau seberapa lelah batinmu setiap hari.

Lagipula, bentuk kemerdekaan buat setiap orang itu beda-beda. Baik memilih keluar demi kewarasan atau bertahan demi kepastian finansial, selama itu kamu putuskan secara sadar lewat perhitungan yang matang, kamu sudah memerdekakan dirimu sendiri kok. Semoga pembahasan tentang resign vs bertahan in this economy ini membantu, ya.

Selanjutnya, kamu bisa baca artikel menarik tentang hal yang mengubah pandanganmu soal single di umur 25 hanya di Hipwee.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.