Diriku sendiri,

Selamat pagi.

Advertisement

Jangan memutar bola matamu dengan sinis dulu melihat surat ini. Aku tahu, kau tak suka “kejutan” barang sedikit pun. Tentu kau tak menyangka aku akan berbicara padamu hari ini. Lewat sebuah surat, apa lagi.

Begini perkaranya. Aku hanya ingin mengembalikan sosokmu yang lebih ceria. Sudah beberapa saat ini, ia menghilang entah ke mana. Tentu ia bukannya raib selamanya?

Aku tahu apa yang jadi beban pikiranmu. Aku mengerti, lebih dari manusia manapun di dunia ini. Dan aku bersimpati, lebih dari siapapun yang kau punya di sisi.

Advertisement

Tapi maukah kau memaafkan yang telah lalu, apapun kesalahan yang kau perbuat itu? Aku datang dari masa depan, dari hari yang baru. Aku datang, karena sifatku yang rasional dan tenang ini tak akan “terjadi” — sosok yang pesimis dan penggerutu akan menggantikanku — jika kau tak juga mau memaafkan dirimu. Karena itu, kumohon, bangkitlah dan berdiri. Bukan hanya untuk masa depanmu nanti. Melainkan juga demi mengkonservasi diri.

Toh tak ada orang yang bisa berjalan dengan sempurna. Sejak balita, jatuh, tersandung dan bilur itu biasa

Jatuh itu biasa. Jatuh itu niscaya

Jatuh itu biasa. Jatuh itu niscaya via www.youtube.com

Yang kau lakukan di masa lalu memang tak mudah dilupakan. Memutarnya lagi dalam kepala, masih ada rasa sesal bercampur keinginan untuk melakukan tindakan yang berbeda. Lebih hati-hati, agar tak melukai perasaan orang lain. Lebih rajin, agar tak gagal mencapai apa yang sudah lama kau cita-citakan.

Kau memang tak sempurna. Lututmu luka-luka, jempol kakimu dimasuki pecahan kaca — karena kau tak selalu bisa berhati-hati dalam menjalani hari. Hingga sekarang kau masih merasa sakit karena baret di sekujur kaki. Namun, ini bukan alasan untuk berhenti berjalan sama sekali. Dengan duduk-duduk saja dan enggan bangkit lagi, kau tak sedang membantu diri sendiri.

Perjalananmu memang tak sempurna. Kau pun pernah tersesat karena gegabah dan keras kepala. Namun tak ada orang yang tak melakukan kesalahan selama hidupnya. Kau paling tahu: sejak balita, jatuh, tersandung dan luka-luka itu biasa.

Dengan sengaja tak memaafkan diri, sebenarnya kau justru menambah lukamu lagi

Dengan berpaling, sebenarnya kau menambah luka sendiri

Dengan berpaling, sebenarnya kau menambah luka sendiri via www.flickr.com

Mungkin kau ingin menunjukkan rasa sesal karena kesalahan yang dirimu lakukan. Memperlihatkan pada orang lain, kau sadar telah bersalah, dan pantas diganjar hukuman yang setimpal. Namun pikirkanlah sekali lagi: apakah kesalahanmu ini memang sebesar itu, hingga layak merusak masa depanmu?

Kau tak menolong siapapun dengan terus menyesali keadaan. Masa lalu ada agar dirimu lebih baik di masa sekarang, bukan agar kau berubah jadi masokis perlahan-lahan.

Bangkitlah dan berdiri. Ada banyak hal baik yang sudah menunggumu di sini.

Aku menjalani hidup yang nyaman. Namun diriku akan punah jika sekarang kau tak mau memaafkan

Hidupku nyaman, namun akan hilang kalau kau tak memaafkan

Hidupku nyaman, namun akan hilang kalau kau tak memaafkan via discoverpetrichor.tumblr.com

Di masa depan, kau bisa menjalani hidup yang nyaman. Ada pekerjaan yang membuatmu merasa tercukupi, baik dari segi pundi maupun kebutuhan emosional. Keluarga tetap tulus menyayangimu, apapun yang dulu pernah kau lakukan. Teman-teman yang sempat meninggalkanmu kini tak segan menyapamu lebih dulu lewat chat dan media sosial. Itu karena ternyata, mereka masih perhatian.

Namun kenyamanan ini tak akan kau dapatkan di masa depan jika kini dirimu masih meratapi kesalahan yang dulu dilakukan. Diriku yang sekarang akan punah, digantikan seseorang yang berpandangan suram dan penuh syak pada orang-orang — digantikan seseorang yang jauh dari kata menyenangkan. Tentu bukan orang seperti itu yang kau inginkan jadi dirimu?

Masih ada kesempatan. Aku sengaja datang dari masa depan, karena yakin kau masih bisa bangkit dan tak lagi meratapi kesalahan.

Memang memaafkan diri sendiri bisa jadi hal tersulit di dunia ini. Namun kau punya kemampuan besar — akankah itu kau sia-siakan?

Ikuti aku?

Ikuti aku? via jetsettimes.com

Diriku tersayang,

Dunia sudah penuh dengan kepedihan. Andai kau tak fokus pada lukamu sendiri, kau bisa mengulurkan tangan membantu mereka yang punya luka lebih dalam. Ada sisi penolong dari dirimu — tidakkah kau rindu menjadi sosok yang kuat dan bisa membantu?

Memang, memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit dari mengampuni kesalahan orang lain. Melakukan kesalahan adalah sama dengan mengkhianati ekspektasi, dan luka yang kau rasakan akan jauh lebih besar saat yang mengkhianati adalah dirimu sendiri.

Tapi kau punya kemampuan yang besar. Aku mengenalmu sebagai gadis cerdas yang tak mudah patah arang. Sekali ini, buktikan kau memang menyimpan kekuatan.

Ribuan kebaikan menantimu dari masa depan. Tak sabar menunggu pemiliknya datang.

Ikuti aku? Akan kita jemput mereka dengan riang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya