“Kalau kerja itu yang totalitas. Nanti hal-hal baik akan mengikuti di belakangnya.”

Kamu mungkin sering mendengar nasihat seperti itu. Dengan bekerja secara maksimal, kamu akan mendapat kebaikan-kebaikan di belakangnya. Seperti promosi dan kenaikan jabatan, bonus besar di akhir bulan, pun citra yang baik di mata rekan kerja dan atasan. Tapi totalitas kerja itu yang seperti apa sih?

Advertisement

Apa harus memberikan seluruh waktu untuk kantor dan selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan agar disebut berdedikasi? Apa harus rela lembur setiap hari dan akhir pekan? Atau harus rela mengerjakan semua hal bahkan yang bukan pekerjaanmu? Itu sih bukan totalitas, tapi sengaja nyiksa diri sendiri. Nggak perlu emosi begitu, cek dulu yaa perbedaan selengkapnya di sini.

1. Totalitas dalam bekerja itu memanfaatkan waktu dengan efektif sehingga semua pekerjaan selesai tepat waktu. Sementara yang hobi nyiksa diri lebih suka main-main di jam kerja dan harus lembur setelahnya

memanfaatkan jam kerja via pixabay.com

Salah satu tanda totalitas dalam bekerja adalah efektif dalam memanfaatkan waktu. Saat menandatangani kontrak kerja, kita pasti diberi tahu berapa lama waktu kerja setiap harinya. Misalkan 8 jam per hari, maka selama itulah kamu dibayar untuk melakukan pekerjaan.

Kamu yang totalitas pasti tahu kapan harus bekerja kapan harus haha-hihi dengan teman. Sehingga pekerjaan bisa selesai tepat waktu karena kamu efektif memanfaatkan waktu. Sementara yang sengaja menyiksa diri lebih suka haha-hihi dalam jam kerja, sehingga pekerjaan terabaikan. Pada akhirnya, mengeluh karena harus lembur sampai malam untuk menyelesaikannya.

2. Totalitas dalam bekerja memberi ruang pada diri untuk berkembang sehingga lebih efektif dalam bekerja. Yang hobi nyiksa diri hanya memberikan waktu untuk kantor supaya dianggap berdedikasi

punya waktu untuk mengembangkan diri via pixabay.com

Advertisement

Totalitas juga nggak ditentukan dari seberapa banyak waktu yang diberikan untuk berada di kantor. Dia yang lembur sampai malam pun belum tentu lebih produktif yang selalu pulang tepat waktu. Dia yang total dalam bekerja juga akan memberi ruang untuk pengembangan diri sendiri. Misalnya dengan pulang tenggo supaya masih punya waktu 2 jam setiap harinya untuk membaca buku dan atau belajar untuk mengupgrade skill diri.

Kalau skill berkembang, tentunya efektifitas dalam bekerja juga bukan? Hasilnya pun lebih maksimal. Sementara yang hobi menyiksa diri sendiri, menghabiskan lebih banyak waktu di kantor dengan alasan harus lembur sampai tak punya waktu untuk melakukan hal-hal positif lainnya.

3. Totalitas dalam bekerja selalu memberikan yang paling maksimal dari apa yang ditugaskan. Jadi nyiksa diri sendiri kalau kamu dengan sukarela mengambil tanggung jawab orang lain

bekerja sesuai jobdesc via pixabay.com

Totalitas dalam bekerja juga dilihat dari sebatas mana profesionalitas yang dipunya. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana menerima jobdesc. Orang yang profesional pasti tahu bahwa jobdesc dibagi-bagi karena tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang sendiri. Jadi, yang harus dilakukan adalah memberikan skill yang maksimal agar jobdesc yang diberikan bisa diselesaikan dengan maksimal.

Tapi beda lagi ceritanya kalau kamu merelakan diri membackup semua pekerjaan orang di divisimu. Alasanmu sih, biar cepat kelar dan hasilnya maksimal. Padahal, setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing. Totalitas tak berarti mengambil tanggung jawab orang lain kok.

4. Totalitas dalam bekerja bisa menyusun prioritas pekerjaan sesuai tingkat urgensinya. Yang hobi nyiksa diri lebih suka kelabakan mengerjakan semuanya secara bersamaan

tahu prioritas via pixabay.com

Menyusun skala prioritas bisa membantu pekerjaan jadi terstruktur. Karena kadang banyak pekerjaan yang datang di saat yang bersamaan. Yang ada kamu jadi bingung sendiri mana yang harus dilakukan duluan. Nah, totalitas bisa dilihat dari kemampuan menyusun skala prioritas pekerjaan sesuai urgensinya. Dengan begitu, semua pekerjaan bisa diselesaikan sesuai kebutuhannya.

Sebaliknya, tanpa mengatur skala prioritas, kamu akan pusing karena merasa semua harus dikerjakan bersamaan. Belum lagi kadang masih ditambahi mengerjakan tugas orang lain karena dimintai tolong dan tak enak menolak. Alhasil, pekerjaan sendiri terbengkalai. Duh, ini sih bukan totalitas lagi namanya, tapi emang sengaja menyiksa diri sendiri.

5. Totalitas dalam bekerja tetap memberi ruang untuk jaga kesehatan. Yang hobi nyiksa diri akan terus memforsir diri dengan alasan selagi bisa dan “toh belum sakit ini”

tetap peduli kesehatan via pixabay.com

Totalitas dalam bekerja bukan berarti meletakkan pekerjaan di atas segala-galanya kok. Bukan berarti kamu harus memaksa tubuhmu untuk terus bekerja lembur asalkan belum tumbang dan sakit. Totalitas dalam bekerja tentu tahu bahwa untuk memberikan kinerja yang maksimal, kesehatan harus dijaga.

Totalitas dalam bekerja juga bukan berarti rela memaksakan diri ke kantor saat sedang flu berat. Yang ada kamu nanti justru merepotkan banyak orang atau menularkan virus ke semua orang. Intinya, totalitas dalam bekerja berarti tahu batasan diri sampai mana dan tidak memaksakannya karena tahu bahwa dampaknya bisa lebih berbahaya.

Dalam bekerja memang harus total. Bukan hanya demi karier yang cemerlang, tapi juga pengembangan diri sendiri agar lebih andal. Tapi caranya bukan dengan menyerahkan hidup sepenuhnya untuk pekerjaan kok. Bukan dengan cara rela mengerjakan apa pun termasuk tanggung jawab orang untuk membuat segalanya sempurna. Itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Jangan lupa bahwa salah satu bentuk mencintai diri sendiri adalah dengan memberikan work-life balance yang layak. Tubuhmu juga butuh istirahat. Kamu juga butuh bersenang-senang. Bukan egois, hanya saja kamu harus lebih menyayangi dirimu sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya