Surat Kecil Untuk Tuhan — Soal Jodoh, Masa Depan, dan Berbagai Kecemasan

Hey Tuhan, semoga di tengah kesibukanmu mengurusi berbagai hal kamu punya waktu untuk mendengar. Ijinkan kali ini aku duduk di sampingMu. Bersandar manja sesaat di bahuMu. Sebab kadang aku tidak tahu bisa dapat kekuatan dari mana lagi selain dari situ.

Advertisement

Makin dewasa, hidup ternyata tidak jadi lebih mudah ya Tuhan? Sampai hari ini aku masih belum mengerti soal banyak hal. Mau jadi apa, harus membawa hidup ke arah mana, sampai kelak berbagi hidup dan bercinta dengan siapa. Tapi satu yang pasti — aku tahu Kamu ada.

Kau satu yang selalu bertahan di akhir hari. Walau jelas mengurusiku kadang mengesalkan sekali

Aku jelas layak untuk diperlakukan lebih baik dari kamu dulu

Kamu bertahan. Meski aku menyebalkan via sdphotography.co.uk

Tidak mudah punya hamba seperti aku ini, Tuhan. Banyak mintanya. Sedikit perbuatan baiknya. Jarang pula menyapaMu di waktu yang seharusnya sudah jadi kesepakatan kita bersama. Sementara Kamu selalu datang dengan berlari saat dipanggil, aku baru datang setelah sakit hati sampai menangis hingga menggigil.

Namun kamu selalu ada. Janjimu adil.

Advertisement

Dengan tingkat konsistensi macam ini, aku yakin Kamu lah yang layak jadi sandaran di akhir hari. Bahkan kawan terbaik pun bisa meninggalkan dan mengkhianati. Keluarga sedarah bisa membuat sakit hati. Tapi Kamu selalu murah hati dan sabar sekali. Sampai memilih untuk tidak pergi.

Saat ini aku belum tahu sedang Kau bawa ke mana. Tapi sederhana saja. Tolong ajari aku percaya bahwa Kau punya rencana

Cinta ini diperjuangkan sekuat yang kalian bisa

Tolong ajari aku percaya. via junebugweddings.com

Kadang saat melihat road map hidupku aku sering tertawa geli. Mau Kau bawa ke mana aku ini? Rasa-rasanya jika hidupku ini CV berbagai kegiatan di dalamnya sudah tidak bersinggungan sama sekali.

Advertisement

Kamu membiarkanku menjajal banyak hal. Menceburkanku dalam berbagai kegiatan agar aku makin tangguh dan pejal. Di situ banyak orang anyar yang kukenal. Kesempatan baru terbuka, kemudian jalan hidup terasa makin absurd saja.

Bukan cuma sekali aku bertanya. Sesungguhnya Kamu ini punya rencana apa? Kenapa kamu membiarkanku masuk ke Jurusan Teknik, bukan Seni. Jika di akhir hari main gitar dan berpuisilah yang jadi sumber ketenangan hati. Kenapa Kamu membiarkanku masuk ke pekerjaan yang harus perlahan merintis semua dari nol bersama-sama, bukannya ke perusahaan stabil yang sudah ternama?

Ah…tapi kuminta tolong buat aku selalu percaya bahwa Kamu selalu punya rencana.

Kuserahkan urusan masa depan, tetek bengek kecemasan, sampai soal dia yang kelak bisa diajak berbagi beban. BahuMu kuat Tuhan. Aku yakin Kamu tak keberatan

Waktu berharga tak akan disia-siakan untuk sekadar bertengkar

Aku yakin Kau tak keberatan via rweddingphotography.tumblr.com

Akan kutangguhkan kegemaranku mengeluh di sosial media. Curhat sana-sini agar mendapat perhatian. Karena sesungguhnya bahuMu sudah cukup jadi sandaran.

Mulai saat ini kuringkas semua kecemasan yang bertengger di hatiku. Kecopoti berbagai pertanyaan yang masih bergelanyut di ujung pintu. Kemudian menyerahkan semua pertanyaan-pertanyaan itu padaMu.

Ini hakMu Tuhan, hendak membentukku dengan cara macam apa. Mau Kau putar-putar dalam roller coaster hingga nanti aku paham apa ujungnya pun tak berhak aku menolaknya. Akan kubungkam mulut, kusimpan keluh, lalu mengikuti jalurnya saja. Kali ini aku ingin belajar jadi Hamba yang lebih berserah. Lebih percaya.

Aku ini kadang sok tahu. Sementara Kau agen kepercayaan nomor satu. Tolong jangan bosan atau pergi dulu. Aku akan selalu membutuhkanMu

Kalian malah belajar cara lain untuk tetap jatuh cinta

BahuMu kuat, Tuhan via www.goodafternoonphotography.com

Di luar sana boleh terjadi perubahan rezim besar-besaran. Atau sesederhana banyak dari mereka yang dengan mudah berganti pasangan. Tapi kuharap Kamu tidak mudah bosan. Mau bertahan di sisi. Terus mendengar dan membuka diri hingga akhir hari.

Jelas tidak mudah jadi Kau, Tuhan. Mengurusi Hamba-hamba nakal, usil, dan banyak minta macam aku. Tapi senakal apapun aku, toh di ujung hari aku akan selalu kembali padaMu.

Tolong jangan bosan atau pergi dulu. Sampai kapanpun aku akan terus membutuhkanmu.

Salam sayang,

Hamba yang kadang nakal — tapi mencintaiMu

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat puisi dan penggemar bakwan kawi yang rasanya cuma kanji.

133 Comments

  1. Abdul Qohhar berkata:

    Tulisannya saya suka mba…
    Enak dinikmati..tapi satu yang klo boleh dikoreksi.. Walaupun ini ceritanya bersahabat dengan Tuhan.. Tapi klo pake kata2 kamu ke tuhan kayanya gak enak dibaca.. Pake aja kata KAU….

  2. Penulisan mengenai Tuhan seharusnya diawali huruf kapital dan lebih bgs lagi bila kamu diganti dg kata yg lebih menunjukkan penghambaan #saran
    Isinya sungguh menghujam jantungku sebagai hambaNya #smg kita semua bs terus berusha mnjadi lebih baik demi Dia aamiin

  3. Khalil ZK berkata:

    Yap bener…apalagi dgn kata hey…

  4. Cici Rahayu berkata:

    Dia bukan hanya Tuhan penguasa dan pencipta alam semesta. Akan tetapi Dia juga adalah kawan, sahabat, ayah, bunda, saudara bahkan kekasih. Dia tidak hanya perlu dihormati dan ditakuti, tapi Dia juga harus dicintai, disayangi bahkan di akrab-in.
    Bersikaplah hormat kepadaNya selayaknya kamu hormat kepada ayah bunda mu. Bersikaplah akrab kepadaNya selayaknya kamu akrab dengan kawan dan sahabat mu. Cintai dan sayangi Dia selayaknya kamu mencintai dan menyayangi kekasih mu. Akan tetapi tetap patuh dan takut kepadaNya karena Dia pencipta dan penguasa alam semesta ini.

  5. Nazar Gusmao berkata:

    Mba, artikelnya bagus bangat.. saya suka

  6. Yanuar Bonbon berkata:

    Mba nendra tulisanya selalu bagus

  7. Adolf berkata:

    I love you Nendra

  8. Ebot Ebott berkata:

    Bagus sekali mba tulisannya.seorang hamba yang yakin sekali pada kuasa tuhannya (iman).
    Tapi sedikit saran mba,diawal tulisan ada kata2 kalau kau punya waktu untuk mendengar,,saya yakin ini hanya bagian dri seni berkata2,dan saya sangat yakin kita smua percaya bahwa allah maha mendengar dan akan slalu punya waktu mendengar hambanya..soalnya kalau menurut saya kata2 diawal tulisan terkesan meragukan allah maha mendengar,tapi saya yakin ini hanya masalah kata2 nya saja..

    Makasi mba tulisannya menyentuh sekali

  9. Arif Adi S berkata:

    mantab mbak rengganis, semoga semakin bagus lagi artikelnya. menusuk sekali rasanya. terkadang memang perlu selentingan seperti ini utuk orang seperti saya

  10. akan lebih sopan lagi jika digunakan pake kata ENGKAU..

CLOSE