Berbicara tentang hati dan perasaan itu merupakan misteri

Tidak ada yang tahu persis bagaimana isi hati kita

Advertisement

Bahkan diri kita sendiri


Dari awal aku memutuskan untuk mengiklaskan kamu, jujur butuh waktu dan proses untuk aku benar-benar bisa ikhlas akan kamu. Ikhlas akan kenyataan bahwa aku hanya bisa mencintaimu dalam diam. Pada saat itu aku memutuskan untuk menjaga jarak antara aku dan kamu, menjaga jarak agar aku bisa benar-benar ikhlas menerima kondisi ini.

Hampir dua bulan aku tidak menghubungimu, bahkan untuk tahu kabarmu saja aku mengurungkan niatku. Dalam dua bulan tersebut perlahan aku mulai bisa untuk menerima dan cenderung untuk melupakan kenangan bersamamu. Aku mulai menikmati dunia dan kegiatan baruku. Boleh dibilang aku sudah mulai ikhlas untuk bisa melepasmu. Aku berpikir bahwa yang terpenting adalah bisa melihatmu bahagia, walau kebahagianmu pun bukan denganku.

Advertisement

Bayangan akan dirimu kadang masih terlintas di benakku, tapi aku berusaha untuk tak ambil pusing akan bayangan itu. Hingga tiba waktu di mana kenangan dan bayang akan dirimu hadir lagi dalam hidupku. Ya, entah ada angin apa tiba-tiba saja kau kembali muncul ketika aku sudah bisa melupakanmu. Kepercayaanku pun menjadi ragu dan goyah sejak kau kembali hadir mewarnai hari-hariku.

Jujur saja saat itu aku sangatlah bimbang. Di satu sisi aku sungguh ingin mengikhlaskanmu, namun di sisi yang lainnya aku tidak munafik bahwa aku juga masih ingin bisa bersamamu. Pada akhirnya aku memilih untuk menjalani saja apa yang ada. Aku mencoba untuk bersikap biasa saja kepadamu, bersikap seolah-olah aku baru mengenalmu.


Kita tidak akan pernah benar-benar berhenti mencintai seseorang

Kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka


Hari demi hari kita lewati, hubungan kita pun semakin dekat (lagi). Jujur aku ragu untuk melanjutkannya, aku takut jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sikapmu yang sekarang ini sungguh berbeda, kamu yang sekarang sangatlah terbuka, hangat dan lebih perhatian kepadaku.

Hal ini yang membuatku takut untuk bersikap yang sama kepadamu. Sebelum semuanya terlambat aku memutuskan untuk bersikap biasa saja kepadamu, walau sejujurnya diri ini sangat ingin untuk bisa menyayangimu dalam terang.

Singkat cerita tibahlah hari di mana aku harus kembali ke kota perantauanku. Terpisahkan oleh jarak juga membuatku bimbang, apakah aku harus bahagia karena akan berusaha untuk melupakanmu atau aku akan memendam rindu yang amat dalam. Sehari sebelum aku pergi kamu memintaku untuk bisa menghabiskan sehari saja bersamamu. Aku pun menyanggupinya dan sungguh itu merupakan salah satu hari terbaikku selama hidup di dunia ini.

Kamu benar-benar mewarnai hari itu hingga kamu mengatakan sesuatu yang membuatku untuk berhenti bernafas sesaat. Di bawah lembayung senja dan ditemani deburan ombak, kamu mengatakan hal yang selama ini aku nanti. Antara percaya dan tidak percaya aku menyambutnya dengan bahagia.

Penantianku selama ini pun berujung dengan kebahagiaan. Walau sekarang jarak memisahkan kita, aku percaya akan tiba saatnya kita bersama dan mengukir mimpi-mimpi kita. Kita memang tidak akan pernah tahu jalan apa yang Tuhan siapkan hingga tibalah waktunya. Buah dari kesabaran dan keikhlasan memang tidak akan pernah sia-sia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya