Sejak kemunculan difteri pada bulan November 2017, Kementrian Kesehatan menetapkan wabah tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Data kementrian kesehatan mencatat terdapat 95 kabupaten dan kota di 20 provinsi telah melaporkan kasus tersebut. 32 kasus diantarnya berstatus meninggal dunia.

Difteri termasuk pada jenis penyakit re-emerging disease yaitu sebuah istilah untuk penyakit lama yang muncul kembali dan mewabah. Menurut Soedjatmiko, kemunculan difteri disebabkan oleh tidak lengkapnya vaksin DPT yang diberikan terhadap anak ketika berusia 2 bulan-6 tahun.

Advertisement

Wabah yang terus meningkatkan jumlah kasusnya membuat masyarakat harus semakin waspada dan memahami karakteristik penyakit difteri, sejauh mana tingkat bahaya dan dampaknya pada keluarga. Dibawah ini terdapat 5 hal yang harus diketahui mengenai difteri

1. Lakukan imunisasi untuk memutus mata rantai

Difteri masuk dalam kategori penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, Imunisasi merupakan bentuk pencegahan paling cost-effective mengingat fungsinya yang efektif terhadap pemutusan mata rantai penyakit. Masyarakat tinggal mengunjungi puskesmas dan faskes lain untuk mendapatkan pelayanan tersebut.Imunisasi yang diwajibkan oleh Kementrian Kesehatan untuk mencegah wabah difteri adalah DPT (difteri, pertussis, tetanus) yang diberikan pada anak usia 2 bulan -6 tahun sebanyak 3-5 kali. 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

Advertisement

2. Agen penyakit dan gejala

Corynebacteriun Diphteriae merupakan bakteri yang menginfeksi saluran pernafasan terutama bagian tonsil dan nasofaring. Racu yang dihasilkan bakteri ini akan membentuk lapisan tipis (membran) berwarna abu-abu sebagai akibat matinya sel sehat dalam hidung dan tenggorokan. Jika tidak segera dilakukan pengobatan, lapisan ini akan menyumbat pernapasan dan menyebabkan peradangan di paru.

Penularannya melalui droplet batuk dan bersin, kontak langsung dengan penderita dan udara yang terhirup yang terkontaminasi bakteri. Gejala difteri mirip dengan gejala flu yaitu radang saluran nafas, terbentuk selaput putih dan mudah berdarah di tenggorokan. Difteri juga menimbulkan demam dengan kisaran suhu 38◦C, sakit ketika menelan, adakalanya disertai dengan sesak napas dan suara pera. Jika menemukan tanda-tanda seperti segera ke faskes terekat ya, karena sejatinya early diagnostic

3. Dapat menyerang orang dewasa

Ditemukannya kasus difteri pada orang dewasa Kementrian kesehatan menyebutkn bahwa faktor yang mempengaruhi kasus tersbut adalah tidak lengkapnya imunisasi dasar yang diberikan kepada mereka ketika kecil. Orang dewasa berumur lebih dari 40 tahun dapat menjadi kelompok rentan terhadap penyakit ini. Selain itu disebutkan juga bahwa saat ini Indonesia belum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa.

4. ORI ( Outbreak Response Immunization)

Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan kasus difteri tertinggi. Di Banten terdapat 63 kasus dengan 9 kematian, DKI Jakarta terdapat 22 kasus, dan Jawa Barat terdapat 123 kasus dengan 13 kematian yang tersebar di 18 Kabupaten/Kota. kasus terbanyak ada di Purwakarta dengan 27 kasus disusul karawang dengan 14 kasus.

Berdasarkan data tersebut, Depkes akan melakukan program ORI (Outbreak response Immunization) terhadap 3 provinsi diatas. ORI merupakan suatu respon cepat terhadap KLB difteri yang dilakukan degan pemberian imunisasi terhadap yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT/Td kepada semua anak berumur 2 bulan. ORI dilakukan dengan 3 putaran. Putaran pertama akan dilaksanakan pada 11 Desember 2017, putaran kedua 11 januari 2017 dan 11 Juli 2018.Tempat pelaksanaan kegiatan adalah di sekolah, Posyandu, Puskesmas, RS dan faskes lainnya.

5. Pencegahan

Difteri termasuk penyakit yang mudah menular, dengan melakukan pengecekan dan pemeriksaan dini terhadap diri sendiri dan keluarga dapat menurunkan keparahan terhadap bahaya difteri dan penularannya. Tanamkan rasa peduli terhadap diri sendiri. Semakin cepat pemeriksaan dan pencegahan semakin banyak jiwa yang akan tertolong dengan langkah kita. Jadi Yuk ! Mulai peduli sama diri sendiri ya, jangan tunggu sampai sakit dulu baru berobat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya